Kapan Waktu Terbaik Beli Perak? Pakar UGM Ungkap Strategi Investasi Aman di 2026
Pakar investasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Bowo Setiyono, Ph.D mengungkap waktu terbaik membeli perak sebagai investasi masa depan.
Ia mengatakan, harga perak saat ini berada di level tinggi setelah mencapai rekor sekitar 110–120 dollar AS per oz pada akhir Januari 2026.
"Namun, dengan volatilitas meningkat dan kenaikan harga tersebut, terdapat juga potensi konsolidasi setelah reli tajam," ujar Bowo saat dihubngi Kompas.com, Selasa (3/2/2026).
Meski tingkat volatilitas meningkat, masyarakat yang ingin menjadikan perak sebagai salah satu instrumen investasi bisa membuat perhitungan terlebih dahulu.
Bowo mejelaskan, sebelum membeli perak, perhatikan dulu indikasi teknikal yang menunjukkan potensi pullback jangka pendek sebelum lanjut naik.
Perhatikan juga dollar-Cost Averaging (DCA) atau beli bertahap. Hal ini cocok karena pasar sedang terlalu panas.
"Sehingga, di awal 2026 memang momentum bagus secara jangka panjang, tetapi bukan harga 'termurah'. Untuk masyarakat umum, lebih aman menunggu koreksi atau masuk bertahap, bukan all‑in," jelas Bowo.
Alasan Perak Cocok untuk Investasi selain Emas
Bowo menjelaskan, perak memang dapat menjadi alternatif instrumen investasi.
Perak memiliki karakter seperti safe haven mirip emas, terutama saat ketidakpastian meningkat.
Hal ini karena perak secara historis lebih volatil dibanding emas karena posisinya di bawah emas sebagai logam mulia.
Meski begitu, ada beberapa hal yang perlu dicatat, yakni perak diakui sebagai aset penyimpan nilai, bahkan sering disebut “the poor man’s gold” dan berperan sebagai safe haven saat ketidakpastian ekonomi-politik meningkat.
Permintaan industri yang tinggi, supply deficit, dan fluktuasi nilai tukar juga menjadikan perak tetap diminati investor global.
Di sisi lain, situasi geopolitik yang tidak pasti dan isu independensi bak sentral menyebabkan permintaan perak sebagai aset lindung nilai menjadi kuat.
Bowo juga mengungkap alasan lain yang membuat perak cukup menjanjikan untuk invesasi.
Pertama struktur pasar menunjukkan defisit pasokan bertahun-tahun sehingga tekanan harga cenderung naik jangka panjang.
Kedua, perak juga memiliki fundamental permintaan yang kuat, terutama penggunaan industri, seperti panel surya dan elektronik (EV) yang terus meningkat.
"Saat emas naik, perak biasanya mengikuti, bahkan sering kali naik secara persentase lebih tinggi. Ini ibarat harga batu bara dengan harga minyak," imbuh Bowo.
Pertimbangan Sebelum Beli Emas
Bowo mengingatkan masyarakat untuk mempertimbangkan risiko jika ingin berinvestasi perak.
Ia menjelaskan, pergerakan harga perak cenderung tidak stabil. Harga perak sempat melonjak hingga 26 persen di tiga pekan pertama 2026.
Hal tersebut terjadi setelah harga perak meningkat 150 persen pada 2025.
Perak juga mencetak performa historis dengan naik lebih dari 14 persen hingga menembus harga 90 dollar AS pada akhir tahun.
Pada awal 2026, harga perak terus naik hingga menyentuh 84–95 dollar AS, tergantung pasar dan momentum geopolitik.
Kendati demikian, valuasi perak di awal 2026 mulai dianggap mahal dan berisiko koreksi oleh pasar.
"Ini menunjukkan potensi cuan besar, tetapi juga volatilitas tinggi. Perak relatif tidak stabil, ia (perak) cenderung lebih liar dibanding emas, dengan kenaikan besar namun fluktuasi tinggi," tandas Bowo.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan yang sudah disampaikan, Bowo menerangkan bahwa perak cukup menjanjikan bagi investor yang agresif atau moderat.
Namun, investasi perak kurang cocok bagi investor yang ingin stabilitas tinggi.
Bowo juga mengingatkan bahwa prospek perak pada tahun 2026 dan beberapa tahun mendatang terlihat sangat kuat dan bullish, meskipun diiringi volatilitas tinggi.
Terlebih jika defisit perak pasokan makin dalam akibat kenaikan permintaan di sektor energi bersih atau UV yang membuat perak menjadi industrial metal selain safe haven.
"Sedangkan emas bukan industrial metal, namun safe haven atau investment assets," kata Bowo
"Nah, jika dipakai sebagai alat diversifikasi aset, perak bisa menjadi salah satu asset tambahan dalam portofolio investasi," tambahnya.
Masyarakat juga tidak ada salahnya jika tetap menjadikan emas sebagai salah satu investasi.
Bowo memperkirakan, prospek emas pada 2026–2030 masih bullish mengingat emas merupakan safe haven yang paling kuat.
Saat ini, demand emas juga semakin kuat seiring dukungan bank sentral global, termasuk pembelian besar oleh China, yang memperkuat reli tren kenaikan harga berlanjut.
"Jadi, prospek emas sangat kuat dan cenderung naik jangka panjang serta sangat cocok untuk investasi protektif dan jangka panjang," pungkas Bowo.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang