Kasus Campak di DIY Naik 5,6 Kali Lipat Jelang Mudik Lebaran 2026, Pakar UGM Minta Cek Imunisasi

kasus campak, Kasus Campak di DIY Naik 5,6 Kali Lipat Jelang Mudik Lebaran 2026, Pakar UGM Minta Cek Imunisasi, Kasus campak meningkat di DIY, Satu pasien bisa menulari hingga 18 orang, Mobilitas mudik berpotensi meningkatkan penularan, Cek imunisasi sebelum mudik

Kasus campak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilaporkan meningkat menjelang periode mudik Lebaran 2026. 

Hingga minggu ke-9 tahun 2026, tercatat 73 kasus campak terkonfirmasi, atau sekitar 5,6 kali lipat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meskipun demikian, para pakar mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tetap meningkatkan kewaspadaan. 

Imbauan ini terutama dengan memastikan status imunisasi anak sebelum melakukan perjalanan mudik.

Kasus campak meningkat di DIY

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY, dr. Ari Kurniawati, mengatakan bahwa tren kasus campak di wilayah tersebut memang menunjukkan peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.

Menurutnya, sebagian besar kasus ditemukan pada anak usia 2-9 tahun.

"Namun sebagian juga terjadi pada bayi di bawah sembilan bulan yang belum cukup umur untuk mendapatkan imunisasi," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Sabtu (14/3/2026). 

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya cakupan imunisasi yang tinggi untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity, sehingga kelompok yang belum bisa divaksin tetap terlindungi.

Satu pasien bisa menulari hingga 18 orang

Dokter spesialis anak RSUP Dr. Sardjito, Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K), menjelaskan bahwa campak termasuk penyakit yang sangat mudah menular.

"Satu orang penderita dapat menularkan penyakit ini ke 12 hingga 18 orang lain," kata Ida.

Ia menjelaskan bahwa gejala campak biasanya diawali dengan demam tinggi yang disertai batuk, pilek, serta mata merah. 

Setelah itu, ruam pada kulit akan muncul dari area kepala dan menyebar ke seluruh tubuh.

Hingga saat ini belum ada obat khusus untuk mengatasi campak. 

Karena itu, penanganan biasanya bersifat suportif, sementara langkah pencegahan paling efektif dilakukan melalui imunisasi.

Mobilitas mudik berpotensi meningkatkan penularan

Dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM, dr. Risalia Reni Arisanti, MPH, mengingatkan bahwa mobilitas masyarakat yang tinggi saat mudik dapat meningkatkan risiko penularan penyakit menular antarwilayah.

Menurutnya, campak tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga bisa terjadi pada orang dewasa yang belum memiliki kekebalan terhadap virus tersebut.

Karena itu, cakupan imunisasi perlu mencapai minimal 95 persen agar kekebalan kelompok dapat terbentuk dan melindungi kelompok rentan. 

Kelompok rentan antara lain, bayi yang belum cukup umur untuk divaksin, lansia, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.

Cek imunisasi sebelum mudik

Para pakar mengimbau masyarakat untuk tidak panik menghadapi peningkatan kasus campak menjelang mudik Lebaran.

Sebaliknya, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan melalui langkah pencegahan yang tepat.

Salah satunya dengan mengecek kembali status imunisasi anak dan melengkapinya melalui program imunisasi kejar jika masih ada yang terlewat.

Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk mengenali gejala campak sejak dini, seperti demam, batuk, pilek, mata merah, dan munculnya ruam pada kulit.

Jika mengalami gejala tersebut, masyarakat dianjurkan untuk membatasi kontak dengan orang lain, terutama kelompok rentan seperti bayi, ibu hamil, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah.

Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat juga tetap penting, misalnya dengan memakai masker saat sedang sakit, menjaga kebersihan tangan, serta memastikan kondisi kesehatan sebelum melakukan perjalanan agar risiko penularan dapat diminimalkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang