Waspada, Psikolog Ungkap Kepribadian yang Paling Sulit Setia dalam Hubungan
Perselingkuhan kerap menjadi penyebab utama retaknya hubungan dan runtuhnya kepercayaan dalam sebuah pernikahan atau komitmen jangka panjang. Banyak orang menganggap selingkuh sebagai tindakan spontan, padahal sejumlah penelitian psikologi menunjukkan bahwa kepribadian seseorang dapat berperan besar dalam perilaku tersebut.
Artinya, ada ciri-ciri tertentu yang membuat seseorang lebih berisiko melakukan perselingkuhan dibanding yang lain.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah psikolog dari luar negeri telah melakukan berbagai studi tentang hubungan antara sifat kepribadian dan perilaku selingkuh. Hasilnya, ditemukan pola konsisten pada orang-orang dengan tingkat pengendalian diri rendah, haus akan pengalaman baru, hingga memiliki sifat manipulatif.
Meskipun tidak ada satu pun sifat yang dapat sepenuhnya “menentukan” seseorang akan berselingkuh, memahami karakter ini dapat membantu Anda mengenali tanda-tanda sejak dini dan memperkuat komunikasi dalam hubungan.
Berikut enam kepribadian yang menurut para psikolog paling rentan melakukan perselingkuhan, sebagaimana dikutip dari Psychology Times, Rabu, 5 November 2025.
1. Kurang Disiplin dan Pengendalian Diri (Low Conscientiousness)
Orang dengan tingkat kesadaran diri dan kedisiplinan rendah cenderung bertindak tanpa banyak pertimbangan. Mereka lebih mudah mengikuti dorongan sesaat, termasuk keinginan untuk mencari perhatian atau kedekatan emosional di luar pasangan. Menurut situs Spring.org.uk, individu dengan sifat ini seringkali kesulitan menahan godaan karena kurang memiliki kontrol diri dan tanggung jawab dalam menjaga komitmen.
2. Suka Mencari Pengalaman Baru (High Openness to Experience)
Kepribadian yang terbuka terhadap pengalaman baru memang menarik, tetapi juga bisa berisiko dalam konteks hubungan. Orang dengan tingkat openness tinggi biasanya senang mencoba hal-hal baru, termasuk dalam aspek emosional dan seksual. Psikolog menyebut, rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal-hal baru terkadang bisa berujung pada pencarian “sensasi berbeda” di luar hubungan utama.
3. Ekstrovert dan Butuh Perhatian (High Extraversion)
Ekstrovert dikenal mudah bergaul dan energik, namun sifat ini juga bisa menjadi bumerang jika tidak diimbangi dengan kesetiaan. Orang dengan tingkat ekstroversi tinggi sering kali membutuhkan validasi sosial dan emosional dari banyak orang. Dalam hubungan yang terasa monoton atau kurang perhatian, mereka mungkin lebih mudah tergoda untuk mencari perhatian lain sebagai bentuk kompensasi emosional.
4. Memiliki Sifat Manipulatif dan Egois (Dark Triad Personality)
Psikolog mengenal istilah Dark Triad untuk menggambarkan tiga sifat gelap, yaitu narsisisme, psikopati, dan machiavellianisme. Individu dengan kombinasi sifat ini umumnya memiliki empati rendah, lebih fokus pada diri sendiri, dan cenderung memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi. Studi dari Spring.org.uk menunjukkan bahwa mereka yang memiliki skor tinggi pada Dark Triad lebih mungkin melanggar komitmen tanpa merasa bersalah.
5. Sulit Terikat Secara Emosional (Insecure Attachment Style)
Gaya keterikatan emosional atau attachment style juga berpengaruh terhadap kesetiaan. Orang dengan gaya avoidant attachment biasanya tidak nyaman dengan kedekatan emosional yang intens. Mereka lebih suka menjaga jarak atau enggan terlalu terlibat secara emosional, sehingga lebih mudah mencari pelarian di luar hubungan. Menurut PsychologyTimes.co.uk, hal ini sering kali tidak disadari oleh pelaku karena mereka menganggapnya sebagai bentuk “kebebasan pribadi”.
6. Pencari Sensasi dan Tantangan (High Sensation-Seeking)
Kepribadian yang selalu mencari tantangan dan stimulasi baru memiliki risiko tinggi untuk selingkuh. Mereka cenderung mudah bosan dan selalu ingin mencoba sesuatu yang memberi dorongan adrenalin. Dalam konteks hubungan, hal ini bisa berarti mencari pengalaman romantis atau seksual yang dianggap lebih menegangkan. Parade.com mencatat bahwa sifat pencari sensasi sering muncul bersamaan dengan empati rendah, sehingga membuat individu lebih mudah mengabaikan konsekuensi emosional dari tindakannya.
Mengapa Faktor Kepribadian Penting untuk Dipahami?
Perlu diingat bahwa kepribadian bukan satu-satunya penyebab seseorang berselingkuh. Situasi hubungan, tingkat kepuasan emosional, hingga kesempatan juga berperan besar. Namun, memahami faktor kepribadian membantu Anda lebih sadar akan potensi risiko yang mungkin muncul.
Jika Anda atau pasangan memiliki salah satu sifat di atas, bukan berarti hubungan akan gagal. Justru dengan kesadaran diri, komunikasi terbuka, dan empati yang kuat, risiko tersebut dapat diminimalkan.
Pada akhirnya, kesetiaan dalam hubungan tidak hanya bergantung pada cinta, tetapi juga pada kemampuan untuk mengendalikan diri, menghormati komitmen, dan berani jujur terhadap pasangan.
Mengenali kepribadian yang rentan terhadap perselingkuhan bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mendorong hubungan yang lebih sehat, transparan, dan penuh kepercayaan.