Bisa Jadi Sangat Berbahaya, Dokter Sebut Virus Nipah Bisa Tetap 'Tidur' Hingga 45 Hari

Virus Nipah
Virus Nipah

 Virus Nipah kini menjadi perhatian dunia setelah dua kasus ditemukan di Bengal Barat, India. Virus ini menular dari hewan, terutama kelelawar pemakan buah, ke manusia. 

Penularan bisa terjadi melalui makanan yang terkontaminasi, seperti nira kurma mentah, atau dari manusia ke manusia. Jika sudah menyebar antar manusia, penyakit ini bisa berkembang sangat cepat dan mematikan. Dengan angka kematian yang berkisar antara 40 hingga 75 persen, wajar jika banyak negara langsung waspada setiap kali ada kasus baru. 

Lalu, apa yang membuat Nipah begitu berbahaya? Tidak seperti infeksi umum lainnya, hingga kini belum ada obat khusus atau vaksin yang tersedia secara luas. Selain itu, gejalanya juga tidak mudah dikenali.

“Virus Nipah dianggap sangat berbahaya karena tingkat kematiannya yang tinggi, yakni sekitar 40 hingga 75 persen. Ada juga kasus di mana pasien yang selamat mengalami komplikasi saraf jangka panjang. Saat ini belum ada obat antivirus atau vaksin khusus untuk virus Nipah, sehingga penanganan medis umumnya bersifat suportif, fokus pada peredaaan gejala dan perawatan intensif bila diperlukan,” kata dokter anestesi dan perawatan intensif di Kailash Deepak Hospital, Dr. Ashutosh Kumar Garg dikutip dari laman Times of India, Jumat 30 Januari 2026.  

Sementara itu, dokter spesialis saraf di Yashoda Hospitals, Hyderabad, Bharath Kumar Surisetti, menyebut virus ini tidak langsung menimbulkan gejala setelah masuk ke tubuh. Masa inkubasinya biasanya berlangsung antara empat hingga 14 hari. 

Namun, dalam beberapa kasus, virus bisa tetap ‘tidur’ hingga 45 hari. Inilah yang disebut sebagai ‘masa senyap’, dan ini berbahaya karena seseorang bisa merasa sehat padahal virus sedang berkembang di dalam tubuhnya. 

"Saat mulai aktif, penyakit ini biasanya berkembang dalam dua tahap fase mirip flu dan fase berat,” kata dia. 

Gejala infeksi virus Nipah

Dr. Bharath Kumar Surisetti menjelaskan, pada fase pertama dikenal sebagai tahap mirip flu. Orang yang terinfeksi bisa mengalami demam tinggi mendadak, sakit kepala hebat, nyeri otot, sakit tenggorokan, muntah, dan mual. Pada tahap ini, penyakit sering disalahartikan sebagai flu biasa atau COVID-19.

Selanjutnya masuk ke fase kedua, yang jauh lebih berbahaya karena mulai muncul tanda-tanda gangguan saraf. Pada tahap ini, kondisinya menjadi lebih jelas dan serius. Virus Nipah memiliki kemampuan kuat menyerang otak dan dapat menyebabkan ensefalitis, yaitu peradangan otak. Penderitanya bisa merasa pusing, mengantuk berlebihan, kesadaran menurun, serta bingung terhadap orang, waktu, atau tempat.

Pasien juga bisa mengalami gangguan pernapasan atau sesak napas, mirip seperti pneumonia. Pada tahap kedua ini, pasien juga dapat mengalami kejang atau kejang hebat yang tidak terkendali. Dalam kasus yang parah, pasien bahkan bisa koma dalam waktu 24 hingga 48 jam setelah gejala saraf mulai muncul. 

Sementara itu,  Dr. Ashutosh Kumar Garg memperingatkan bahwa virus Nipah ini termasuk zoonosis, artinya bisa menular dari hewan ke manusia. Pembawa utamanya adalah kelelawar pemakan buah atau flying fox. 

"Penularan bisa terjadi melalui kontak langsung dengan kelelawar atau babi yang terinfeksi, serta melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi oleh kelelawar, seperti buah yang sudah digigit atau nira kurma mentah (sering disebut toddy). Penularan juga bisa terjadi dari manusia ke manusia melalui kontak dekat atau paparan cairan tubuh,” kata dia. 

Secara global, kasus virus Nipah telah dilaporkan di Bangladesh, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Di India, otoritas kesehatan selalu berada dalam status siaga tinggi setiap kali ada kasus yang terdeteksi. Pemeriksaan cepat, isolasi pasien, dan pelacakan kontak menjadi langkah utama untuk mencegah penyebaran virus ini lebih luas.