Psikolog Ungkap Trik Pelaku Child Grooming, Anak dan Remaja Harus Waspada

Aurelie Moeremans, child grooming, Psikolog Ungkap Trik Pelaku Child Grooming, Anak dan Remaja Harus Waspada, Pengertian child grooming, Tahapan pelaku child grooming, Ciri pelaku child grooming, Cara pelaporan child grooming di Indonesia, Langkah pemulihan korban

 Pelaku child grooming kerap menggunakan pendekatan psikologis yang halus dan bertahap untuk membangun kepercayaan korban, terutama anak dan remaja.

Psikolog menjelaskan, pelaku biasanya memulai dengan bersikap sangat perhatian, memberi pujian berlebihan, hadiah kecil, atau menjadi tempat curhat yang “aman”.

Dalam fase ini, pelaku berusaha menurunkan kewaspadaan korban sekaligus menciptakan ikatan emosional, sehingga anak merasa dipahami dan spesial.

Seiring waktu, batasan perlahan digeser, mulai dari percakapan pribadi, permintaan rahasia, hingga normalisasi perilaku yang sebenarnya tidak pantas.

Pola tersebut juga tercermin dalam berbagai pengakuan korban, termasuk yang pernah disampaikan aktris Aurelie Moeremans.

Ia mengungkap pernah mengalami proses manipulatif yang membuatnya sulit menyadari bahwa dirinya sedang dijerat.

Menurut psikolog, hal paling berbahaya dari grooming adalah sifatnya yang tidak terasa mengancam di awal, sehingga korban kerap menyalahkan diri sendiri ketika situasi berubah menjadi eksploitatif.

Karena itu, pemahaman tentang trik psikologis pelaku menjadi kunci penting agar orangtua, pendidik, dan anak bisa lebih waspada sejak dini.

Pengertian child grooming

Kisah yang dibagikan oleh Aurelie Moeremans membuka mata banyak orang tentang betapa halusnya taktik child grooming dilakukan.

"Keberaniannya berbicara membantu banyak orang menyadari bahwa apa yang sering dianggap sebagai cinta monyet atau hubungan dewasa, sebenarnya bisa jadi merupakan bentuk manipulasi yang terencana," ucap Danti Wulan Manunggal, psikolog Ibunda.id kepada Kompas.com, Selasa (13/1/2026).

Menurut Danti, child grooming adalah proses di mana seorang dewasa membangun ikatan emosional dengan seorang anak (atau remaja di bawah umur) untuk memenangkan kepercayaan mereka dengan tujuan akhir eksploitasi seksual, perdagangan, atau pelecehan.

Ciri utama dari grooming adalah manipulasi yang lambat dan sistematis. Pelaku sering kali tidak terlihat seperti "penjahat", melainkan sosok yang perhatian, suportif, dan baik hati.

Tahapan pelaku child grooming

Menurut Danti, pelaku child grooming biasanya akan melakukan tahapan-tahapan ini:

  • Memilih korban: Mencari anak yang terlihat kesepian, memiliki masalah di rumah, atau butuh perhatian ekstra.
  • Membangun kepercayaan: Memberikan hadiah, pujian berlebih, atau bantuan emosional.
  • Isolasi: Pelaku perlahan menjauhkan korban dari orangtua atau teman-temannya dengan menanamkan pikiran bahwa "hanya aku yang mengerti kamu".
  • Membangun rahasia: Mengajak korban melakukan hal-hal kecil yang bersifat rahasia untuk menciptakan ikatan eksklusif.
  • Eksploitasi: Setelah korban merasa sangat bergantung secara emosional, pelaku mulai melakukan pelecehan atau pemaksaan.

"Dalam kasus Aurelie, ia menceritakan bagaimana ia dimanipulasi di usia yang sangat muda oleh orang yang lebih dewasa hingga terjebak dalam hubungan yang toksik dan penuh tekanan selama bertahun-tahun," papar Danti.

Ciri pelaku child grooming

Berikut ciri perilaku yang perlu diwaspadai, yang biasanya dilakukan pelaku child grooming:

  • Terlalu intens: Ingin tahu segala detail kehidupan korban dalam waktu singkat.
  • Posesif berkedok peduli: Marah jika korban menghabiskan waktu dengan orang lain.
  • Pemberian quid pro quo: Memberi bantuan atau barang dengan harapan korban merasa "berutang budi" secara emosional.
  • Bahasa yang tidak sesuai usia: Menggunakan panggilan sayang atau topik pembicaraan dewasa kepada anak di bawah umur atau remaja.

"Grooming adalah bentuk manipulasi psikologis yang merusak fondasi kepercayaan seseorang. Jika kita melihat pola 'perhatian yang tidak wajar' dari orang dewasa kepada yang lebih muda, itu adalah sinyal untuk segera waspada," pesan Danti.

Cara pelaporan child grooming di Indonesia

Jika seseorang merasa mengalami salah satu atau beberapa dari hal di atas, dan khawatir menjadi korban child grooming, maka ini beberapa jalur resmi yang bisa ditempuh untuk mendapatkan perlindungan hukum dan pendampingan: 

 1. Layanan SAPA 129

Kementerian PPPA menyediakan hotline khusus untuk pengaduan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

  • Telepon: 129
  • WhatsApp: 08111-129-129

2. KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia)

Anda bisa melaporkan kasus grooming melalui situs resmi kpai.go.id atau datang langsung ke kantor KPAI.

3. Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) di Kepolisian

Anda bisa melaporkan langsung ke kantor polisi terdekat (Polres atau Polda) dan meminta diarahkan ke unit PPA agar mendapatkan penanganan yang lebih sensitif gender dan usia.

4. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) APIK

Jika membutuhkan pendampingan hukum secara gratis dan berfokus pada hak perempuan, LBH APIK adalah salah satu lembaga yang sangat terpercaya di Indonesia.

Langkah pemulihan korban

Menurut Danti, pemulihan dari child grooming bukanlah proses yang instan karena dampaknya melibatkan trauma psikologis yang mendalam dan rasa bersalah yang sering kali salah alamat.

  • Terapi trauma-informed: Mencari psikolog atau psikiater yang ahli dalam menangani trauma pelecehan seksual. Terapi ini membantu korban menyadari bahwa mereka adalah korban, bukan pihak yang bersalah.
  • Memutus kontak sepenuhnya: Ini adalah langkah krusial. Korban perlu menjauh secara fisik dan digital dari pelaku agar manipulasi tidak berlanjut.
  • Dukungan support system: Kehadiran keluarga atau sahabat yang tidak menghakimi sangat penting untuk mengembalikan rasa aman korban.
  • Edukasi diri: Memahami bahwa apa yang terjadi adalah bentuk kejahatan terencana membantu korban melepaskan beban perasaan "bodoh" atau "mau saja diajak".

"Child grooming adalah murni tanggung jawab pelaku dewasa. Tidak peduli seberapa  dewasa penampilan atau perilaku seorang anak, tanggung jawab moral dan hukum sepenuhnya ada pada orang dewasa tersebut," pungkas Danti.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang