Psikolog Ungkap 3 Faktor yang Memicu Hoarding Disorder, Apa Saja?

hoarding disorder, Psikolog Ungkap 3 Faktor yang Memicu Hoarding Disorder, Apa Saja?

Hoarding disorder atau gangguan penimbunan adalah kondisi seseorang mengumpulkan sejumlah barang dan menyimpannya secara berantakan.

Kondisi ini biasanya mengakibatkan penumpukan barang yang tidak terkendali. Bahkan barang-barang tersebut bisa saja tidak memiliki nilai sama sekali.

Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, menyebut bahwa hoarding disorder termasuk kondisi kesehatan mental.

Hoarding disorder (gangguan menimbun) bukan sekadar kebiasaan buruk atau kemalasan. Ini adalah kondisi kesehatan mental kompleks yang tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5),” kata Danti saat dihubungi Kompas.com, Rabu (17/12/2025).

Menurut dia, perilaku menimbun bisa saja terjadi karena adanya rasa “penderitaan” ketika harus membuang barang-barang tersebut.

“Secara psikologis, perilaku ini berakar pada ketidakmampuan yang mendalam untuk membuang barang—terlepas dari nilai aktualnya—karena adanya keinginan kuat untuk menyimpannya dan rasa penderitaan (distres) yang nyata saat harus membuangnya,” jelasnya.

Danti menjelaskan bahwa hoarding disorder bukan sekadar menimbun sampah atau "malas bersih-bersih", melainkan mekanisme mental yang kompleks dan melibatkan tiga area utama:

1. Gangguan proses berpikir (kognitif)

Danti mengatakan, otak pengidap hoarding disorder memproses informasi dengan cara yang berbeda.

Ada kelumpuhan pengambilan keputusan, seperti memutuskan nasib satu barang kecil (misal: botol bekas) terasa sama beratnya dengan keputusan hidup yang besar.

Mereka juga sering kali merasa takut membuat keputusan yang "salah", misalnya takut membuang sesuatu yang mungkin berguna nanti.

Ada juga masalah kategorisasi di mana mereka melihat setiap benda sebagai unit yang unik, bukan sebagai kelompok. Ini membuat pengorganisasian menjadi mustahil.

Ironisnya, mereka sering kali perfeksionis. Mereka menunda membereskan barang karena merasa belum bisa melakukannya secara "sempurna" atau belum punya wadah yang "tepat".

2. Keterikatan emosional yang berlebihan

hoarding disorder, Psikolog Ungkap 3 Faktor yang Memicu Hoarding Disorder, Apa Saja?

Mengenal pengertian dan penyebab hoarding disorder.

Benda mati memiliki makna emosional yang sangat dalam bagi orang yang mengalami kondisi hoarding disorder.

“Identitas diri, barang dianggap sebagai ekstensi dari diri atau memori mereka. Membuang barang terasa seperti membuang bagian dari diri sendiri atau melupakan masa lalu,” ujar Danti.

Terkadang, tumpukan barang menciptakan "benteng" fisik yang memberikan rasa aman dan kenyamanan (safety signal) dari dunia luar.

Bahkan, mereka sering kali merasa kasihan pada benda mati, merasa benda tersebut akan "kesepian" atau "terluka" jika dibuang ke tempat sampah.

3. Perilaku penghindaran (avoidance)

Danti menjelaskan, avoidance termasuk mesin utama yang dapat memperparah kondisi gangguan hoarding.

Di mana membuang barang akan memicu kecemasan dan penderitaan (distress) yang nyata di otak mereka.

“Sehingga, untuk menghindari rasa sakit itu, mereka memilih "menyimpan". Tindakan ini memberikan rasa lega instan (negative reinforcement), yang akhirnya menjadi siklus kebiasaan yang sulit diputus,” jelas Danti.

Dia menambahkan, sering kali kondisi hoarding disorder juga dipicu oleh trauma masa lalu, seperti kehilangan orang dicintai atau kemiskinan ekstrem.

Sehingga, menimbun barang menjadi cara koping untuk mengisi "kekosongan" emosional tersebut.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang