Psikolog Ungkap Alasan Kerabat Sering Tanya “Kapan Nikah” dan “Kapan Punya Anak” Saat Lebaran

Banyak warganet mengaku "trauma" mendekati Lebaran lantaran selalu mendapatkan pertanyaan klise yang bersifat personal.
Pertanyaan seputar kapan menikah, kapan lulus kuliah, atau kapan punya anak, sering datang saat ajang silaturahmi keluarga.
Akibat pertanyaan ini, beberapa warganet bahkan berencana tak pulang di hari Lebaran agar kondisi mentalnya terjaga.
Psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, menanggapi fenomena tersebut dan menelisiknya lewat sisi psikologi.
Menurutnya, kerabat yang sering menanyakan pertanyaan klise itu, seringnya tak ada ada tendensi negatif.
Alasan kerabat menanyakan pertanyaan klise
Danti tak mengelak, bahwa pertemuan keluarga saat Hari Raya sering kali menjadi "medan perang" psikologis bagi banyak orang.
Namun sebenarnya, pertanyaan seperti kapan nikah dan kapan punya anak yang meluncur dari beberapa kerabat tersebut bisa dianalisis secara mendalam untuk membantu kita merespons dengan lebih elegan dan tenang.
Sebelum merasa tersinggung, Danti menyarankan penting untuk memahami motif penanya dari sudut pandang psikologis.
1. Keterbatasan social script
"Banyak anggota keluarga (terutama generasi tua) tidak memiliki keterampilan komunikasi yang variatif. Pertanyaan klise adalah 'naskah sosial' paling aman bagi mereka untuk memulai percakapan, meskipun bagi kita itu terasa intrusif," ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (10/3/2026).
2. Adanya proyeksi nilai (projection)
"Mereka menanyakan hal tersebut karena bagi mereka, indikator kebahagiaan dan kesuksesan adalah hal-hal normatif tersebut. Mereka memproyeksikan standar hidup mereka kepada Anda," ujarnya.
Jadi, pertanyaan klise datang karena indikator kebahagiaan mereka sempit, tidak seluas seperti generasi modern.
3. Adanya upaya mencari koneksi tapi gagal
Kerabat yang menanyakan pertanyaan klise, biasanya hanya ingin terkoneksi dengan hidup kita. Tapi, kemampuan komunikasi mereka sangat terbatas, sehingga akhirnya gagal.
"Sering kali, itu adalah upaya canggung untuk menunjukkan perhatian. Mereka ingin merasa terlibat dalam hidup Anda, namun tidak tahu cara lain selain menanyakan hal-hal yang bersifat pencapaian," papar Danti.
Bagaimana cara menanggapinya?
Ilustrasi silaturahmi Lebaran. Psikolog beberkan cara merespons pertanyaan klise Lebaran.
Menurut Danti, dalam menghadapi pertanyaan klise di Hari Raya itu, layaknya menghadapi "ujian dadakan" yang sudah kita tahu soalnya, tapi tetap saja bikin deg-degan."Kuncinya bukan pada jawabannya, tapi pada energi yang Anda keluarkan saat merespons," paparnya.
Berikut adalah tips praktis dan "naskah" jawaban yang bisa Anda gunakan untuk berbagai situasi:
1. Strategi umum: the art of deflection
Sebelum masuk ke pertanyaan spesifik, gunakan tiga taktik ini:
- Jawab dan tanya balik: Orang paling suka membicarakan diri sendiri. Jadi lempar kembali bola percakapan ke mereka.
- The "Broken Record": Siapkan satu jawaban templat yang membosankan dan ulangi terus sampai mereka bosan bertanya.
- Humor ringan: Tertawakan situasi tersebut sebelum mereka sempat menghakimi Anda.
2. Naskah jawaban untuk pertanyaan spesifik
Pertanyaan: "Kapan Nikah?" atau "Mana Calonnya?"
Tujuan tips ini untuk menutup celah debat tanpa terlihat defensif.
- Versi humor: "Masih dalam tahap seleksi alam, Tante. Takutnya kalau buru-buru nanti malah salah pilih kayak beli barang flash sale."
- Versi diplomatik: "Doakan saja ya, semoga dipertemukan di waktu yang tepat. Tante dulu gimana ceritanya bisa ketemu Om?" (Langsung tanya balik).
- Versi santai: "Lagi nabung buat biaya kateringnya nih, kan sekarang harga cabai lagi mahal."
Pertanyaan: "Kapan Punya Anak?" atau "Kapan Nambah?"
Tujuan tips ini adalah untuk menjaga privasi dengan lembut.
- Versi singkat: "Belum dikasih rezeki, Om. Mohon doanya saja ya." (Jawaban paling aman agar mereka segan lanjut bertanya).
- Versi pengalihan: "Lagi menikmati masa-masa pacaran berdua dulu. Eh, lihat deh cucunya Tante yang kecil itu, lagi lucu-lucunya ya!"
Pertanyaan: "Kerja di Mana?" atau "Gajinya Berapa?"
Tujuan tips ini: Menghindari pamer atau rasa rendah diri.
- Versi vague (Kabur): "Alhamdulillah, yang penting cukup buat jajan, bayar cicilan, sama kasih amplop buat keponakan."
- Versi fokus ke proses: "Lagi sibuk belajar hal baru di kantor, lumayan menantang tapi seru. Kalau Om sekarang kegiatannya apa setelah pensiun?"
Pertanyaan: "Kok Gemukan/Kurusan?" (komentar fisik)
Tujuan tips ini: Menanggapi tanpa sakit hati.
- Versi positif: "Iya nih, saking bahagianya makan masakan Mama di rumah, jadi tambah 'lebar' sedikit."
- Versi singkat: "Efek pencahayaan saja ini mah, aslinya tetap sama kok."
3. Menghadapi "kerabat yang gigih"
Jika ada anggota keluarga yang terus mengejar (interogasi), gunakan teknik "The Gray Rock".
Jadilah membosankan seperti batu abu-abu. Berikan jawaban satu kata: "Iya", "Begitulah", "Mungkin","ohh","doakan saja".
Jangan berikan detail emosional atau cerita panjang. Lama-lama, mereka akan mencari "target" lain yang reaksinya lebih menarik.
"Ingat, Hari Raya hanya berlangsung beberapa hari, tapi ketenangan batin Anda berharga selamanya. Jangan biarkan pertanyaan 5 menit merusak suasana hati Anda selama sisa liburan," pungkas Danti.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang