Waspada Virus Nipah, Berikut Penularan dan Pencegahannya

Topik perihal virus Nipah baru-baru ini ramai menyedot perhatian publik. Salah satunya lantaran tingginya risiko kematian akibat virus tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diketahui telah menerima laporan penambahan dua kasus infeksi virus Nipah di India.
Kasus tersebut dialami oleh petugas Kesehatan di rumah sakit swasta yang berada di Barasat, distrik North 24 Parganas.
Pasien pertama merupakan perempuan berusia 25 tahun, sedangkan pasien kedua adalah laki-laki dengan usia yang sama, 25 tahun.
Kendati belum sampai di Indonesia, kasus virus Nipah ternyata pernah terdeteksi di Indonesia.
Kasus virus Nipah
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang M Abdul Hakam mengatakan, sejauh ini belum ditemukan kasus virus Nipah di Kota Semarang.
"Virus Nipah ini sejatinya adalah virus dari famili dari Paramyxoviridae ya, yang mana sebetulnya virus ini hidup di kelelawar buah. Jadi reservoir-nya adalah kelelawar buah. Nah, dari kelelawar ini virus ini bisa hidup tapi tidak memberikan gejala pada kelelawar buahnya itu," jelasnya dikutip Tribun, Selasa (3/2/2026).
Penularan virus Nipah imbuhnya, terjadi Ketika terdapat interaksi antara kelelawar buah dengan hewan lain, terutama babi dan ternak, yang kemudian menjadi perantara penularan ke manusia.
Selain itu, virus juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi, seperti buah-buahan yang telah digigit kelelawar, serta penularan dari manusia ke manusia, khususnya melalui kontak erat di fasilitas esehatan.
"Kenapa ini menjadi perhatian? Karena angka ini atau orang yang terinfeksi virus Nipah ini ternyata mortality-nya lumayan cukup tinggi sekitar 50-75 persen," ungkap dia.
Gejala terinfeksi virus Nipah
Ilustrasi flu. Epidemiolog menjelaskan bagaimana virus Nipah berpindah dari hewan ke manusia dan apa yang perlu diwaspadai.
Hakam melanjutkan, gejala dari virus Nipah mulai yang paling ringan yakni seperti terkena flu, demam, nyeri otot, linu-linu, kemudian muntah-muntah."Sampai kemudian ke gejala yang paling berat, karena virus ini bisa menyerang di otak atau menyebabkan radang otak," bebernya.
Pada kasus berat, pasien imbuhnya dapat mengalami kebingungan, disorientasi, kejang, penurunan kesadaran hingga koma.
Dilansir dari laman Kemenkes, masa inkubasi virus Nipah selama 4-14 hari.
Setelah masa inkubasi, seseorang yang terinfeksi virus Nipah bakal mengalami demam, sakit kepala, myalgia (nyeri otot), muntah, dan nyeri tenggorokan.
Belum ada obat
Sejauh ini, belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin untuk virus Nipah.
"Itu yang terjadi, maka ini harus hati-hati. Nah, maka Ketika orang itu curiga atau terpapar ya pastinya kalau dia ringan ya dikasih antidemam, kemudian gejala-gejala yang lain," kata dia.
"Kalau dia batuk dikasih (obat) batuk, kalau dia kejang dikasih antikejang dan lain sebagainya," imbuhnya lagi.
Upaya pencegahan
Ilustrasi flu. IDAI menjelaskan perbedaan gejala flu biasa dan virus Nipah yang perlu dikenali agar tidak terlambat ke dokter.
Sebagai pencegahan, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti rajin mencuci tangan, menggunakan masker Ketika bepergian, serta menghindari mengonsumsi makanan yang tidak higiensi, terutama buah yang tidak utuh atau diduga terkontaminasi.
Selain itu, masyarakat juga diimbau menghindari area peternakan yang berpotensi terpapar serta membatasi perjalanan ke daerah yang sedang melaporkan kasus virus Nipah, misalnya perjalanan ke India.
"Menghindari dari ke daerah-daerah yang memang potensial saat ini baru terinfeksi, entah itu di India atau mungkin negara-negara yang mungkin orang India-nya banyak," paparnya.
Lebih lanjut, Hakam menegaskan belum ada kasus di Kota Semarang.
Kendati demikian, sosialisasi dan kesiapsiagaan terus dilakukan.
Puskesmas, rumah sakit, laboratorium, dan fasilitas Kesehatan imbuhnya, telah mengikuti program sosialisasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) soal gejala, alur pelaporan, hingga penanganan kasus virus Nipah.
Apa itu virus Nipah?
Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali meningkatkan kewaspadaan dalam penyebaran virus nipah di Bali.
Peneliti Ahli Utama Virologi sekaligus Kepala Organisasi Riset Kesehatan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Niluh Putu Indi Dharmayanti menjelaskan, virus Nipah adalah penyakit zoonotik yang berpotensi memicu terjadinya wabah jika tidak diantisipasi dengan tepat.
Virus ini termasuk genus Henipavirus dengan reservoir alami yakni kelelawar buah dari famili Pteropodidae, khususnya genus Pteropus.
Kelelawar tersebut dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit dan berpotensi menularkannya ke hewan lain maupun manusia.
Penularan virus Nipah ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti babi, konsumsi makanan yang terkontaminasi, serta penularan antarmanusia.
Meskipun belum ada catatan virus Nipah yang menginfeksi masyarakat di Indonesia hingga Minggu (1/2/2026), bukan berarti virus tersebut tidak terdeteksi di Indonesia.
Awal mula virus Nipah
Virus Nipah pertama kali terdeteksi di negara tetangga, yakni Malaysia pada 1998.
Sejak saat itu, virus Nipah terus menimbulkan kejadian berulang di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Dampak virus Nipah terhadap Kesehatan manusia sangat serius dan memiliki tingkat kematian yang tinggi.
Oleh karena itu, virus Nipah perlu diwaspadai karena berpotensi menyebabkan wabah yang memengaruhi masyarakat, social, dan ekonomi.
Imbauan Kemenkes
Terkait kasus Nipah di Indonesia, Kemenkes mengeluarkan imbauan kepada seluruh warga Indonesia untuk:
- Menghindari kontak dengan hewan, terutama kelelawar, babi, kuda yang kemungkinan terinfeksi virus Nipah. Jika terpaksa melakukan kontak, kenakan alat pelindung diri (APD).
- Hindari mengonsumsi nira/aren langsung dari pohonnya karena kelelawar dapat mengontaminasi sadapan aren/nira pada malam hari.
- Selalu cuci dan kupas buah secara menyeluruh
- Buang buah jika ada tanda gigitan kelelawar
- Jika mengonsumsi daging, pastikan dimasak dengan matang
- Selalu cuci tangan menggunakan sabun dan hand sanitizer
- Terapkan etika batuk dan bersin yang tepat
- Memakai masker apabila mengalami gejala, terutama kelompok rentan
- Menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) dengan benar, terutama bagi tenaga kesehatan, tenaga medis, dan keluarga yang kontak dengan pasien
- Jika melakukan perjalanan ke India dan negara terjangkit, disarankan untuk mengikuti imbauan protokol kesehatan dari otoritas kesehatan India/negara terjangkit
- Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala penyakit virus Nipah.