Penjualan Mobil Turun Lagi, Gaikindo Ungkap Penyebabnya

Pasar otomotif roda empat Indonesia mengalami kelesuan sepanjang bulan Mei 2026. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengungkap penyebabnya.
Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, mengonfirmasi beberapa sentimen yang membayangi pasar otomotif tanah air, termasuk isu penundaan insentif untuk mobil listrik serta fluktuasi nilai tukar mata uang.
"Iya kan soal insentif yang ditunda, melemahnya rupiah, dan lain-lain," ujar Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto kepada detikoto.
Penundaan kepastian insentif kendaraan listrik disinyalir membuat calon pembeli lebih memilih untuk mengambil sikap wait and see. Banyak konsumen yang menunda transaksi demi mendapatkan harga terbaik jika regulasi insentif tersebut nantinya resmi diketuk palu.
Data penjualan mobil dari pabrik ke dealer (wholesales) pada Mei 2026 tercatat jeblok 14,3 persen secara bulan ke bulan dengan total distribusi hanya 69.219 unit. Padahal bulan April bisa terdistribusi sebanyak 80.779 unit.
Setali tiga uang, penjualan mobil dari dealer ke konsumen (retail sales) juga terkoreksi minus 5,1 persen dari bulan lalu dengan capaian 71.890 unit.
Meski rapor Mei turun, tren positif masih terlihat pada angka kumulatif tahunan. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, total penjualan retail sukses menyentuh 359.490 unit alias naik 8,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Data wholesales kumulatif juga melonjak 12,8 persen ke angka 359.015 unit.
Sementara itu, pemerintah berencana akan kembali memberikan insentif untuk mobil dan motor listrik. Awalnya, rencana pemberian insentif untuk kendaraan listrik itu berlaku mulai Juni 2026. Namun Menteri Keuangan Purbaya menyebut insentif itu ditunda.
"Insentif EV masih ditunda satu bulan lagi," kata Purbaya kepada wartawan Selasa (26/5).