Ngantuk Berlebihan Bisa Jadi Gejala Serius Virus Nipah, Ini Penjelasan Kemenkes

virus Nipah, Ngantuk Berlebihan Bisa Jadi Gejala Serius Virus Nipah, Ini Penjelasan Kemenkes

Virus Nipah tidak hanya menimbulkan gejala ringan seperti influenza, tetapi juga dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan serius yang berisiko mengancam nyawa penderitanya. 

Kekhawatiran itu menguat setelah laporan BBC pada Selasa (27/1/2026) menyebutkan adanya wabah virus Nipah yang mematikan di negara bagian Benggala Barat, India. 

Situasi tersebut mendorong sejumlah negara di Asia memperketat pemeriksaan kesehatan di pintu masuk internasional, terutama bandara.

Thailand dilaporkan telah memulai pemeriksaan terhadap penumpang di tiga bandara yang menerima penerbangan dari Benggala Barat. 

Nepal juga melakukan langkah serupa dengan memperketat pemeriksaan kedatangan di Bandara Kathmandu serta sejumlah pos perbatasan darat dengan India.

Dalam laporan yang sama, dua kasus virus Nipah telah dikonfirmasi di Benggala Barat sejak Desember 2025. 

Kedua kasus tersebut dilaporkan terjadi pada petugas kesehatan. Sekitar 196 orang yang sempat melakukan kontak dengan pasien telah dilacak dan dinyatakan negatif virus tersebut.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik yang dapat menular dari hewan ke manusia. 

Tingkat kematiannya tergolong tinggi berkisar antara 40 hingga 75 persen mengingat hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk infeksi virus ini.

Gejala Serius Virus Nipah: Kantuk Berlebihan hingga Disorientasi

Infeksi virus Nipah dapat berkembang menjadi kondisi berat, salah satunya peradangan otak atau ensefalitis. 

Kondisi ini berpotensi menimbulkan gangguan yang tampak sepele, namun sebenarnya berbahaya.

Ensefalitis bisa menyebabkan kantuk berlebihan, kesulitan berkonsentrasi, disorientasi, hingga perubahan suasana hati yang signifikan. 

Pada kasus tertentu, infeksi virus Nipah dapat menyebabkan pasien meninggal dunia.

Mengutip laman Kementerian Kesehatan, Kamis (5/10/2023), virus Nipah memiliki masa inkubasi sekitar 4–14 hari sebelum gejala muncul. 

Beberapa gejala yang ditimbulkan virus Nipah, yakni: 

  • Nyeri otot
  • Batuk
  • Peradangan otak (ensefalitis)
  • Demam
  • Kesulitan menelan
  • Sakit tenggorokan
  • Muntah
  • Sesak napas
  • Sakit kepala.

Virus Nipah Pertama Kali Muncul di Malaysia

Dosen Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) dr. Agung Dwi Wahyu Widodo mengatakan bahwa tanda dan gejala virus Nipah seperti orang mengalami influenza.

“Badannya meriang, demam, otot-otot badan sakit,” ujar Agung, dikutip dari laman resmi Unair, Rabu (3/2/2021).

“Kemudian gejala ini akan berlanjut, infeksi virusnya, lalu menyebar. Virus ini juga bisa menyebabkan gangguan napas dan infeksi pada otak," tambahnya.

Agung menjelaskan, virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada 1999 di Malaysia.

Ketika pertama kali merebak, virus tersebut memicu wabah di kalangan peternak babi. 

Wabah Nipah juga berdampak ke Singapura akibat kontak langsung dengan babi sakit atau jaringan yang terkontaminasi.

Pada 2001, kasus serupa kembali muncul di Bangladesh. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga melaporkan bahwa penularan virus Nipah sempat di Siliguri, India, terjadi di fasilitas layanan kesehatan.

Pada saat itu, sekitar 75 persen pasien merupakan tenaga medis dan pengunjung rumah sakit.

WHO juga menyatakan bahwa negara lain berpotensi mengalami wabah serupa karena keberadaan spesies kelelawar Pteropus sebagai inang alami virus Nipah.

Negara-negara tersebut, antara lain Kamboja, Ghana, Indonesia, Madagaskar, Filipina, dan Thailand.

Agung menjelaskan bahwa penularan virus ini bermula dari kelelawar buah ke hewan ternak, terutama babi. 

"Dari babi menular ke manusia. Dari sinilah akhirnya terjadi proses penularan beruntun," ungkap Agung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang