Mirip Flu dan DBD, Epidemiolog Ungkap Alasan Virus Nipah Sulit Terdeteksi Sejak Dini
Penyakit Nipah dinilai sulit terdeteksi sejak dini karena gejala awalnya tidak khas dan menyerupai penyakit umum seperti flu, demam berdarah dengue (DBD), hingga tifoid.
Kondisi ini membuat infeksi Nipah berisiko luput dari kewaspadaan medis, terutama di negara dengan sistem surveilans yang belum sensitif.
Epidemiolog dan ahli penyakit infeksi dari Griffith University, Dicky Budiman menjelaskan kemiripan gejala tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam mengenali kasus Nipah.
Padahal, gejala dapat membantu mengenali penyakit ini pada tahap awal, baik oleh masyarakat maupun tenaga kesehatan.
Lantas, bagaimana kondisi di Indonesia bisa sulit terdeteksi?
Gejala awal tidak spesifik
Dicky menjelaskan bahwa Nipah kerap tidak menunjukkan ciri klinis khusus pada fase awal infeksi.
Kondisi ini membuat penyakit tersebut sulit dibedakan dari infeksi lain yang umum terjadi di Indonesia.
"Gejala-gejala awalnya tidak spesifik ya mirip flu. Bahkan kalau di Indonesia misalnya bisa mirip tifoid atau demam berdarah," kata Dicky saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (27/1/2026).
Ia menyebut banyak pasien datang ke fasilitas kesehatan dengan keluhan umum tanpa ada kecurigaan terhadap penyakit zoonosis berbahaya seperti Nipah.
Banyak kasus radang otak sulit diketahui penyebabnya
Menurut Dicky, salah satu alasan Nipah sulit terdeteksi adalah karena banyak kasus radang otak atau ensefalitis di Indonesia tidak diketahui penyebab pastinya.
Hal ini terjadi karena sistem pemantauan penyakit belum cukup peka untuk mengenali virus baru.
"Banyak kasus ensefalitis tidak diketahui etiologinya di Indonesia," papar Dicky.
Ia menjelaskan, ketika penyebab penyakit tidak teridentifikasi sejak awal, infeksi berbahaya seperti Nipah bisa saja terlewat.
Risiko ini semakin besar jika pasien meninggal sebelum pemeriksaan lanjutan dilakukan.
"Sistem surveillance itu tidak sensitif terhadap ensefalitis virus baru," sambungnya.
Outbreak kecil justru lebih berbahaya
Dicky menegaskan bahwa Nipah tidak selalu muncul dalam bentuk wabah besar. Justru, menurut dia, penyakit ini berbahaya karena sering muncul secara senyap dalam jumlah kecil tetapi mematikan.
"Nipah itu tidak selalu harus wabah besar. Justru berbahaya karena sering senyap," kata Dicky.
Ia menyebut risiko terbesar adalah outbreak kecil dengan fatalitas tinggi yang tidak terdeteksi sejak awal.
"Risiko terbesarnya adalah adanya outbreak kecil tapi mematikan. Jadi bukan ledakan kasus besar," tambahnya.
Rumah sakit bisa jadi titik penularan
Dicky menjelaskan bahwa penularan Nipah antar manusia memang tidak seefisien penyakit pernapasan seperti Covid-19.
Namun, penularan melalui kontak dekat dengan cairan tubuh sangat berbahaya.
"Penularan nipah ini melalui cairan tubuh pada kontak dekat yang sangat efektif," paparnya.
Ia mengingatkan bahwa rumah sakit kerap menjadi lokasi amplifikasi penularan karena pasien indeks tidak dikenali sejak awal.
"Hampir semua cluster besar Nipah di India dan Bangladesh itu berawal dari pasien indeks yang tidak dikenali," ujarnya.
Kematian tinggi karena tidak ada vaksin dan antivirus
Dicky menegaskan bahwa tingginya angka kematian Nipah bukan semata karena keganasan virus, melainkan karena keterbatasan alat medis.
“Fatalitas tinggi dari penyakit Nipah ini bukan karena ganasnya tetapi karena tidak ada alat untuk melawan,” kata Dicky.
Ia menjelaskan hingga kini belum tersedia vaksin maupun antivirus spesifik untuk Nipah, sementara penyakit ini menyerang otak dan sulit ditangani.
“Penyakit menyerang otak ya, ensefalitis yang sulit ditangani,” ujarnya.
Belum ada laporan, Indonesia belum tentu aman
Dicky menegaskan Indonesia memang belum pernah melaporkan kasus Nipah pada manusia. Namun, ia mengingatkan hal itu tidak berarti risikonya nol.
"Indonesia ini belum pernah melaporkan kasus manusia Nipah. Tapi ini bukan berarti enggak ada," kata Dicky.
Ia menilai risiko utama Indonesia justru berasal dari kasus lokal yang tidak terdeteksi.
"Sebetulnya risiko utama di Indonesia adalah under detection, bukan kasus impor," ujarnya.
Menurut Dicky, penguatan surveilans penyakit zoonosis, khususnya pada kasus demam dan ensefalitis yang tidak jelas penyebabnya, menjadi kunci untuk mencegah dampak yang lebih luas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang