Psikolog Ungkap Metode Parenting yang Memperkuat Bonding dengan Anak

Psikolog Ungkap Metode Parenting yang Memperkuat Bonding dengan Anak, Asal-usul metode pengasuhan 5:1, Cara menerapkan metode pengasuhan 5:1, Dampak metode pengasuhan 5:1 pada anak, Efektif diterapkan di segala usia

 Mengasuh anak adalah tantangan yang sulit, apalagi saat kamu menghadapi berbagai masalah umum, seperti amukan yang tidak terkendali atau persaingan antarsaudara.

Namun, pendekatan yang lebih berfokus secara penuh pada perilaku positif dapat sangat membantu keseharian kamu.

Metode pengasuhan 5:1 hadir untuk mengalihkan perhatian orangtua dari berbagai tindakan negatif menuju interaksi positif. Metode ini dirancang demi memperkuat ikatan (bonding) bersama anak. Seperti apa?

Metode pengasuhan 5:1 untuk perkuat bonding dengan anak

Asal-usul metode pengasuhan 5:1

Psikolog Klinis dan Kepala Divisi Psikologi di Phoenix Children's Carla C. Allan, PhD, menjelaskan bahwa metode pengasuhan 5:1 adalah pedoman yang dibangun untuk membangun hubungan yang lebih sehat antara orangtua dan anak.

"Ketika orangtua menerapkan metode 5:1 secara konsisten, mereka mencontohkan pengaturan emosi, mengurangi stres keluarga, dan membantu membangun kepercayaan dan ketahanan pada anak-anak mereka," ucap dia, menyadur Parents, Rabu (10/6/2026).

Metode ini bersumber dari Psikolog John Gottman, PhD. Riset pernikahannya menemukan, hubungan langgeng memiliki rasio lima interaksi positif berbanding satu interaksi negatif.

"Dan, meskipun awalnya diteliti pada pasangan, prinsip tersebut berlaku sama untuk anak-anak. Mereka berkembang pesat ketika kehangatan, dorongan, dan koneksi, jauh melampaui kritik atau hukuman," ungkap Allan.

Cara menerapkan metode pengasuhan 5:1

Dalam menerapkan metode ini, artinya orangtua sengaja menambah pujian, umpan balik positif, serta waktu berkualitas setiap hari.

Psikolog Nina Kaiser, PhD, menganalogikan hubungan dengan anak seperti rekening bank. Orangtua harus konsisten "menyetor uang", dalam hal ini interaksi positif, demi menjaga koneksi yang kuat.

"Sangat mudah bagi kita untuk melihat dan mengomentari hal-hal yang salah, atau di mana hal-hal harus diubah atau diperbaiki, dan jauh lebih sulit untuk memerhatikan hal-hal yang berjalan dengan benar atau yang dilakukan anak-anak kita dengan baik," tuturnya.

Psikolog Ungkap Metode Parenting yang Memperkuat Bonding dengan Anak, Asal-usul metode pengasuhan 5:1, Cara menerapkan metode pengasuhan 5:1, Dampak metode pengasuhan 5:1 pada anak, Efektif diterapkan di segala usia

Ilustrasi orangtua. Psikiater menjelaskan bahwa pola komunikasi dan cara orang tua memperlakukan anak sejak kecil sangat memengaruhi kemampuan anak membangun hubungan yang sehat saat dewasa.

Jika terbiasa menegur saat anak bertengkar, cobalah memuji saat mereka bermain akur. Allan menambahkan, kamu tidak perlu menghitung secara harfiah sudah berapa banyak interaksi positif dan negatif yang terjadi dengan anak.

Rasio lima interaksi positif dan satu interaksi negatif hanya untuk mengajak orangtua "sengaja" memperbanyak interaksi positif dengan si kecil.

"Karena otak kita secara alami lebih cepat menangkap hal negatif, orangtua perlu sengaja membangun kesadaran diri agar interaksi positif dengan anak tidak kalah oleh momen koreksi," ujar Allan.

Dampak metode pengasuhan 5:1 pada anak

Saat interaksi harian didominasi hal positif, anak merasa aman dan didukung. Hubungan emosional yang kuat juga membantu mengurangi perilaku mereka untuk bertingkah demi mendapatkan perhatian.

Lebih lanjut, Psikoterapis Olivia Bergeron, LCSW, mengatakan bahwa ikatan yang kuat dan positif membuat si kecil jauh lebih mungkin untuk mengikuti arahan ayah dan ibu.

"Mereka belajar memercayai kita. Kita tidak berada di pihak yang berseberangan. Ini membuat pengasuhan jauh lebih mudah," tutur dia.

"Jika secara konsisten berempati, anak-anak akan mengembangkan resiliensi, dan menjadi lebih baik dalam menghadapi kesalahan yang tak terhindarkan yang terjadi," sambung Bergeron.

Efektif diterapkan di segala usia

Metode ini efektif diterapkan pada setiap rentang usia karena mampu mendorong proses pembelajaran sekaligus memperkuat ikatan.

"Balita belajar bahwa cinta orangtua mereka tidak bergantung pada perilaku. Anak-anak usia sekolah belajar bahwa nilai mereka tidak bergantung pada prestasi atau kemampuan mereka, tetapi pada siapa mereka sebagai teman dan anggota keluarga," kata Bergeron.

"Remaja belajar bahwa bahkan saat mereka bereksperimen dan pengaruh teman sebaya tumbuh lebih kuat, orangtua ada di pihak mereka, sehingga dampaknya tetap kuat," lanjut dia.

Bergeron menegaskan bahwa penggunaan metode 5:1 sama sekali berbeda dengan pola asuh permisif, yang mana orangtua membiarkan anak tanpa batasan dan memiliki sangat sedikit aturan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang