Italia Tiga Kali Gagal ke Piala Dunia, Pengamat Sepak Bola Ungkap Penyebabnya

Timnas Italia
Timnas Italia

 Timnas Italia mengalami catatan kelam dalam sejarah sepak bola mereka setelah gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun. Kekalahan adu penalti dari Bosnia dan Herzegovina di babak playoff memastikan juara dunia empat kali itu hanya akan menjadi penonton di turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut.

Kegagalan ini terasa semakin menyakitkan karena terjadi di era baru Piala Dunia dengan jumlah peserta yang diperluas dari 32 menjadi 48 tim. Secara logika, peluang lolos seharusnya jauh lebih besar. Namun kenyataannya, Italia tetap tersingkir.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Banyak analisis bermunculan, mulai dari kemunduran Serie A hingga masalah pembinaan pemain muda. Namun jika melihat lebih dalam, penyebab kegagalan Italia kali ini sebenarnya jauh lebih sederhana dan lebih menyakitkan, tetapi kesalahan mereka sendiri sejak awal kualifikasi.

Italia sebenarnya masih memiliki kualitas untuk lolos. Seperti dilaporkan ESPN, Italia berada di peringkat 13 ranking FIFA dan skuad yang dimiliki juga tidak bisa dibilang tua. Dari sebelas pemain inti, hanya Matteo Politano yang berusia di atas 30 tahun. Dari segi kualitas, Italia masih berada di atas Bosnia dan Herzegovina.

Pelatih Italia, Gennaro Gattuso, sempat menyinggung soal semangat juang timnya setelah pertandingan. Namun pernyataan itu justru memicu kritik. Sebab, jika berbicara soal semangat dan kerja keras, Bosnia menunjukkan hal yang sama, bahkan mungkin lebih besar.

Terlebih, Bosnia datang ke laga ini setelah bermain 120 menit dan adu penalti melawan Wales di laga sebelumnya, serta masih mengandalkan striker berusia 40 tahun, Edin Dzeko. Jika berbicara soal determinasi, Bosnia jelas tidak kalah.

Kiper Italia Gianluigi Donnarumma bahkan harus melakukan 10 penyelamatan sepanjang pertandingan, beberapa di antaranya penyelamatan kelas dunia. Bosnia melepaskan sekitar 30 tembakan sepanjang laga. Statistik itu menunjukkan Italia memang berada di bawah tekanan besar.

Masalah terbesar Italia sebenarnya terjadi jauh sebelum laga playoff. Mereka kalah lebih awal dalam fase kualifikasi, termasuk kekalahan dari Norwegia yang membuat posisi mereka menjadi sulit dan akhirnya harus melalui jalur playoff yang sangat berisiko. Dalam format satu pertandingan hidup mati seperti playoff, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.

Dan kesalahan itu benar-benar terjadi saat melawan Bosnia. Bek andalan Alessandro Bastoni mendapat kartu merah pada menit ke-41 saat Italia sedang unggul 1-0. Kartu merah itu mengubah jalannya pertandingan secara total.

Dalam kondisi 11 lawan 11, Italia sebenarnya punya peluang besar untuk mengontrol pertandingan. Dengan keunggulan 1-0, mereka bisa memainkan tempo, memaksa Bosnia mengejar bola, dan memanfaatkan pengalaman mereka. Namun setelah kartu merah, Italia justru bermain terlalu bertahan dan terus ditekan hingga akhirnya kebobolan dan kalah lewat adu penalti.

Situasi ini juga memunculkan kritik terhadap Gattuso. Selama sekitar 10 bulan menangani timnas, ia hanya memiliki sekitar 15 sesi latihan bersama pemain. Waktu yang sangat sedikit untuk membangun sistem permainan yang solid. Namun di sisi lain, keputusan taktiknya dalam pertandingan juga dipertanyakan karena Italia justru semakin tertekan setelah unggul.

Seorang pengamat sepak bola Italia, Gabriele Marcotti menilai kekalahan ini bukan karena krisis besar dalam sepak bola Italia, melainkan karena kesalahan sendiri. Ia mengatakan, “Ini bukan soal kemunduran sepak bola Italia. Mereka gagal karena membuat situasi menjadi sulit sejak awal kualifikasi dan kemudian kalah dalam pertandingan yang marginnya sangat tipis.”

Ia juga menambahkan, “Bosnia bermain dengan hati, determinasi, dan keberanian. Sementara Italia terlalu banyak bereaksi terhadap situasi, bukan mengendalikan pertandingan.”

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Memang ada masalah struktural dalam sepak bola Italia, seperti terlalu fokus pada taktik dan hasil di level usia muda dibandingkan pengembangan teknik individu. Selain itu, klub-klub Serie A juga dinilai tidak cukup memberi kesempatan kepada pemain muda lokal sehingga menghambat regenerasi timnas," ujar Gabriele.

Namun Gabriele juga meneknakan, hal itu bukan penyebab utama kegagalan kali ini. Italia gagal karena performa buruk di awal kualifikasi, keputusan taktik yang tidak tepat, serta momen-momen krusial yang berakhir merugikan mereka sendiri.