Psikolog Ungkap Kebiasaan di Rumah yang Bisa Membentuk Sikap Seksis pada Anak
- Perbedaan perlakuan di rumah bisa membentuk cara berpikir
- Perilaku kasar sering dianggap wajar
- Anak laki-laki sering dibatasi dalam mengekspresikan emosi
- Komentar tentang tubuh perempuan juga berpengaruh
- Kebiasaan kecil bisa berdampak besar dalam jangka panjang
- Perubahan bisa dimulai dari cara mendidik di rumah
Banyak orangtua tidak sadar bahwa sikap seksis pada anak bisa terbentuk dari kebiasaan kecil di rumah.
hal yang dianggap sepele dan “normal” justru bisa menanamkan cara pandang yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan.
Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., menyebut bahwa pembentukan sikap ini sering terjadi tanpa disadari sejak anak masih kecil.
Dalam wawancara dengan pada Selasa (14/4/2026), Danti menjelaskan bahwa pola asuh dan kebiasaan sehari-hari punya peran besar dalam membentuk cara anak melihat orang lain.
Perbedaan perlakuan di rumah bisa membentuk cara berpikir
Kebiasaan membedakan peran anak laki-laki dan perempuan sering dianggap hal biasa.
Contohnya, anak perempuan diminta membantu pekerjaan rumah, sementara anak laki-laki dibiarkan bermain.
Situasi ini secara tidak langsung mengajarkan bahwa perempuan memiliki tanggung jawab lebih besar dalam urusan rumah.
Danti menjelaskan bahwa pola seperti ini bisa membuat anak laki-laki tumbuh dengan anggapan bahwa perempuan memang “seharusnya” melayani.
Perilaku kasar sering dianggap wajar
Ilustrasi anak. Psikolog mengungkap bahwa kebiasaan sederhana di rumah, seperti perbedaan perlakuan dan cara berbicara, bisa membentuk cara pandang seksis pada anak sejak kecil.
Kebiasaan lain yang sering terjadi adalah membiarkan perilaku agresif anak laki-laki.
Ketika anak menjahili atau menyakiti teman perempuan, hal itu sering dianggap sebagai tanda suka. Ungkapan seperti “namanya juga anak laki-laki” membuat perilaku tersebut terlihat wajar.
Padahal, pembiaran ini bisa membuat anak menganggap bahwa menyakiti orang lain adalah hal yang bisa diterima.
Anak laki-laki sering dibatasi dalam mengekspresikan emosi
Banyak anak laki-laki tumbuh dengan larangan untuk menunjukkan perasaan.
Kalimat seperti “laki-laki tidak boleh menangis” masih sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari.
Danti menjelaskan bahwa kebiasaan ini bisa membuat anak sulit mengenali emosinya sendiri. Kondisi tersebut berdampak pada kemampuan mereka memahami perasaan orang lain.
Akibatnya, empati tidak berkembang dengan baik.
Komentar tentang tubuh perempuan juga berpengaruh
Cara orangtua berbicara di depan anak juga membentuk cara pandang mereka.
Komentar tentang penampilan perempuan, baik di televisi maupun kehidupan sehari-hari, bisa memberi dampak.
Anak laki-laki bisa belajar menilai perempuan hanya dari fisik. Tanpa disadari, kebiasaan ini membentuk pola pikir yang merendahkan perempuan.
Kebiasaan kecil bisa berdampak besar dalam jangka panjang
Danti menekankan bahwa sikap seksis tidak muncul secara tiba-tiba.
Sikap ini terbentuk dari kebiasaan yang terus diulang sejak kecil. Anak menyerap nilai dari apa yang ia lihat dan dengar setiap hari.
Lingkungan rumah menjadi tempat pertama anak belajar tentang hubungan dan cara memperlakukan orang lain.
Perubahan bisa dimulai dari cara mendidik di rumah
orangtua memiliki peran penting untuk memutus pola ini.
Perubahan bisa dimulai dari hal sederhana, seperti memperlakukan anak laki-laki dan perempuan secara setara.
Memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosi juga membantu membangun empati.
Selain itu, orangtua perlu memberi contoh sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah kecil ini dapat membantu anak tumbuh dengan cara pandang yang lebih sehat dan menghargai orang lain.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang