Virus Nipah Belum Ada Vaksin, Begini Cara Efektif Cegah Penularannya!
Seiring dunia menghadapi berbagai penyakit menular, kewaspadaan terhadap virus baru menjadi hal penting bagi masyarakat dan tenaga kesehatan. Salah satu virus yang menjadi perhatian global adalah virus Nipah, yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi meski jumlah kasusnya terbatas.
Di tengah belum adanya vaksin yang tersedia, langkah pencegahan melalui kebiasaan hidup sehat menjadi kunci untuk meminimalkan risiko penularan. Scroll untuk info lebih lanjut!
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kini menjadi sorotan para ahli sebagai metode utama dalam menghadapi ancaman virus Nipah. Ahli menekankan bahwa kebiasaan sederhana sehari-hari dapat menjadi pelindung efektif sebelum vaksin resmi tersedia.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, Sp.A Subsp.IPT menjelaskan bahwa PHBS bisa menjadi cara terbaik untuk mencegah penularan virus Nipah, yang sampai saat ini belum ada vaksinasinya.
“Secara umum, PHBS itu berlaku universal. Intinya adalah membersihkan semua yang menempel, yang bukan dari kita, cuci tangan dengan air mengalir adalah yang terbaik, menggunakan sabun,” kata Dominicus dalam paparan di webinar bersama IDAI yang diikuti di Jakarta, Kamis, 29 Januari 2026.
Dalam kondisi darurat, jika air bersih dan sabun tidak tersedia, Dominicus menambahkan, penggunaan alkohol gliserin menjadi alternatif yang dianjurkan. Kebiasaan PHBS sebaiknya dilakukan sebelum mengonsumsi makanan, setelah kontak dengan orang lain, atau setelah melakukan aktivitas yang berisiko menempelkan kuman di tangan.
“Kalau cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, liur itu bersih. Itu risiko kena Nipah menjadi tidak. Ini tidak berlaku untuk Ebola, untungnya Ebola di kita enggak ada. Kalau Ebola itu, walaupun cuci tangan dilakukan dengan baik, belum tentu bisa menghambatnya. Tapi Nipah ini bisa. Jadi, saya kira kalau kita cuci tangan dengan baik, enggak kena kita,” jelasnya.
Selain menjaga tangan tetap bersih, PHBS juga diterapkan pada makanan yang akan dikonsumsi. Membersihkan buah, sayur, dan bahan pangan lain secara menyeluruh dapat mengurangi risiko kontaminasi virus yang mungkin menempel dari hewan atau lingkungan sekitar.
Hingga kini, uji fase vaksin virus Nipah masih berada pada tahap kedua di Oxford, Inggris, dan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga hingga lima tahun sebelum dapat digunakan pada manusia. Di Indonesia, vaksin yang beredar di masyarakat belum terbukti efektif mencegah virus Nipah.
Masa inkubasi virus Nipah berlangsung sekitar 4–12 hari. Pada fase ini, gejala awal dapat berupa flu, demam, nyeri kepala dan otot, serta muntah. Dalam kasus yang lebih parah, virus ini menyerang sistem saraf dengan menyebabkan penurunan kesadaran dan sistem pernapasan yang dapat berujung pada pneumonia dengan tingkat kematian tinggi.
Belum tersedianya vaksin, penguatan PHBS menjadi strategi utama bagi masyarakat Indonesia. Konsisten mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan, serta memperhatikan gejala awal penyakit menular menjadi langkah preventif yang dapat mengurangi risiko infeksi virus Nipah. (Ant)