Angka Kelahiran Turun, Psikolog Ungkap Alasan Banyak Orang Indonesia Enggan Punya Anak

penurunan angka kelahiran, prioritas hidup, pengasuhan anak, sandwich generation, Angka Kelahiran Turun, Psikolog Ungkap Alasan Banyak Orang Indonesia Enggan Punya Anak, 1. Pergeseran prioritas hidup, 2. Standar pengasuhan semakin tinggi, 3. Tekanan sandwich generation, 4. Perubahan persepsi tentang anak, 5. Eco-anxiety dan ketidakpastian masa depan, 6. Normalisasi childfree, 7. Kemandirian dan trauma masa lalu

Penurunan angka kelahiran atau Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi.

Psikolog menilai ada perubahan besar dalam cara pandang dan kondisi mental masyarakat yang ikut mendorong tren tersebut. Pergeseran ini membuat keputusan memiliki anak kini semakin dipikirkan secara matang dan personal.

Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., mengatakan fenomena tersebut mencerminkan perubahan psikologis kolektif masyarakat.

Hal itu ia sampaikan saat dihubungi pada Senin (2/3/2026). Menurut dia, angka kelahiran yang menurun tidak bisa dilepaskan dari dinamika mental dan sosial yang sedang berlangsung.

Alasan psikologis di balik turunnya angka kelahiran

Berikut adalah beberapa alasan yang memicu penurunan angka kelahiran di Indonesia.

1. Pergeseran prioritas hidup

Danti menjelaskan bahwa orientasi hidup masyarakat telah berubah. Pada masa lalu, memiliki anak sering dianggap sebagai pencapaian utama atau kewajiban sosial.

Saat ini, banyak orang lebih fokus pada pengembangan diri. Karier, pendidikan, dan hobi menjadi prioritas yang ingin dicapai lebih dulu.

“Ada kebutuhan yang lebih besar untuk mengejar karier, pendidikan, dan hobi. Anak tidak lagi dilihat sebagai satu-satunya cara untuk merasa lengkap,” ujar Danti.

Kesadaran untuk menentukan kebahagiaan sendiri semakin kuat. Jalur hidup tidak lagi harus mengikuti pola domestik yang sama seperti generasi sebelumnya.

2. Standar pengasuhan semakin tinggi

penurunan angka kelahiran, prioritas hidup, pengasuhan anak, sandwich generation, Angka Kelahiran Turun, Psikolog Ungkap Alasan Banyak Orang Indonesia Enggan Punya Anak, 1. Pergeseran prioritas hidup, 2. Standar pengasuhan semakin tinggi, 3. Tekanan sandwich generation, 4. Perubahan persepsi tentang anak, 5. Eco-anxiety dan ketidakpastian masa depan, 6. Normalisasi childfree, 7. Kemandirian dan trauma masa lalu

Ilustrasi bayi. Psikolog menyebut penurunan angka kelahiran di Indonesia dipengaruhi perubahan cara pandang, tekanan mental, hingga kecemasan terhadap masa depan.

Perubahan juga terlihat pada cara memandang pengasuhan anak. Jika dulu kebutuhan dasar dianggap cukup, kini standar orangtua dinilai semakin tinggi.

Danti menyebut muncul kecenderungan intensive parenting. Calon orangtua merasa harus menyediakan gizi terbaik, pendidikan terbaik, hingga perhatian pada kesehatan mental anak.

“Jika mereka merasa tidak mampu memberikan standar ideal tersebut, mereka memilih untuk menunda atau tidak memiliki anak sama sekali karena takut gagal menjadi orangtua yang baik,” jelasnya.

Rasa cemas dan takut gagal membuat sebagian orang memilih menunggu sampai benar-benar siap.

3. Tekanan sandwich generation

Kelompok usia produktif saat ini banyak yang berada dalam posisi sandwich generation. Mereka harus membantu kebutuhan orangtua sekaligus memenuhi kebutuhan diri sendiri.

Situasi ini memicu kelelahan finansial dan mental. Energi dan perhatian sudah terkuras untuk generasi di atas, sehingga menambah anak dipandang sebagai beban tambahan.

Kondisi tersebut membuat sebagian orang merasa kapasitas mentalnya belum cukup untuk menjalani peran sebagai orangtua.

4. Perubahan persepsi tentang anak

Cara pandang terhadap anak juga berubah. Pada masa lalu, anak sering dianggap sebagai investasi hari tua.

Kini, anak lebih dipandang sebagai tanggung jawab besar, baik secara moral maupun finansial. Kesadaran terhadap hak-hak anak membuat calon orangtua berpikir lebih dalam sebelum memutuskan.

Perubahan ini menunjukkan bahwa kualitas pengasuhan lebih diprioritaskan dibanding jumlah anak.

5. Eco-anxiety dan ketidakpastian masa depan

Faktor lain yang ikut memengaruhi adalah kecemasan terhadap masa depan. Perubahan iklim, kondisi ekonomi global, dan persaingan kerja menimbulkan rasa khawatir.

“Apakah etis membawa anak ke dunia yang sedang tidak baik-baik saja ini?” ujar Danti mencontohkan pertanyaan yang muncul di kalangan generasi muda.

Kecemasan tersebut dikenal sebagai eco-anxiety. Rasa khawatir ini menjadi pertimbangan serius sebelum seseorang memutuskan memiliki anak.

6. Normalisasi childfree

Pilihan untuk tidak memiliki anak atau childfree kini semakin sering dibahas di ruang publik. Walaupun masih menuai perdebatan, pilihan ini mulai dianggap sebagai salah satu alternatif hidup.

“Ketika seseorang melihat orang lain bisa bahagia tanpa anak, hal itu memberikan izin psikologis bagi mereka yang selama ini ragu namun merasa tertekan oleh norma sosial,” kata Danti.

Adanya contoh tersebut membuat sebagian orang merasa lebih berani menentukan pilihan hidupnya sendiri.

7. Kemandirian dan trauma masa lalu

Danti juga menyoroti meningkatnya kemandirian ekonomi perempuan. Rasa percaya diri dan kemampuan finansial memberi ruang lebih luas untuk menentukan pilihan tanpa bergantung pada peran domestik tradisional.

Selain itu, pengalaman pengasuhan yang kurang baik di masa lalu bisa menimbulkan trauma. Sebagian orang memilih tidak memiliki anak jika merasa belum pulih sepenuhnya.

Ketakutan kehilangan kebebasan waktu dan finansial juga muncul. Keinginan menikmati hidup tanpa beban tambahan menjadi pertimbangan tersendiri.

Menurut Danti, seluruh faktor tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sedang mengalami masa transisi. Keputusan memiliki anak kini semakin dilihat sebagai pilihan pribadi yang perlu kesiapan mental dan emosional, bukan sekadar mengikuti tekanan sosial.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang