Pakar: Outbreak Kecil Virus Nipah Lebih Berbahaya dari Wabah Besar

Epidemiolog, outbreak, Pakar: Outbreak Kecil Virus Nipah Lebih Berbahaya dari Wabah Besar, Kasus Nipah sering muncul secara senyap, Outbreak kecil dengan fatalitas tinggi, Pasien indeks sering tidak dikenali, Fatalitas tinggi karena belum ada penanganan

Belakangan, virus Nipah kembali menjadi sorotan. Penyakit ini dinilai lebih berbahaya ketika muncul dalam bentuk outbreak kecil dibandingkan wabah besar yang mudah terdeteksi.

Epidemiolog menyebut karakter Nipah yang kerap muncul secara senyap, dengan tingkat kematian tinggi, membuat infeksinya berisiko luput dari kewaspadaan sejak awal.

Epidemiolog dan ahli penyakit infeksi dari Griffith University, Dicky Budiman, mengatakan Nipah sering tidak terdeteksi karena tidak selalu memicu lonjakan kasus besar.

Menurut dia, justru kasus kecil yang mematikan menjadi ancaman utama bagi sistem kesehatan.

Kasus Nipah sering muncul secara senyap

Dicky menjelaskan bahwa Nipah tidak selalu muncul dalam bentuk wabah besar yang mudah dikenali.

Dalam banyak kejadian, virus ini muncul dalam jumlah kasus terbatas.

"Nipah itu tidak selalu harus wabah besar. Justru berbahaya karena sering senyap," kata Dicky kepada Kompas.com, Selasa (27/1/2026).

Ia menyebut kondisi tersebut membuat Nipah sulit terdeteksi sejak awal, terutama ketika gejala awal menyerupai penyakit umum dan tidak memicu kewaspadaan khusus.

Outbreak kecil dengan fatalitas tinggi

Menurut Dicky, risiko terbesar dari Nipah justru berasal dari outbreak kecil dengan tingkat kematian yang tinggi.

Kondisi ini membuat pasien berpotensi meninggal sebelum diagnosis ditegakkan.

"Risiko terbesarnya adalah adanya outbreak kecil tapi mematikan. Jadi bukan ledakan kasus besar," ujarnya.

Ia menjelaskan, keterlambatan deteksi membuat penanganan sering bersifat reaktif, sementara virus sudah menimbulkan dampak fatal pada pasien.

Pasien indeks sering tidak dikenali

Dicky menyebut hampir semua klaster besar Nipah di sejumlah negara berawal dari pasien indeks yang tidak dikenali sejak awal.

Kondisi ini membuat penularan terjadi di lingkaran terdekat pasien.

"Hampir semua cluster besar Nipah di India dan Bangladesh itu berawal dari pasien indeks yang tidak dikenali," kata Dicky.

Pasien tersebut kemudian menularkan virus ke anggota keluarga dan tenaga kesehatan sebelum ada langkah pengendalian.

Dicky menegaskan bahwa meskipun penularan Nipah antar manusia tidak secepat penyakit pernapasan seperti Covid-19, risiko penularan tetap tinggi melalui kontak dekat.

“Penularan nipah ini melalui cairan tubuh pada kontak dekat yang sangat efektif,” ujarnya.

Ia mengingatkan rumah sakit kerap menjadi lokasi amplifikasi penularan ketika pasien datang tanpa diagnosis Nipah dan tanpa kewaspadaan infeksi yang memadai.

Fatalitas tinggi karena belum ada penanganan

Dicky menekankan bahwa tingginya angka kematian Nipah bukan semata karena keganasan virus.

Faktor utama adalah belum tersedianya vaksin dan antivirus spesifik.

"Fatalitas tinggi dari penyakit Nipah ini bukan karena ganasnya tetapi karena tidak ada alat untuk melawan," ujar Dicky.

Ia menjelaskan Nipah menyerang otak dan menyebabkan ensefalitis yang sulit ditangani, sehingga meningkatkan risiko kematian dan komplikasi jangka panjang.

Selain itu, Dicky menyebut Indonesia memang belum pernah melaporkan kasus Nipah pada manusia. Namun, ia menegaskan hal itu tidak berarti risiko nihil.

"Sebetulnya risiko utama di Indonesia adalah under detection, bukan kasus impor," ujarnya.

Menurut Dicky, penguatan surveilans penyakit zoonosis, khususnya pada kasus demam dan ensefalitis yang tidak jelas penyebabnya, menjadi kunci mencegah dampak outbreak kecil yang mematikan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang