Sinkhole Raksasa Misterius di Lima Puluh Kota, Badan Geologi ESDM Ungkap Penyebabnya

Badan Geologi, Sinkhole Raksasa Misterius di Lima Puluh Kota, Badan Geologi ESDM Ungkap Penyebabnya, Kapan dan bagaimana sinkhole di Lima Puluh Kota terjadi?, Apa hasil kajian Badan Geologi terkait penyebab amblesan?, Mengapa bukan batu gamping yang menjadi pemicu sinkhole?, Seberapa besar pengaruh curah hujan terhadap kejadian ini?, Bagaimana proses teknis terbentuknya sinkhole?

 Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan penjelasan terkait fenomena amblesan tanah atau sinkhole yang terjadi secara misterius di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Peristiwa yang terjadi pada awal Januari 2026 itu dipastikan bukan disebabkan oleh runtuhan batu gamping sebagaimana sinkhole pada umumnya.

Penjelasan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, berdasarkan hasil kajian tim yang turun langsung ke lokasi kejadian.

Fenomena ini sempat menimbulkan kekhawatiran warga karena terjadi secara perlahan namun berdampak signifikan terhadap lahan pertanian.

Kapan dan bagaimana sinkhole di Lima Puluh Kota terjadi?

Lana Saria menjelaskan, berdasarkan laporan yang diterima Badan Geologi, peristiwa tanah amblas tersebut terjadi pada 4 Januari 2026. Kejadian itu ditandai dengan terbentuknya lubang besar di lahan pertanian milik warga.

Lubang tersebut memiliki diameter sekitar 20 meter dengan kedalaman kurang lebih 15 meter.

Amblesan ini muncul di area persawahan yang selama ini aktif dimanfaatkan warga untuk kegiatan pertanian.

Apa hasil kajian Badan Geologi terkait penyebab amblesan?

Berdasarkan kajian tim dari Badan Geologi, amblesan tanah di lokasi tersebut terjadi akibat proses erosi bawah permukaan atau erosi buluh. Proses ini berlangsung secara bertahap dan tidak terjadi secara tiba-tiba.

Menurut Lana, aliran air bawah permukaan secara perlahan mengikis lapisan tanah hingga membentuk rongga.

Ketika rongga tersebut tidak lagi mampu menopang beban tanah di atasnya, maka terjadi runtuhan yang tampak di permukaan.

Tim juga memastikan lokasi kejadian tidak berada pada batuan gamping, yang umumnya menjadi penyebab terbentuknya sinkhole di wilayah karst.

Mengapa bukan batu gamping yang menjadi pemicu sinkhole?

Lana menjabarkan bahwa lokasi kejadian berada pada endapan lapukan batuan vulkanik berupa tuf batu apung. Material ini memiliki tekstur halus dan mengandung mineral lempung.

Di bagian bawah lapisan tersebut terdapat batu gamping malihan yang bersifat relatif kedap air.

Kondisi ini menyebabkan aliran air tertahan dan menggerus lapisan tanah di atasnya secara perlahan.

Kombinasi antara lapisan tanah yang mudah tererosi dan lapisan kedap air di bawahnya memicu terbentuknya rongga bawah permukaan, yang pada akhirnya menyebabkan tanah amblas.

Seberapa besar pengaruh curah hujan terhadap kejadian ini?

Selain faktor jenis batuan, Badan Geologi menilai curah hujan turut berperan penting dalam mempercepat proses terjadinya amblesan.

Wilayah Lima Puluh Kota diketahui memiliki intensitas curah hujan yang relatif tinggi, yakni sekitar 2.000 hingga 2.500 milimeter per tahun.

Curah hujan yang tinggi meningkatkan volume air yang meresap ke dalam tanah. Air ini kemudian mengalir melalui rekahan-rekahan kecil di permukaan dan mempercepat proses pengikisan tanah di bawahnya.

Bagaimana proses teknis terbentuknya sinkhole?

Secara teknis, Badan Geologi menjelaskan amblesan diawali dengan terbentuknya rekahan di permukaan tanah. Rekahan tersebut kemudian menjadi jalur masuk air ke dalam tanah.

Air yang masuk membentuk rongga bawah permukaan akibat pengikisan material tanah. Seiring waktu, rongga membesar dan menyebabkan lapisan tanah di atasnya kehilangan penyangga hingga akhirnya runtuh.

Proses ini dapat berlangsung dalam waktu lama tanpa disadari, sehingga amblesan kerap terlihat muncul secara mendadak di permukaan.

Lana menambahkan, fenomena amblesan serupa juga berpotensi terjadi di lokasi pertanian lain yang memiliki kondisi geologi dan tata guna lahan yang sama.

Risiko tersebut meningkat pada lahan pertanian intensif dengan sistem irigasi yang kurang baik.

Aliran air irigasi yang tidak terkontrol dapat memperbesar peluang terjadinya pengikisan tanah bawah permukaan, terutama pada daerah dengan lapisan tanah yang mudah tererosi.

Kendati demikian, Badan Geologi mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik menyikapi kejadian tersebut.

Warga diminta meningkatkan kewaspadaan apabila menemukan tanda-tanda awal berupa retakan tanah yang semakin membesar.

Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan temuan tersebut kepada aparat setempat agar dapat dikoordinasikan dengan instansi berwenang untuk penanganan lebih lanjut.

Sebagai langkah pemanfaatan, Badan Geologi merekomendasikan lubang yang terbentuk akibat sinkhole dapat dijadikan tempat penyimpanan air, dengan catatan dibuat pagar pengaman di sekelilingnya untuk mencegah kecelakaan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang