Ibu Bripda DP Histeris Genggam Tangan Kapolda Sulsel, Minta Kasus Penganiayaan Anaknya Diusut Tuntas

Pinrang, Bripda DP, Polda Sulsel, Makassar, Ibu Bripda DP Histeris Genggam Tangan Kapolda Sulsel, Minta Kasus Penganiayaan Anaknya Diusut Tuntas, Momen Emosional, Ibu Korban Menagih Janji, Kesaksian Tetangga: Anak yang Lurus dan Berbakti, Dugaan Penganiayaan: Luka Memar dan Keluar Darah, Enam Polisi Diperiksa, Tim Khusus Dibentuk

Suasana duka mendalam menyelimuti Desa Pincara, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Senin (23/2/2026). Isak tangis pecah saat Kapolda Sulsel, Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro, tiba di rumah duka Bripda DP (19), polisi muda yang diduga menjadi korban penganiayaan senior.

Pantauan di lokasi, Irjen Pol Djuhandhani tiba sekitar pukul 10.40 Wita. Setibanya di depan pintu rumah duka, jenderal bintang dua itu langsung memeluk erat ayah korban, Aipda Muhammad Jabir, yang juga merupakan anggota Polri berdinas di Polres Pinrang.

Momen Emosional, Ibu Korban Menagih Janji

Momen paling menyentuh terjadi saat Kapolda memasuki ruang tengah rumah duka. Ibu kandung Bripda DP, Sumarni, tampak histeris melihat kedatangan pimpinan tertinggi kepolisian di Sulawesi Selatan tersebut.

Sambil menangis tersedu-sedu, Sumarni meraih dan menggenggam erat tangan Irjen Pol Djuhandhani. Ia seolah tak ingin melepaskan genggaman itu sambil memohon agar kasus kematian putranya diusut secara transparan.

"Janji Pak Kapolda ya, janji. Lanjutkan perjuangan anakku, janji Pak Kapolda," ucap Sumarni dengan suara bergetar di tengah isak tangisnya.

Mendengar permintaan tersebut, Kapolda Sulsel berulang kali mengelus pundak keluarga korban untuk memberikan penguatan.

"Turut berduka cita, sabar hadapi ini, sabar," kata Djuhandhani menenangkan.

Kesaksian Tetangga: Anak yang Lurus dan Berbakti

Kepergian Bripda DP meninggalkan luka tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga warga sekitar. Di mata para tetangga di Desa Pincara, almarhum dikenal sebagai pemuda yang santun dan sangat berdedikasi.

"Baru tahun lalu dia lulus (Bintara Polri 2025). Anaknya sangat lurus, tidak pernah ada masalah di kampung. Kami semua bangga saat dia jadi polisi, tapi tidak menyangka nasibnya berakhir seperti ini," ujar salah seorang kerabat sekaligus tetangga korban saat ditemui di lokasi.

Tetangga lainnya menceritakan bahwa Bripda DP baru bertugas sekitar satu bulan di Direktorat Samapta (Ditsamapta) Polda Sulsel. Kabar kematiannya yang mendadak mengejutkan warga, terutama karena korban sempat menelepon ibunya pada waktu sahur, tepat beberapa jam sebelum dinyatakan meninggal dunia.

Dugaan Penganiayaan: Luka Memar dan Keluar Darah

Ayah korban, Aipda Muhammad Jabir, mengungkapkan kecurigaan besar atas kematian putranya. Meski laporan awal menyebutkan Bripda DP jatuh sakit usai salat subuh di asrama, pihak keluarga menemukan sejumlah tanda kekerasan pada tubuh korban.

"Ada luka memar di perut, di dada dekat leher itu hitam, dan mulut keluar darah terus. Kalau benda tumpul mungkin tidak ada, tapi kalau bekas pukulan mungkin ada," ungkap Jabir saat ditemui di RSUD Daya sebelumnya.

Kecurigaan ini diperkuat karena pada Minggu subuh, korban masih sempat berkomunikasi via telepon dengan sang ibu dan meminta dibuatkan Palekko (makanan khas Pinrang) untuk dibawa ke Makassar.

Enam Polisi Diperiksa, Tim Khusus Dibentuk

Kabid Propam Polda Sulsel, Kombes Pol Zulham Effendy, menegaskan bahwa pihaknya telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki penyebab pasti kematian Bripda DP. Hingga saat ini, enam anggota polisi telah diperiksa intensif.

"Enam orang diperiksa, terdiri dari tiga orang rekan seangkatan (letting) dan tiga orang senior korban," ujar Zulham.

Saat ini, jenazah Bripda DP telah menjalani proses otopsi di RS Bhayangkara Makassar untuk memastikan apakah penyebab kematian akibat penganiayaan atau faktor medis. Pihak Polda Sulsel berjanji akan membuka hasil penyelidikan secara profesional dan transparan kepada publik.

Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul  dan Teman Korban dan Tribun-Timur.com dengan judul Ibu Bripda DP Histeris Genggam Tangan Kapolda, Minta Kasus Diusut Tuntas: Janji Pak Kapolda Ya!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang