Psikolog Ungkap Dampak Media Sosial pada Remaja, dari Kecemasan hingga Cyberbullying

Psikolog Ungkap Dampak Media Sosial pada Remaja, dari Kecemasan hingga Cyberbullying, Meningkatkan kecemasan dan menurunkan rasa percaya diri, Berkurangnya kemampuan komunikasi langsung, Risiko cyberbullying dan tekanan sosial, Remaja juga bisa merasa kesepian

Penggunaan media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari remaja. Namun, para ahli mengingatkan bahwa penggunaan teknologi digital yang terlalu intens dapat berdampak pada kesehatan mental dan perkembangan sosial anak.

Psikolog klinis Catherine Steiner-Adair mengatakan, bahwa cara remaja berkomunikasi saat ini banyak berubah karena kehadiran media sosial dan pesan instan.

“Sebagai manusia, kita sangat peka terhadap isyarat sosial. Tidak diragukan lagi anak-anak kehilangan kesempatan untuk mempelajari keterampilan sosial yang sangat penting,” katanya dikutip dari Child Mind Institute, Kamis (12/3/2026).

Menurutnya, komunikasi melalui pesan teks atau media sosial membuat banyak unsur komunikasi seperti ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan intonasi suara menjadi hilang.

Padahal, unsur-unsur tersebut penting untuk membantu anak memahami emosi dan reaksi orang lain dalam interaksi sosial.

Dampak Media Sosial pada Remaja

Meningkatkan kecemasan dan menurunkan rasa percaya diri

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa media sosial dapat memengaruhi kesehatan mental remaja.

Survei yang dilakukan Royal Society for Public Health di Inggris menemukan bahwa platform seperti Snapchat, Instagram, Facebook, dan Twitter berkaitan dengan meningkatnya perasaan depresi, kecemasan, kesepian, serta citra tubuh yang negatif pada anak muda usia 14 hingga 24 tahun.

Tekanan untuk tampil sempurna di media sosial juga dapat membuat remaja merasa tidak percaya diri.

Remaja sering membandingkan diri mereka dengan orang lain yang terlihat memiliki kehidupan lebih menarik di media sosial.

Berkurangnya kemampuan komunikasi langsung

Penggunaan media sosial yang intens juga dapat membuat remaja kurang terbiasa berkomunikasi secara langsung.

Sebelum era media sosial, remaja biasanya lebih banyak berbicara melalui telepon atau bertemu langsung dengan teman-temannya.

Namun sekarang, banyak interaksi dilakukan melalui layar.

Menurut Steiner-Adair, kondisi ini dapat membuat anak kehilangan kesempatan untuk melatih keterampilan sosial yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Jika anak tidak terbiasa berinteraksi secara langsung, mereka berisiko menjadi lebih cemas ketika harus berbicara atau berkomunikasi dengan orang lain.

Risiko cyberbullying dan tekanan sosial

Media sosial juga dapat meningkatkan risiko cyberbullying atau perundungan di dunia maya.

Psikolog Donna Wick mengatakan bahwa komunikasi melalui pesan teks membuat seseorang lebih mudah mengatakan hal-hal yang mungkin tidak akan mereka ucapkan secara langsung.

“Anak-anak bisa menulis hal-hal yang tidak akan pernah mereka katakan secara langsung kepada orang lain,” ujarnya.

Selain itu, media sosial juga membuat remaja lebih terobsesi dengan citra diri.

Banyak remaja menghabiskan waktu lama untuk memilih foto yang akan diunggah atau memikirkan bagaimana mereka terlihat di mata orang lain.

Jumlah “like” atau komentar juga sering dijadikan ukuran penerimaan sosial.

Remaja juga bisa merasa kesepian

Meski terlihat selalu terhubung, penggunaan media sosial justru bisa membuat remaja merasa lebih kesepian.

Menurut Wick, remaja saat ini jarang benar-benar memiliki waktu untuk beristirahat dari interaksi sosial karena komunikasi dengan teman bisa berlangsung hampir sepanjang waktu melalui ponsel.

“Anak-anak tidak pernah benar-benar mendapatkan jeda dari hubungan sosial mereka,” kata Wick.

Kondisi ini dapat membuat remaja merasa kelelahan secara emosional dan memicu kecemasan.

Peran orangtua tetap penting

Para ahli menilai orangtua memiliki peran penting dalam membantu anak menggunakan teknologi secara sehat, misalnya dengan membuat waktu atau area bebas gawai di rumah.

Selain itu, orangtua juga disarankan untuk mendorong anak melakukan aktivitas di dunia nyata, seperti olahraga, musik, atau kegiatan sosial.

Adapun isu penggunaan media sosial pada anak juga tengah menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berencana membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun mulai 28 Maret 2026.

Kebijakan ini diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026, turunan dari PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas). 

Melalui aturan ini, akses akun anak pada platform digital berisiko tinggi, termasuk media sosial, akan ditunda hingga usia tertentu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang