Psikolog Ungkap Ucapan Kakek dan Nenek yang Bisa Melukai Cucu Tanpa Disadari

anak stres, Psikolog Ungkap Ucapan Kakek dan Nenek yang Bisa Melukai Cucu Tanpa Disadari, Ucapan yang sebaiknya dihindari kakek dan nenek, Kalimat yang bisa menghambat emosi anak, Memaksa pelukan juga perlu dihindari, Jangan membandingkan masa kecil dulu dan sekarang, Kalimat pengganti yang lebih sehat

Hubungan antara kakek-nenek dan cucu sering dianggap hangat dan penuh kasih sayang. Namun, psikolog mengingatkan bahwa beberapa ucapan yang terdengar sepele ternyata bisa berdampak pada kondisi emosional anak.

Melansir Parade (25/5/2026), psikolog berlisensi Dr. Brittney Pearson mengatakan banyak kakek-nenek sebenarnya memiliki niat baik ketika berbicara dengan cucu mereka.

Meski begitu, ada beberapa kalimat yang tanpa disadari dapat membuat anak bingung, merasa tidak aman, atau bahkan memengaruhi hubungan dengan orangtua mereka.

Menurut Pearson, memahami cara berbicara yang lebih sehat bisa membantu membangun hubungan yang lebih dekat dan nyaman dengan cucu.

Ucapan yang sebaiknya dihindari kakek dan nenek

Salah satu kalimat yang disebut perlu dihindari adalah, “Jangan bilang ke orangtuamu.”

Meski sering diucapkan sebagai candaan atau bentuk “rahasia kecil”, Pearson menilai ucapan itu dapat membuat anak belajar menyimpan rahasia dari orangtua.

“Kalimat ini tanpa sengaja bisa merusak kepercayaan orangtua dan membuat anak stres karena harus menghadapi aturan yang berbeda,” kata Pearson.

Ucapan lain yang juga dianggap bermasalah adalah, “Dengarkan kakek/nenek saja, jangan dengarkan mama atau papa.”

Menurut Pearson, kalimat seperti ini bisa membuat anak berada dalam posisi yang membingungkan karena mereka seolah diminta memilih antara dua figur otoritas.

Kalimat yang bisa menghambat emosi anak

anak stres, Psikolog Ungkap Ucapan Kakek dan Nenek yang Bisa Melukai Cucu Tanpa Disadari, Ucapan yang sebaiknya dihindari kakek dan nenek, Kalimat yang bisa menghambat emosi anak, Memaksa pelukan juga perlu dihindari, Jangan membandingkan masa kecil dulu dan sekarang, Kalimat pengganti yang lebih sehat

Ilustrasi kakek bermain bersama cucunya. Psikolog memperingatkan bahwa beberapa kalimat sederhana bisa membuat anak bingung dan tidak nyaman secara emosional.

Psikolog juga menyoroti ucapan seperti “Anak besar tidak boleh menangis.”

Pearson mengatakan kalimat itu dapat membuat anak merasa emosinya tidak valid sekaligus memperkuat stereotip tertentu terhadap anak laki-laki maupun perempuan.

Sebagai gantinya, ia menyarankan orang dewasa memberi ruang bagi anak untuk memahami dan mengungkapkan emosinya dengan sehat.

Selain itu, membandingkan anak dengan saudara lain juga dinilai dapat meninggalkan luka emosional.

Kalimat seperti “Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?” disebut dapat memunculkan rasa tidak percaya diri dan iri hati pada anak.

“Perbandingan seperti ini justru membuat anak merasa kurang berharga,” ujar Pearson.

Memaksa pelukan juga perlu dihindari

Tak hanya soal ucapan, Pearson juga menyoroti kebiasaan meminta pelukan secara memaksa.

Menurut dia, kalimat seperti “Peluk kakek sekarang!” sebaiknya diubah menjadi pertanyaan yang menghargai batasan tubuh anak, misalnya “Boleh kakek minta peluk?”

“Memaksa kontak fisik bisa membuat anak merasa mereka tidak punya kendali atas tubuhnya sendiri,” jelas Pearson.

Ia menambahkan bahwa menghormati batasan fisik sejak kecil penting untuk membantu anak memahami konsep persetujuan dan rasa aman.

Jangan membandingkan masa kecil dulu dan sekarang

Ucapan seperti “Dulu waktu seusiamu hidup lebih susah” juga dinilai kurang membantu.

Banyak orang dewasa bermaksud memberi perspektif atau motivasi, tetapi Pearson mengatakan kalimat tersebut justru bisa membuat anak merasa perasaannya diremehkan.

Hal serupa berlaku pada ucapan “Kamu cucu favorit kakek.”

Meski terdengar seperti pujian, Pearson menilai ucapan itu dapat memicu persaingan tidak sehat di antara saudara atau sepupu.

“Anak yang disebut favorit juga bisa merasa tertekan untuk mempertahankan posisi itu,” katanya.

Kalimat pengganti yang lebih sehat

Sebagai alternatif, Pearson menyarankan beberapa kalimat yang dinilai lebih membantu perkembangan emosional anak. Beberapa di antaranya adalah:

  • “Kakek sayang kamu apa adanya.”
  • “Mama dan papa sudah bilang tidak, jadi kita perlu menghormatinya.”
  • “Tidak apa-apa, kakek akan mendengarkan saat kamu siap bicara.”
  • “Kakek lihat kamu sudah berusaha keras, ayo kita latihan bersama lagi.”

Menurut Pearson, ucapan seperti ini membantu anak merasa diterima tanpa syarat, lebih aman mengekspresikan emosi, dan tetap menghormati peran orangtua.

Ia juga menilai komunikasi yang hangat dan suportif dapat memperkuat hubungan antara kakek-nenek dan cucu dalam jangka panjang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang