Psikolog Ungkap 4 Faktor yang Menyebabkan Game Online Picu Perilaku Kekerasan Anak

game online, Psikolog Ungkap 4 Faktor yang Menyebabkan Game Online Picu Perilaku Kekerasan Anak, 1. Perkembangan otak remaja (prefrontal cortex), 2. Adiksi dan dopamin, 3. Mekanisme koping yang buruk, 4. Faktor lingkungan dan pola asuh

Ada beberapa kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak terjadi akibat pengaruh dari game online.

Misalnya peristiwa seorang anak laki-laki (9) yang nekat membakar belasan rumah warga di Desa Tipar, Citamiang, Kota Sukabumi, Jawa Barat, pada Mei 2025.

Aksi ini diduga dipicu oleh pengaruh tontonan film dan adegan dalam game online yang kemudian ditiru oleh anak tersebut.

Terbaru, pada Rabu (10/12/2025) lalu, seorang anak (12) melukai ibunya yang sedang tidur menggunakan pisau di Medan Sumatera Utara, sehingga berujung meninggal dunia.

Menurut keterangan polisi, salah satu motif tindakan tersebut adalah sakit hati karena sang ibu menghapus game online.

Selain itu, sang anak juga disebut sering kali memainkan game online yang menggunakan pisau dan menonton serial anime yang menampilkan pisau.

Meski demikian, peristiwa-peristiwa kekerasan yang terjadi bukan semata-mata hanya terjadi karena game online. Melainkan juga karena faktor kerentanan lainnya.

Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, mengatakan bahwa game online berperan sebagai pemicu (trigger) dan penyedia model perilaku.

“Namun ada faktor kerentanan lain (seperti kematangan emosi, adiksi, dan kemungkinan masalah kesehatan mental yang tidak terdeteksi) yang membuat tragedi ini terjadi,” kata Danti saat dihubungi Kompas.com, Selasa (30/12/2025).

Mengapa game dapat memengaruhi perilaku?

Game bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan perubahan perilaku. Itu sebabnya dari jutaan anak bermain game kekerasan, hanya segelintir yang bertindak ekstrem.

Danti menjelaskan beberapa faktor dinamika psikologis di baliknya, yakni:

1. Perkembangan otak remaja (prefrontal cortex)

Pada usia 12 tahun, bagian otak prefrontal cortex (pusat kendali impuls, logika, dan konsekuensi) belum matang sempurna. Sementara itu, sistem limbik (pusat emosi) sedang sangat aktif.

Ketika emosi memuncak dan merasa marah, anak tidak mampu berpikir panjang tentang konsekuensi perbuatannya.

2. Adiksi dan dopamin

Game online dirancang untuk memberikan dopamin secara terus-menerus. Jika seorang anak sudah mengalami adiksi, game tersebut bukan lagi sekadar hiburan, melainkan kebutuhan emosional.

Ada efek sakau, menghapus atau melarang game secara tiba-tiba pada anak yang sedang adiksi bisa memicu reaksi kemarahan yang luar biasa.

3. Mekanisme koping yang buruk

Bagi sebagian anak, game adalah pelarian dari masalah di sekolah, rasa kesepian, atau perasaan tidak berdaya.

Ketika "dunia aman" tersebut dihancurkan, mereka merasa kehilangan identitas dan kontrol diri, yang kemudian diekspresikan melalui agresi.

4. Faktor lingkungan dan pola asuh

Orang tua terkadang tidak memberikan edukasi digital yang baik dan hanya melarang tanpa memberikan pemahaman atau pendampingan saat anak bermain.

Selain itu, jika hubungan emosional anak dan orang tua sudah renggang sebelumnya, tindakan tegas (seperti menghapus game) akan dianggap sebagai serangan pribadi, bukan bentuk kasih sayang atau disiplin.

Game online berisiko “merusak” kerja otak

game online, Psikolog Ungkap 4 Faktor yang Menyebabkan Game Online Picu Perilaku Kekerasan Anak, 1. Perkembangan otak remaja (prefrontal cortex), 2. Adiksi dan dopamin, 3. Mekanisme koping yang buruk, 4. Faktor lingkungan dan pola asuh

Ilustrasi bermain game online. Pengaruh game online terhadap perilaku kekerasan yang dilakukan anak.

Sejalan dengan itu, pakar psikologi forensik Reza Indragiri menjelaskan ada dua mekanisme yang membuat game online, terutama berbau kekerasan, bisa memengaruhi perilaku pemainnya.

Mekanisme hormonal menyebabkan seseorang yang bermain game online mengalami ledakan dopamin, sehingga membuatnya ketagihan.

Kemudian berikutnya ada mekanisme neurologis yang berkaitan dengan mekanisme kerja otak pemain.

“Ada mekanisme yang kedua, kalau saya tidak salah namanya mekanisme neurologis atau fisiologis, tentang mekanisme kerja otak,” kata Reza kepada Kompas.com, Selasa (30/12/2025).

Menurut Reza, salah satu dampak negatif game online bagi anak adalah penggunaan kata-kata ekstrem seperti, tembak aja tuh, habisi, bunuh, tusuk, dan seterusnya.

“Anak-anak yang main game kekerasan juga punya suasana batin yang sama. Gampang banget mengeluarkan kosakata yang sebetulnya kita merasa ngilu dengarnya,” ujarnya.

Dia menjelaskan, ketika seseorang merasa ngilu mendengar kata-kata ekstrem, tandanya dua titik otak terpantik sekaligus.

“Satu, titik otak berpikir, kognisi, dan titik otak merasa emosi, normalnya begitu,” jelas Reza.

“Tapi anak-anak kita yang sudah mencandu game ini yang teraktivasi hanya satu titik, otak berpikir saja. (Sedangkan) otak merasa-nya sudah mati,” sambung dia.

Sehingga, jelas Reza, kata bunuh, tembak, habisi, bom aja menjadi enteng karena tidak membuat memantik titik emosi di otak.

Pengaruh game online dapat mengondisikan otak anak-anak untuk pada akhirnya bekerja layaknya otak psikopat.

“Itu kombinasi dari teraktivasi secara hormonal, dopaminnya jadi tumpah ruah, dan pada saat yang sama otak yang mengurusi emosi, empati, dan seterusnya hilang redup aja gitu,” pungkas Reza.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang