Indonesia Peringkat 2 Kasus TBC Dunia, Pakar UGM Soroti Banyak Kasus Terlambat Terdeteksi
Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia dengan jumlah kasus yang tinggi.
Indonesia bahkan menempati peringkat kedua di dunia dengan estimasi lebih dari 1 juta kasus.
Di tengah tingginya angka tersebut, banyak kasus TBC masih terlambat terdeteksi. Kondisi ini meningkatkan risiko penularan dan memperburuk kondisi pasien.
Peringkat Dua Dunia
Dokter spesialis anak sekaligus pakar TBC, dr. Rina Triasih, M.Med (Paed), Ph.D, Sp.A(K), mengatakan Indonesia mencatat sekitar 1.090.000 kasus TBC.
Ia menyebut angka kematian akibat TBC juga masih tinggi.
“Ini sama bahayanya dengan COVID,” ujarnya dalam pernyataan yang diterima Kompas.com, Senin (6/4/2026).
Banyak Kasus Terlambat Diketahui
Meskipun demikian, Rina menyoroti masih banyak kasus TBC yang terlambat terdeteksi.
Ia menjelaskan bahwa gejala TBC tidak langsung muncul setelah seseorang tertular kuman.
Gejala baru berkembang dalam rentang waktu sekitar 4–12 minggu, sehingga banyak kasus tidak terdeteksi sejak dini.
Kondisi ini meningkatkan risiko keterlambatan penanganan dan penularan di masyarakat.
Stigma Masih Jadi Hambatan
Selain faktor medis, stigma di masyarakat juga menjadi tantangan besar dalam pengendalian TBC.
Masih banyak orang yang enggan memeriksakan diri karena takut didiagnosis TBC, bahkan khawatir akan kehilangan pekerjaan.
Padahal, keterlambatan diagnosis justru meningkatkan risiko penularan dan memperburuk kondisi pasien.
Strategi Penanggulangan
Untuk menjawab tantangan tersebut, Rina menekankan pentingnya pendekatan komprehensif melalui strategi search, treat, and prevent.
"Namun upaya ini tidak akan tercapai jika hanya dilakukan sektor kesehatan saja," imbuhnya.
Strategi ini mencakup penemuan kasus secara aktif, pengobatan yang tepat dan tuntas, serta pencegahan bagi kelompok berisiko.
Masyarakat diimbau untuk tidak menyepelekan gejala seperti batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Selain itu, pemahaman bahwa TBC dapat disembuhkan serta bukan merupakan penyakit keturunan juga perlu terus disosialisasikan guna mengurangi stigma dan meningkatkan kepatuhan berobat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang