Psikolog Ungkap Dampak Video Pendek bagi Kesehatan Mental

Psikolog sekaligus Ketua Bidang Humas Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Samanta Elsener, menegaskan bahwa banyaknya konten video pendek di media sosial menjadi salah satu faktor yang kini paling memengaruhi kondisi mental remaja Indonesia.
Menurut dia, pola konsumsi video pendek seperti yang ada di YouTube Shorts atau TikTok cepat membuat remaja semakin sulit berkonsentrasi dan lebih mudah tersulut emosi.
“Banyaknya video pendek itu ada hubungannya dengan kesehatan mental. Kenapa? Karena video seperti ini bisa bikin fokus alias attention span mereka jadi pendek, dan mereka juga gampang marah-marah,” ujar Samanta ketika ditemui KompasTekno di acara "Beranda Jiwa" di kantor Google Indonesia di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (20/11/2025).
Samanta melanjutkan, video pendek bisa memiliki efek seperti ini karena otak dan hormon pada anak-anak dan remaja (pengguna berusia 5-17 tahun) masih dalam tahap perkembangan.
Pada fase ini, impulsivitas dan sensitivitas emosi meningkat sehingga remaja menjadi kelompok yang paling rentan terhadap efek negatif konten digital.
Psikolog dan Ketua Bidang Humas HIMPSI, Samanta Elsener, di sela acara Beranda Jiwa di kantor Google Indonesia di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (20/11/2025).
Nah, supaya tak terpapar konten negatif, Samanta mendukung jika misalnya pemerintah Indonesia nantinya akan membatasi pemakaian media sosial di Indonesia untuk anak-anak dan remaja, seperti apa yang dilakukan Australia.
"Sebagai psikolog saya sangat mendukung pembatasan usia, karena kita tidak mau anak-anak terpapar konten negatif. Di periode awal perkembangan, hormon dan otaknya pesat, sehingga mereka sangat rentan,” jelas Samanta.
Perlu diajarkan self-control
Pembatasan media sosial bagi remaja mungkin hal yang cukup ekstrem dan saat ini belum berlaku di Indonesia.
Meski demikian, Samanta menilai orang tua saat ini bisa melakukan langkah preventif supaya kesehatan mental anak-anak mereka terjaga.
Salah satunya adalah mengajarkan mereka tentang kontrol diri alias self-control.
"Dengan self-control, anak-anak bisa diajari supaya bisa membatasi menikmati konten di internet. Kalau harus dibatasi terus dengan fitur dan durasi, ini namanya mereka belum punya self-control," ungkap Samanta.
Tampilan fitur Mental Health Shelf di YouTube. Akan muncul label From Health Sources (kotak warna hijau) untuk konten kesehatan dari sumber terakreditasi.
Satu contih self-control yang dinilai ideal menurut Samanta adalah mengajarkan anak-anak menikmati konten internet maksimal hanya dua jam.
Selain self-control, orang tua, lanjut Samanta, juga harus punya literasi digital, termasuk mengetahui cara algoritma internet bekerja. Pengetahuan seperti ini dapat membantu orang tua mengawasi dan mengarahkan pola konsumsi anak di ruang digital.
Ia mencontohkan bahwa ketika seorang anak terus menonton satu jenis konten, algoritma akan otomatis menampilkan lebih banyak konten sejenis, yang dapat mempersempit perspektif atau memperkuat pola tertentu secara berulang.
“Kita harus punya digital literacy dan paham bagaimana algoritma bekerja, supaya kita juga bisa mengajari anak cara berinternet aman," turur Samanta.
"Misalnya, kita bisa ajari bahwa nonton video yang sama berulang akan menampilkan video serupa lagi, dan anak harus tahu ini supaya mereka nonton video yang dimau yang tentunya aman bagi mereka,” pungkas Samanta.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.