Lulusan Pintar tapi Merasa Tidak Kompeten? Psikolog Ungkap Penyebabnya
Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang pernah menjadi mahasiswa berprestasi justru mulai meragukan kemampuan dirinya setelah memasuki dunia kerja.
Meski memiliki pendidikan tinggi dan keterampilan yang baik, mereka merasa tidak berkembang, kehilangan kepercayaan diri, bahkan menganggap dirinya tidak cukup kompeten.
Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa kondisi ini dapat terjadi ketika seseorang bekerja di posisi yang tidak memanfaatkan kemampuan yang telah dipelajarinya selama kuliah.
Akibatnya, individu perlahan kehilangan keyakinan terhadap kapasitas dirinya sendiri.
Hal tersebut disampaikan Danti saat diwawancarai pada Kamis (11/6/2026) terkait fenomena banyak lulusan yang bekerja di luar bidang atau di bawah kapasitas yang dimilikinya.
Ketika kemampuan yang dimiliki tidak pernah digunakan
Menurut Danti, salah satu dampak psikologis yang sering muncul pada lulusan yang mengalami underemployment adalah erosi self-efficacy.
efficacy merupakan keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya dalam menyelesaikan tugas atau menghadapi tantangan.
Masalah muncul ketika kemampuan analisis, pemecahan masalah, atau keterampilan lain yang diperoleh selama pendidikan tinggi tidak pernah digunakan dalam pekerjaan sehari-hari.
"Ketika kemampuan analisis atau pemecahan masalah yang rumit yang dipelajari di bangku kuliah tidak pernah digunakan, individu mulai meragukan apakah mereka benar-benar kompeten," ujar Danti.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa kemampuan yang dulu dimilikinya mulai menurun.
"Mereka merasa 'tumpul' secara intelektual," lanjutnya.
Mengapa lulusan berprestasi kehilangan kepercayaan diri?
Ilustrasi kerja. Psikolog menjelaskan bahwa kemampuan yang lama tidak digunakan di tempat kerja dapat membuat seseorang perlahan meragukan kompetensinya sendiri, meski sebenarnya tetap memiliki potensi yang sama.
Menurut Danti, masalah ini tidak selalu berkaitan dengan kemampuan yang sebenarnya dimiliki seseorang.
Sering kali, yang berubah adalah persepsi terhadap diri sendiri.
Ketika seseorang terus-menerus menjalani pekerjaan yang tidak memberi ruang untuk menggunakan keterampilan yang lebih kompleks, ia mulai kehilangan bukti bahwa dirinya memang mampu.
Lambat laun, rasa percaya diri yang sebelumnya dibangun melalui pengalaman belajar dan prestasi akademik menjadi terkikis.
Kondisi ini berbeda dengan sekadar merasa bosan di tempat kerja.
Pada tahap tertentu, individu mulai mempertanyakan nilai dirinya, merasa tidak berkembang, dan meragukan kompetensi yang sebenarnya masih dimilikinya.
Tanda yang perlu diwaspadai
Danti menjelaskan bahwa penting untuk membedakan antara fase adaptasi karier yang masih wajar dengan kondisi yang sudah mulai memengaruhi kesehatan mental.
Pada fase adaptasi, seseorang mungkin merasa kurang tertantang atau belum menemukan pekerjaan idealnya. Namun, ia masih memandang kondisi tersebut sebagai batu loncatan sementara.
Selain itu, kepercayaan terhadap kemampuan diri tetap terjaga dan energi emosional dapat kembali pulih setelah beristirahat.
Sebaliknya, kondisi mulai mengkhawatirkan ketika seseorang terus-menerus menyalahkan diri sendiri dan merasa terjebak dalam keputusasaan.
"Situasi sudah berdampak negatif dan berbahaya bagi mental jika mulai menyalahkan diri sendiri, merasa terjebak dalam keputusasaan, dan menganggap diri sendiri sebagai produk gagal," kata Danti.
Kondisi tersebut dapat disertai kelelahan emosional yang tidak kunjung membaik meski sudah beristirahat, kecemasan yang intens, gangguan tidur, hingga sikap apatis terhadap pekerjaan.
Cara menjaga keyakinan terhadap kemampuan diri
Untuk mencegah erosi self-efficacy, Danti menyarankan lulusan muda agar tidak mengaitkan seluruh identitas dirinya dengan pekerjaan saat ini.
Menurut dia, pekerjaan yang dijalani saat ini tidak selalu mencerminkan seluruh potensi seseorang.
Karena itu, penting untuk tetap mencari ruang yang memungkinkan kemampuan diri berkembang, misalnya melalui proyek sampingan, komunitas, atau kursus yang sesuai dengan minat dan keterampilan yang dimiliki.
Dengan cara tersebut, individu tetap memiliki kesempatan untuk mengaktualisasikan kemampuan yang lebih tinggi sekaligus menjaga keyakinan bahwa dirinya tetap kompeten, meskipun pekerjaan saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kapasitas yang dimiliki.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang