Psikolog Ungkap Manfaat Kompetisi untuk Anak, Ternyata Bukan Sekadar Soal Menang-Kalah

Ilustrasi anak sekolah/belajar.
Ilustrasi anak sekolah/belajar.

 Tidak sedikit orang tua yang masih menganggap kompetisi bisa membuat anak tertekan. Padahal, jika dilakukan sesuai usia dan dengan pendampingan yang tepat, kompetisi justru dapat membantu perkembangan kecerdasan, mental, hingga kemampuan sosial anak sejak dini.

Psikolog Anak dan Keluarga, Saskhya Aulia, M.Psi., menilai pengalaman mengikuti kompetisi edukatif bisa menjadi sarana belajar yang efektif bagi anak-anak sekolah dasar. Bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi juga bagaimana anak belajar menghadapi tantangan, mengelola emosi, hingga bekerja sama dengan orang lain. Scroll untuk info lengkapnya, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kompetisi edukatif yang sesuai usia dan didampingi dengan baik merupakan cara efektif untuk menstimulasi perkembangan kecerdasan anak secara menyeluruh," ujar Saskhya Aulia saat konferensi pers Kompetisi DANCOW Indonesia Cerdas Season 2, di Jakarta, Senin 18 Mei 2026. 

"Dari segi akademik, kompetisi dapat mendorong anak berpikir lebih fokus, strategis, kreatif, kritis, sekaligus meningkatkan motivasi intrinsik untuk terus berkembang. Dari segi emosional, kompetisi membantu anak mengenali dan mengelola perasaan, seperti belajar menghadapi rasa gugup, kecewa, maupun rasa percaya diri atas pencapaian. Sementara secara sosial, anak bisa belajar tentang aturan, sportivitas, dan empati. Terlebih kompetisi berbasis tim, mereka jadi lebih memahami bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung pada diri sendiri, tetapi juga kolaborasi," sambungnya. 

Menurut Saskhya, penting bagi orang tua untuk tidak hanya fokus pada hasil akhir saat anak mengikuti perlombaan. Proses belajar, keberanian mencoba, hingga kemampuan bangkit setelah gagal justru menjadi bekal penting bagi perkembangan karakter anak di masa depan.

Hal serupa juga terlihat dalam berbagai kompetisi edukatif yang kini semakin banyak melibatkan anak-anak sekolah dasar. Salah satunya Dancow Indonesia Cerdas Season 2 yang tahun ini kembali digelar dengan cakupan lebih luas.

Kompetisi edukatif tersebut melibatkan sekitar 192 ribu siswa dari 2.168 sekolah di 40 kota dan 15 provinsi di Indonesia. Saat ini, ajang tersebut memasuki tahap seleksi tingkat provinsi untuk wilayah DKI Jakarta dan Banten.

Sebanyak 8 sekolah dasar bersaing menunjukkan kemampuan mereka dalam literasi, numerasi, serta pemecahan masalah kreatif secara berkelompok. Empat sekolah berasal dari Jakarta, yakni SDN Sukabumi Selatan 05 Pagi, SDN Cipinang Cempedak 01 Pagi, SDN Pela Mampang 03 Pagi, dan SDN Rorotan 03 Pagi. Sementara empat sekolah lain mewakili Banten, yaitu SDN Kunciran 7 Tangerang, SDS Mutiara Bangsa 1, SD Poris Indah, dan SDN Kampung Bambu 3.

Kompetisi ini dirancang selaras dengan kurikulum nasional dan program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, khususnya dalam membangun kebiasaan gemar belajar.

Staf Ahli Menteri Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen RI, Prof. Dr. H. Biyanto, M.Ag., mengatakan, Kemendikdasmen RI turut berterima kasih atas diadakannya kompetisi ini.

"Kita perlu ingat bahwa ‘Education is a slow movement but powerful force’; ia bergerak lambat tapi punya daya dobrak yang hebat – dengan kata lain, pendidikan adalah investasi terbaik dalam membangun masa depan anak-anak dan bangsa," pungkasnya.

Di tingkat provinsi DKI Jakarta, SDN Cipinang Cempedak 01 Pagi berhasil meraih juara pertama. Sementara untuk wilayah Banten, posisi juara pertama diraih SDN Kunciran 7 Tangerang. Nantinya, para pemenang akan melaju ke babak final nasional pada Juli-Agustus 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Category Marketing Manager Dancow, Johanlie Aliffin, mengatakan bahwa kompetisi ini diharapkan menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak Indonesia.

“Kami berharap melalui kompetisi ini menjadi wadah pembelajaran bagi para siswa untuk mengeksplorasi potensi hebat mereka. Tidak hanya itu, baik guru maupun orang tua dapat mendorong anak-anak untuk terus berani mengeksplorasi hal baru, aktif bertanya, serta menikmati proses belajar sebagai pengalaman yang menyenangkan,“ ujar Johanlie Aliffin.