Psikolog Ungkap Kunci Membentuk Anak Empatik, Tak Harus dari Keluarga yang Sempurna

Banyak orangtua percaya bahwa anak yang tumbuh dalam keluarga harmonis memiliki peluang lebih besar untuk menjadi pribadi yang hangat dan empatik.
Meski demikian, kondisi keluarga yang tidak sepenuhnya ideal bukan berarti menghalangi anak untuk mengembangkan karakter yang peduli terhadap orang lain.
Psikolog Klinis Anak dan Remaja dari Lembaga Psikologi Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, mengatakan bahwa yang paling penting dalam perkembangan karakter anak adalah adanya figur dewasa yang mampu memberikan dukungan emosional secara konsisten.
Menurut Vera, figur tersebut tidak selalu harus berasal dari orangtua. Dalam beberapa kasus, anak dapat memperoleh dukungan emosional dari orang lain di sekitarnya, seperti guru, kakek-nenek, saudara, atau lingkungan sosial yang suportif.
“Banyak anak juga berkembang menjadi pribadi yang hangat karena dipengaruhi oleh figur signifikan lain dalam hidupnya. Paling penting adalah anak memiliki setidaknya satu figur dewasa yang peduli, kompeten dalam pengasuhan anak, serta mampu memberikan rasa aman, dukungan, dan penerimaan secara konsisten,” ujar Vera dikutip dari ANTARA, Rabu (11/3/2026).
Pentingnya rasa aman secara emosional
Vera menjelaskan bahwa karakter anak yang hangat dan peduli umumnya tumbuh dari lingkungan yang memberikan rasa aman secara emosional.
Anak yang merasa diterima, dihargai, dan dicintai apa adanya akan lebih mudah mengembangkan empati terhadap orang lain.
Rasa aman tersebut membuat anak merasa nyaman mengekspresikan perasaan dan belajar memahami emosi, baik emosi dirinya sendiri maupun orang lain.
“Anak yang merasa diterima dan dicintai tanpa syarat akan lebih mudah mengembangkan empati terhadap orang lain,” jelas Vera.
Sebaliknya, jika anak sering merasa diabaikan atau tidak dipahami, kemampuan mereka dalam memahami perasaan orang lain juga dapat terhambat.
Ilustrasi anak bermain gawai. PBESI mengimbau orang tua aktif dampingi anak bermain gim Roblox demi cegah paparan konten negatif, sambil menekankan pentingnya edukasi digital parenting.
Empati dipelajari dari lingkungan
Kemampuan empati pada anak tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk melalui pengalaman sehari-hari dan interaksi dengan orang di sekitarnya.
Anak yang terbiasa diperlakukan secara empatik oleh orang dewasa cenderung akan meniru sikap tersebut.
Ketika mereka merasakan bahwa perasaannya didengarkan dan dihargai, anak akan belajar melakukan hal yang sama kepada orang lain.
Menurut Vera, salah satu bentuk sikap empatik dari orang tua atau figur dewasa adalah dengan bersedia mendengarkan perasaan anak dan berusaha memahami apa yang sedang mereka rasakan.
Dengan cara tersebut, anak belajar bahwa emosi adalah sesuatu yang valid dan penting untuk dipahami.
Dukungan dari figur signifikan lain
Dalam situasi tertentu, terutama pada anak yang tumbuh di keluarga dengan konflik atau kondisi yang kurang ideal, kehadiran figur dewasa lain bisa menjadi faktor yang sangat berpengaruh.
Guru di sekolah, kakek-nenek, atau anggota keluarga lain sering kali menjadi sosok yang memberikan rasa aman dan dukungan emosional bagi anak.
figur ini dapat menjadi tempat anak berbagi cerita, mendapatkan nasihat, serta merasakan penerimaan yang membantu mereka membangun kepercayaan diri dan empati.
Vera menegaskan bahwa selama anak memiliki setidaknya satu figur dewasa yang peduli dan hadir secara konsisten dalam hidupnya, perkembangan emosional anak tetap dapat berjalan dengan baik.
Dengan pendekatan yang tepat, bahkan anak yang tumbuh di lingkungan yang kurang ideal tetap berpeluang besar menjadi pribadi yang hangat, peduli, dan memiliki empati terhadap orang lain.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang