Daerah 5 Daerah di Riau Ini Berstatus Siaga Darurat Karhutla, Titik Panas Meningkat Saat Musim Kemarau
Lima kabupaten/kota di Provinsi Riau telah menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setelah meningkatnya jumlah titik panas dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi cuaca kering dan panas yang melanda wilayah tersebut dinilai meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau, Jim Gafur, mengatakan bahwa sejumlah daerah telah mengambil langkah antisipatif dengan menetapkan status siaga darurat.
"Sudah lima daerah di Riau yang menetapkan status siaga darurat karhutla, yakni Pelalawan, Inhil, Bengkalis, Siak, dan Kampar," katanya di Pekanbaru, Kamis (5/3/2026) dikutip dari Antara.
Penetapan status siaga darurat ini menjadi sinyal bagi pemerintah daerah untuk memperkuat upaya pencegahan serta kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan yang dapat meluas jika tidak segera ditangani.
Apa saja daerah yang menetapkan status siaga darurat karhutla?
Berdasarkan data BPBD Damkar Riau, lima daerah yang telah menetapkan status siaga darurat karhutla adalah:
- Kabupaten Pelalawan
- Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil)
- Kabupaten Bengkalis
- Kabupaten Siak
- Kabupaten Kampar
Dengan status tersebut, pemerintah kabupaten/kota diminta segera meningkatkan berbagai langkah mitigasi untuk mencegah terjadinya kebakaran yang lebih luas.
Langkah ini juga diharapkan mampu memperkuat koordinasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, serta masyarakat dalam menghadapi musim kemarau yang mulai melanda wilayah Riau.
Langkah apa yang harus dilakukan pemerintah daerah?
Jim Gafur menjelaskan bahwa terdapat sejumlah langkah penting yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah setelah penetapan status siaga darurat.
Pertama, pemerintah daerah diminta menggelar apel siaga karhutla yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait.
Kegiatan ini bertujuan memastikan kesiapan personel serta peralatan dalam menghadapi potensi kebakaran.
Selain itu, pemerintah daerah juga perlu meningkatkan deteksi dini melalui patroli rutin di wilayah rawan kebakaran serta melakukan pengecekan terhadap titik panas yang terdeteksi.
"Selanjutnya meningkatkan deteksi dini, patroli dan memastikan pengecekan titik panas serta melakukan penanganan dengan cepat apabila ditemukan titik api supaya tidak meluas," ujarnya.
Upaya lain yang tidak kalah penting adalah meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Sosialisasi tersebut dapat dilakukan secara langsung maupun melalui perangkat pemerintahan di tingkat kecamatan hingga desa.
"Menyiagakan seluruh sumber daya, baik personel maupun peralatan dan perlengkapan karhutla serta menyediakan anggaran operasional pencegahan dan pemadaman karhutla, serta meningkatkan kerja sama dan koordinasi dengan semua pemangku kepentingan dan melakukan upaya pembasahan di lahan rawan karhutla," kata Jim.
Seberapa luas karhutla yang terjadi di Riau?
BPBD Damkar Riau mencatat bahwa hingga awal tahun ini terdapat 11 kabupaten/kota di Provinsi Riau yang mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Total luas lahan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 1.041,74 hektare.
Sebelas daerah yang tercatat mengalami karhutla tersebut meliputi:
- Kabupaten Bengkalis
- Kepulauan Meranti
- Kabupaten Siak
- Kabupaten Kampar
- Kabupaten Pelalawan
- Kabupaten Indragiri Hulu
- Kabupaten Indragiri Hilir
- Kabupaten Kuantan Singingi
- Kabupaten Rokan Hilir
- Kota Dumai
- Kota Pekanbaru.
Mengapa risiko karhutla meningkat saat musim kemarau?
Saat ini Provinsi Riau mulai memasuki musim kemarau dengan suhu udara yang cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir. Kondisi panas ekstrem ini oleh masyarakat Melayu setempat dikenal dengan istilah "pane badongkang".
Kondisi cuaca tersebut dapat menyebabkan lahan menjadi kering sehingga sangat mudah terbakar.
Oleh karena itu, upaya pencegahan menjadi langkah penting untuk meminimalkan dampak kebakaran.
Sebagai bagian dari langkah antisipasi nasional, pemerintah juga menggelar Apel Kesiapsiagaan Karhutla Nasional 2026 di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari menegaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi merupakan langkah strategis untuk memastikan kesiapan seluruh pihak dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan.
"Saya mengingatkan pentingnya hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Segala tindakan manusia terhadap lingkungan akan berdampak langsung terhadap kehidupan di masa mendatang," ungkap Djamari.
Ia juga menekankan bahwa menjaga kelestarian hutan dan lahan bukan hanya bertujuan mencegah kebakaran, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan lingkungan.
"Alam akan memberikan yang baik juga untuk kita, ini adalah titik awal yang harus kita sadari. Kemudian tanggung jawab kita kepada bangsa dan kewajiban kita untuk menjaga alam yang telah dikaruniakan kepada kita semua dari Allah SWT," kata Djamari.
Menurutnya, kesiapsiagaan seluruh elemen bangsa sangat penting agar kebakaran hutan dan lahan tidak menimbulkan dampak luas, baik terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, maupun hubungan dengan negara tetangga akibat kabut asap.
"Apel ini adalah untuk menunjukkan kesiapan kita bahwa kita mampu untuk merawat kekayaan alam ini. Tidak hanya sekadar untuk mencegah terjadinya kerusakan alam di sekitar lokasi tempat kebakaran hutan, tapi punya dampak yang sangat luas," ujarnya.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang