Atalia Praratya Gugat Cerai Ridwan Kamil, Psikolog Ungkap Alasan Perceraian Usai Puluhan Tahun Menikah
Atalia Praratya resmi mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya, Ridwan Kamil, ke Pengadilan Agama Bandung. Kabar ini mengejutkan publik, mengingat keduanya telah membina rumah tangga selama 29 tahun.
Terlepas dari gugatan cerai yang diajukan Bu Cinta, sapaan akrabnya, banyak orang pun bertanya-tanya, apa yang membuat seseorang yang sudah memasuki usia lanjut dan telah lama menikah akhirnya memilih untuk berpisah?
Melansir laman Forbes, Sebuah studi terbaru yang dimuat dalam Journal of Social and Personal Relationships meneliti pengalaman 44 orang yang bercerai di usia 60 tahun ke atas. Hasilnya menunjukkan bahwa perceraian di usia lanjut (gray divorce) umumnya melalui dua fase utama.
Berikut dua alasan utama mengapa pernikahan jangka panjang berakhir dengan gray divorce, menurut studi tersebut.
1. Tetap Bersama Meski Semakin Menjauh
Peneliti menemukan bahwa fase pertama menuju gray divorce biasanya ditandai oleh ketidakpuasan yang berlangsung lama dalam pernikahan, meski pasangan tetap bertahan bersama.
Para responden mengaku mulai menjauh akibat perselingkuhan, kekerasan verbal, sikap mengontrol dari pasangan, perbedaan karakter yang makin terasa, kurangnya komunikasi, atau perkembangan diri secara personal yang tidak diikuti oleh pasangan sehingga menciptakan jarak emosional.
Rasa tidak puas ini sebenarnya sudah memicu keinginan untuk bercerai. Namun, banyak dari mereka tetap bertahan demi anak-anak, ketergantungan finansial pada pasangan, norma sosial di zamannya, serta keinginan menghindari stigma perceraian.
Salah satu pasangan dalam studi ini, Dan (69) dan Rachel (68), menceritakan sudut pandang mereka tentang berakhirnya pernikahan setelah 32 tahun bersama.
Dia mulai kuliah bersama perempuan-perempuan 25 tahun, tiba-tiba ambil SIM motor, lalu sering tidak pulang ke rumah. Dari pengalaman pengkhianatan yang berlangsung lama dan kebohongan selama bertahun-tahun, sudah 10 tahun berlalu. Saya sebenarnya sudah ingin bercerai sejak lama, tapi alasannya selalu sama yakni jangan merusak keluarga karena anak perempuan kami masih tinggal di rumah,” ujar Rachel.
Sebaliknya, Dan punya pandangan berbeda.
“Saya kembali kuliah dan dunia baru terbuka bagi saya, dunia yang sebenarnya ingin saya jalani bersama mantan istri saya. Awalnya dia ikut, dan itu menyenangkan. Tapi lama-lama dia bosan atau tidak tertarik lagi. Kami tidak punya topik obrolan seperti dulu. Perceraian itu sebenarnya hanya akhir dari proses panjang yang sudah dimulai bertahun-tahun sebelumnya. Soal kecurigaan perselingkuhan, dia fokus pada itu. Padahal semuanya tidak bermula dari sana,” kata Dan.
Peserta lain, Ruth (68), yang menikah selama 44 tahun, menggambarkan bagaimana perbedaan kepribadian dan pola komunikasi yang buruk menggerogoti pernikahannya, tetapi kondisi sosial budaya membuat perceraian tertunda.
“Saya orangnya hangat, emosional, suka memeluk dan menunjukkan kasih sayang. Pasangan saya justru dingin dan sangat rasional. Kami terjebak dalam perdebatan tanpa akhir siapa yang benar, kata apa yang diucapkan, dengan nada seperti apa, dan hukuman apa yang pantas. Itu melelahkan,” tutur Ruth.
“Selama bertahun-tahun saya ingin bercerai, tapi mungkin saya belum cukup kuat. Di awal pernikahan, saya masih sangat belum dewasa. Bayangkan tahun 1970-an, seperti apa makna perceraian saat itu. Tidak ada contoh orang di sekitar kami yang melakukannya. Saya bahkan butuh waktu lama untuk mengakui bahwa saya berada dalam hubungan yang sebenarnya tidak sehat,” tambahnya.
2. Menyadari Bahwa Pernikahan Harus Diakhiri
Fase kedua terjadi ketika keputusan bercerai akhirnya benar-benar diambil, setelah bertahun-tahun konflik yang semakin memburuk dan adanya titik balik besar yang membuat pernikahan runtuh sepenuhnya.
Titik tanpa kembali ini bisa berupa kejadian tertentu, seperti peristiwa publik yang memperlihatkan rapuhnya hubungan, kebohongan besar dalam rumah tangga atau keuangan, hingga kekerasan fisik, ekonomi, atau emosional yang ekstrem. Momen-momen ini sering memicu kejelasan dan ketegasan untuk mengakhiri pernikahan.
Para responden juga menjelaskan bahwa mereka akhirnya berada dalam posisi yang lebih siap untuk bercerai karena perubahan struktur keluarga misalnya anak-anak sudah mandiri (empty nest), norma sosial yang mulai berubah, kedewasaan emosional, serta keinginan kuat untuk menikmati sisa hidup dengan lebih bermakna.
David (70) dan Miriam (69), misalnya, bercerai setelah 40 tahun menikah akibat perselingkuhan yang berulang dan sikap David yang tidak menghormati sejak awal pernikahan. Titik baliknya terjadi saat pesta ulang tahun ke-60 David, di mana beberapa pasangan selingkuhnya diundang.
“Miriam sudah memberi ultimatum agar perempuan-perempuan itu tidak diundang, tetapi diabaikan. Saat itulah dia memutuskan untuk bercerai. Paparan publik atas buruknya hubungan pernikahan memaksa seseorang menghadapi kenyataan dan menyadari bahwa perubahan memang diperlukan,” tulis para peneliti.
Pasangan lain, Sarah (62) dan Jacob (66), menikah selama 35 tahun. Mereka bercerai setelah Jacob merasa tidak pernah dihargai, sementara Sarah baru mengetahui perselingkuhan suaminya. Bagi Sarah, penolakan Jacob untuk mengakui perselingkuhan atau mengikuti konseling pasangan justru lebih menyakitkan daripada perselingkuhan itu sendiri. Jacob pun punya titik pecahnya sendiri.
“Menjelang liburan, saya membelikan hadiah untuk semua orang dan memberikannya ke istri dan anak-anak. Dia bilang, ‘Aku tidak membelikanmu apa pun. Besok beli sendiri saja.’ Itu benar-benar mewakili semuanya—saya harus menerima begitu saja, tidak boleh protes. Kelihatannya sepele, ya? Tapi saat itu saya memutuskan sisa 20–25 tahun hidup saya ingin saya jalani dengan cara saya sendiri. Dan itulah yang membuat saya pergi dari rumah,” jelas Jacob.
Kisah-kisah jujur ini mengingatkan kita pentingnya mengenali tanda-tanda keretakan dalam pernikahan sejak dini dan segera menanganinya. Gray divorce sering kali berakar dari masalah yang sudah lama terpendam, titik balik besar, serta perubahan pribadi yang terjadi selama bertahun-tahun. Proses ini melibatkan emosi yang rumit, tekanan sosial, dan tantangan memulai hidup baru.
Meski begitu, para individu ini menunjukkan ketangguhan dan keberanian untuk mencari kebahagiaan di sisa hidup mereka. Mereka membuktikan bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk meninjau ulang jalan hidup dan membuat perubahan yang selaras dengan pertumbuhan diri dan kesejahteraan pribadi. Hidup yang autentik dan bermakna selalu layak diperjuangkan, berapa pun usia kita.