WHO Laporkan Satu Kematian akibat Virus Nipah di Bangladesh, Bergejala Demam dan Sakit Kepala

Bangladesh, virus Nipah, WHO Laporkan Satu Kematian akibat Virus Nipah di Bangladesh, Bergejala Demam dan Sakit Kepala

Satu kematian akibat infeksi virus Nipah terkonfirmasi di Bangladesh.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada Jumat (6/2/2026) bahwa seorang perempuan meninggal dunia di Bangladesh bagian utara pada Januari setelah terinfeksi virus Nipah.

Bangladesh sendiri adalah negara yang hampir setiap tahun melaporkan adanya kasus infeksi Nipah.

Menurut data WHO, sebelum 2026, total lebih dari 348 kasus infeksi Nipah manusia telah didokumentasikan di Bangladesh sejak 2001, termasuk ratusan kematian.

Kasus di 2026 ini menyusul dua kasus virus Nipah yang teridentifikasi di negara tetangga, India, yang telah mendorong peningkatan pemeriksaan di bandara-bandara di seluruh Asia.

Gejala pasien di Bangladesh

Dilansir dari Guardian, Sabtu (7/2/2026), pasien di Bangladesh tersebut adalah wanita berusia antara 40 hingga 50 tahun yang tinggal di distrik Naogaon.

Wanita tersebut mulai mengalami gejala yang sesuai dengan infeksi virus Nipah pada 21 Januari 2026.

Gejala yang dilaporkan WHO adalah demam dan sakit kepala, yang kemudian diikuti hipersalivasi (air liur berlebihan), disorientasi, dan kejang.

Perempuan itu meninggal dunia sepekan kemudian dan dipastikan terinfeksi virus tersebut sehari setelah kematianya.

Orang tersebut tidak memiliki riwayat perjalanan dari luar negeri, namun memiliki kebiasaan mengonsumsi nira kurma mentah.

WHO menyatakan, seluruh 35 orang yang melakukan kontak dengan pasien sedang dalam pemantauan dan hasil tes mereka negatif terhadap virus, serta hingga saat ini belum ditemukan kasus tambahan.

Tidak ada pembatasan perjalanan

Nipah merupakan infeksi yang dapat menyebar melalui produk yang terkontaminasi oleh kelelawar yang terinfeksi, seperti buah-buahan.

Menurut WHO, virus ini dapat berakibat fatal, namun tidak mudah menular antarmanusia.

Indonesia dan juga beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Pakistan, sudah memberlakukan pemeriksaan suhu tubuh di bandara setelah India menyatakan menemukan kasus virus tersebut di Bengal Barat.

Hal itu dilakukan meskipun WHO menilai risiko penyebaran penyakit lintas negara tergolong rendah dan tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan maupun perdagangan.

Diketahui, pada 2025, Bangladesh melaporkan empat kasus kematian akibat virus Nipah yang telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.

Hingga saat ini, belum tersedia obat maupun vaksin berlisensi yang secara khusus ditujukan untuk infeksi tersebut.

Gejala infeksi virus Nipah

UK Health Security Agent menyatakan, infeksi virus Nipah (NiV) sering kali diawali dengan gejala yang tidak spesifik, sehingga menyulitkan deteksi dini.

Sedangkan menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), masa inkubasi umumnya diperkirakan berkisar empat hingga 21 hari, meskipun dalam kasus langka pada wabah sebelumnya dilaporkan adanya jeda yang lebih panjang antara paparan dan timbulnya penyakit.

Pasien biasanya mengalami penyakit mirip flu secara mendadak, yang ditandai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.

Dalam beberapa kasus, muncul pula gejala pernapasan seperti batuk, sesak napas, atau pneumonia, meskipun waktu kemunculan dan tingkat keparahannya dapat sangat bervariasi.

Gejala neurologis, termasuk kebingungan, penurunan kesadaran, kejang, atau koma, biasanya muncul beberapa hari hingga beberapa minggu setelah gejala awal penyakit.

Dicukil dari BBC, ini gejala infeksi virus Nipah pada umumnya:

Demam

  • Sakit kepala
  • Nyeri sendi
  • Muntah
  • Sakit tenggorokan
  • Beberapa orang juga memiliki gejala lanjutan seperti pusing, hilang kesadaran atau fokus menurun, radang otak, pneumonia, atau gangguan pernapasan akut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang