Berkaca dari Kasus FH UI, Psikolog Ungkap Cara Mendidik Anak Laki-laki Sejak Dini

pendidikan karakter, pola asuh, kekerasan seksual, mendidik anak laki-laki, Berkaca dari Kasus FH UI, Psikolog Ungkap Cara Mendidik Anak Laki-laki Sejak Dini, Kasus FH UI jadi pengingat penting, Ajarkan empati sejak anak masih kecil, Kenalkan batasan dan rasa hormat sejak dini, Hindari kebiasaan yang bentuk cara pandang tidak setara, Bangun komunikasi terbuka dengan anak, Orangtua jadi contoh utama, Mencegah lebih penting daripada mengoreksi

Kasus dugaan pelecehan seksual oleh 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) kembali menyadarkan publik bahwa masalah ini tidak muncul secara tiba-tiba.

Perilaku yang merendahkan perempuan, bahkan dalam bentuk percakapan grup, menunjukkan adanya cara pandang yang sudah terbentuk sejak lama.

Fenomena ini menegaskan bahwa pendidikan karakter, khususnya pada anak laki-laki, tidak bisa ditunda.

Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., menilai bahwa pola asuh dan lingkungan sejak kecil memegang peran penting dalam membentuk cara anak memperlakukan orang lain.

Kasus FH UI jadi pengingat penting

Diberitakan (14/4/2026), dugaan pelecehan seksual ini bermula dari percakapan dalam grup LINE dan WhatsApp yang berisi candaan bernuansa seksual dan merendahkan mahasiswi.

Sebanyak 16 mahasiswa yang terlibat telah mengakui perbuatannya dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

Pihak kampus dan organisasi mahasiswa pun telah mengambil langkah awal dengan menjatuhkan sanksi organisasi.

Kasus ini menunjukkan bahwa bentuk kekerasan seksual tidak selalu terjadi secara fisik, tetapi juga bisa muncul dari cara berbicara dan berpikir.

Ajarkan empati sejak anak masih kecil

pendidikan karakter, pola asuh, kekerasan seksual, mendidik anak laki-laki, Berkaca dari Kasus FH UI, Psikolog Ungkap Cara Mendidik Anak Laki-laki Sejak Dini, Kasus FH UI jadi pengingat penting, Ajarkan empati sejak anak masih kecil, Kenalkan batasan dan rasa hormat sejak dini, Hindari kebiasaan yang bentuk cara pandang tidak setara, Bangun komunikasi terbuka dengan anak, Orangtua jadi contoh utama, Mencegah lebih penting daripada mengoreksi

Ilustrasi ayah dan anak laki-laki. Psikolog mengingatkan bahwa pola asuh sejak kecil berperan besar dalam membentuk cara anak laki-laki memperlakukan perempuan, seperti yang tercermin dalam kasus FH UI.

Danti menekankan bahwa salah satu hal paling penting dalam mendidik anak laki-laki adalah membangun empati.

Anak perlu diajarkan untuk memahami perasaan orang lain, bukan hanya keinginannya sendiri.

Kemampuan ini tidak muncul secara otomatis, tetapi harus dilatih dalam kehidupan sehari-hari.

Anak yang terbiasa memahami emosi orang lain akan lebih mampu menghargai batasan dan tidak merendahkan orang lain.

Kenalkan batasan dan rasa hormat sejak dini

Selain empati, anak juga perlu memahami batasan atau consent sejak kecil.

Anak harus tahu bahwa setiap orang memiliki hak atas tubuh dan dirinya sendiri.

Orangtua bisa mulai dari hal sederhana, seperti tidak memaksa anak memeluk orang lain jika ia tidak nyaman.

Kebiasaan ini membantu anak memahami bahwa menghargai orang lain adalah hal yang penting.

Hindari kebiasaan yang bentuk cara pandang tidak setara

Cara orangtua memperlakukan anak sehari-hari juga berpengaruh besar.

Perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan bisa membentuk cara pandang yang tidak setara.

Misalnya, ketika anak perempuan dibebani pekerjaan rumah, sementara anak laki-laki tidak.

Danti mengingatkan bahwa kebiasaan seperti ini dapat membuat anak laki-laki merasa lebih berhak daripada orang lain.

Bangun komunikasi terbuka dengan anak

Saat anak mulai terpapar lingkungan luar, orangtua perlu hadir sebagai tempat diskusi.

Danti menyarankan agar orangtua tidak langsung memarahi saat anak menunjukkan sikap yang kurang tepat. Pendekatan yang lebih efektif adalah mengajak anak berpikir.

Pertanyaan seperti “bagaimana perasaan orang lain jika diperlakukan seperti itu” bisa membantu anak memahami dampak dari tindakannya.

Orangtua jadi contoh utama

Anak belajar dari apa yang ia lihat setiap hari di rumah. Sikap saling menghargai antara anggota keluarga akan membentuk nilai yang sama pada anak.

Orangtua perlu menunjukkan bahwa setiap orang harus diperlakukan dengan hormat, tanpa memandang jenis kelamin.

Contoh nyata ini lebih mudah dipahami dibanding sekadar nasihat.

Mencegah lebih penting daripada mengoreksi

Kasus seperti yang terjadi di FH UI menjadi pengingat bahwa pencegahan harus dimulai sejak dini. Nilai tentang empati, penghormatan, dan kesetaraan perlu ditanamkan sejak anak masih kecil.

laki yang tumbuh dengan pemahaman ini memiliki peluang lebih besar menjadi pribadi yang menghargai orang lain.

Perubahan tidak bisa terjadi secara instan, tetapi bisa dimulai dari rumah melalui kebiasaan sederhana setiap hari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang