Awan Hitam Tiba-tiba Muncul di Surabaya, BMKG Ungkap Penyebabnya

awan hitam, BMKG, musim hujan 2025, awal musim hujan 2025, awan gelap, awal musim hujan 2025 jawa timur, awan hitam surabaya, Awan Hitam Tiba-tiba Muncul di Surabaya, BMKG Ungkap Penyebabnya

Sebuah video yang memperlihatkan awan hitam menyelimuti langit Kota Surabaya, Jawa Timur ramai dibicarakan warganet di media sosial Instagram.

Dalam unggahan akun @ik***** pada Rabu (19/11/2025), awan hitam muncul secara tiba-tiba sekitar pukul 17.00 WIB.

Menurut pengunggah, momen tersebut terasa langka karena membuat Surabaya seolah mengalami malam lebih cepat dari biasanya.

Begini suasana mendung gelap di Surabaya. Awan tebal menutup langit dan membuat kota terasa seperti malam lebih cepat dari biasanya,” tulis pengunggah dalam keterangan videonya.

Lalu, apa kata BMKG soal awan hitam yang tiba-tiba muncul di Surabaya?

Penjelasan BMKG soal Awan Hitam Tiba-tiba Muncul di Surabaya

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Malang Swasti Ayudia alias Ayu mengatakan, kemunculan awan hitam di Surabaya disebabkan oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus yang masif.

Ia menjelaskan, Surabaya mulai memasuki awal musim hujan pada akhir tahun 2025.

“Sehingga hampir setiap hari kondisi cuacanya hujan ringan hingga lebat pada siang, sore dan malam hari,” ujar Ayu kepada Kompas.com, Kamis (20/11/2025).

Berdasarkan prakiraan cuaca mingguan periode Kamis (20/11/2025) hingga Sabtu (29/11/2025), Ayu menyampaikan, BMKG telah memperingatkan masyarakat terkait potensi cuaca ekstrem di beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur.

Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi berupa hujan sedang hingga lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan hujan es.

Beberapa wilayah yang diperkirakan dilanda cuaca ekstrem, yakni Bangkalan, Banyuwangi, Batu, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, dan Magetan.

Daerah lainnya adalah Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Surabaya, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.

“Saat ini hampir seluruh wilayah Jawa Timur sudah berada pada musim hujan. Diprakirakan dalam 10 hari ke depan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat,” kata Ayu.

“Potensi ini disebabkan karena adanya pola pertemuan angin (konvergensi), serta melintasnya fenomena gelombang atmosfer Equatorial Rossby mulai tanggal 23 November 2025 di wilayah Jawa Timur. Selain itu, kondisi atmosfer lokal yang labil dan lembap dari lapisan bawah hingga atas turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan lebat,” tambahnya.

Karena alasan itulah, Ayu meminta masyarakat dan instansi terkait agar mewaspadai perubahan cuaca mendadak dan potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang selama 10 hari ke depan. 

Wilayah dengan topografi curam/bergunung/tebing diharapkan lebih waspada terhadap dampak yang dapat ditimbulkan akibat cuaca ekstrem seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang serta berkurangnya jarak pandang. 

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk selalu memantau kondisi cuaca terkini berdasarkan citra radar cuaca WOFI melalui website https://stamet-juanda.bmkg.go.id/radar/, dan informasi peringatan dini tiga harian dan peringatan dini 2-3 jam ke depan melalui website https://stamet-juanda.bmkg.go.id/ dan media sosial @infobmkgjuanda, saluran telepon 24 jam (031) 8668989 dan WhatsApp 0895800300011.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.