Belajar dari Kasus Habib Bahar, Ini nasihat Buya Yahya untuk Istri Bila Suami Minta Poligami
Polemik hubungan antara model cantik Helwa Bachmid dan Habib Bahar bin Smith kembali menjadi sorotan usai Helwa mencurahkan isi hatinya melalui media sosial. Ia mengaku telah menjalani pernikahan siri selama satu tahun namun merasa tidak bahagia karena merasa ditelantarkan.
Pengakuan tersebut langsung memicu beragam reaksi publik, terlebih karena sebelumnya Habib Bahar telah menikah dengan Syarifah Fadlun Faisal Balghoits, seorang wanita yang dikenal sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Scroll lebih lanjut yuk!
Fenomena ini membuat masyarakat kembali membahas isu poligami, terutama dari aspek tanggung jawab dan keadilan.
Buya Yahya memberikan nasihat bijak kepada para istri dan suami yang tengah menghadapi persoalan serupa. Nasihat tersebut disampaikan melalui tayangan YouTube Al Bahjah TV, setelah beliau menerima pertanyaan dari seorang wanita mengenai suaminya yang tiba-tiba ingin berpoligami karena terinspirasi oleh gurunya.
Buya Yahya menekankan bahwa poligami adalah urusan yang sangat pribadi dan tidak bisa digeneralisasikan.
Menurut Buya Yahya, poligami bukanlah perkara yang dapat dianggap sepele. Ada banyak aspek penting yang harus dipikirkan secara matang, baik dari segi mental, nafkah, hingga kemampuan berlaku adil.
Ia mengingatkan bahwa suami tidak boleh hanya membicarakan poligami tanpa alasan jelas, karena hal tersebut hanya akan melukai perasaan istri.
“Kemudian bagi kaum pria memang tidak semestinya semacam itu. Ngomong terus tapi nggak jelas kenapa poligaminya, itu akan menyakiti,” tuturnya, dikutip Selasa 18 November 2025.
Meski demikian, bagi seorang istri, Buya Yahya memberi pandangan bahwa jika suaminya benar-benar mampu dan adil, maka tidak layak menolak sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah SWT.
“Sesuatu yang dihalalkan dalam syariat, nggak mungkin Anda (istri) mengatakan saya tidak rela dan tidak boleh terjadi,” jelasnya.
Namun sebelum mengambil keputusan, istri dianjurkan membangun komunikasi yang baik dengan suami, serta memperbanyak doa agar diberi kelapangan hati.
“Maka yang paling baik Anda membangun komunikasi dengan suami Anda yang baik. Berdoa mengadu kepada Allah, nanti semakin Anda dekat kepada Allah semua permasalahan itu akan hilang," ungkap Buya Yahya.
Buya Yahya menyebut bahwa berbagai kemungkinan bisa terjadi—suami mungkin membatalkan niatnya, atau jika poligami tetap dilakukan, istri akan lebih siap secara emosional. Ia mengingatkan bahwa rasa sakit hati adalah hal manusiawi, namun tidak boleh menjadi alasan untuk marah kepada Allah.
“Sebab urusan sakit (hati), orang ditinggal meninggal juga sakit. Apa akan marah kepada Allah? Suami menikah lagi juga sakit, tapi apa akan marah kepada Allah?” ujarnya.
Di balik ujian tersebut, lanjutnya, tetap ada hikmah yang perlu dicari. Istri juga dapat membuat kesepakatan dengan suami, seperti tidak mempublikasikan pernikahan atau kesepakatan lain yang dapat meredam kesedihan.
“Ini adalah sebuah perjanjian dalam rangka tawar-menawar kan,” katanya.
Buya Yahya juga memberikan peringatan tegas kepada para suami agar tidak sembarangan dalam urusan poligami.
"Sebab ada tanggung jawab besar hadapan Allah subhanahu wa ta'ala. Jangan Anda nikah sana-sini, anaknya enggak dirawat semua,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa mendidik satu istri dan satu anak saja sudah merupakan amanah besar, apalagi jika jumlahnya lebih banyak.
“Istri tidak dididik anak juga tidak dididik. Tanggung jawabnya satu istri saja besar di hadapan Allah, bagaimana dua?” imbuhnya.
Buya Yahya juga menyinggung dampak poligami terhadap anak-anak. Menurutnya, orang tua perlu menjaga keharmonisan keluarga agar tidak muncul kecemburuan atau fitnah.
"Harus diwaspadai kadang suami yang berpoligami sudah berhati-hati agar adil. Tapi ternyata istrinya tidak benar-benar cara mendidiknya sehingga muncul iri hati dan mengatakan ayahmu tidak adil, dan seterusnya,” terangnya.
Sebagai penutup, Buya Yahya memberikan pesan khusus kepada anak-anak dalam keluarga poligami.
“Jangan terputus silaturahmi hanya karena ibu yang berbeda atau Ayah yang berbeda. Jangan sampai terjadi perpecahan gara-gara hal yang semacam itu,” tandasnya.
Melalui penjelasan tersebut, Buya Yahya menegaskan bahwa poligami bukan sekadar izin syariat, tetapi amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh keseriusan, tanggung jawab, dan kebijaksanaan.