Beredar Foto Bripda Pirman Duduk Jongkok di Samping Jasad Bripda DP, Raut Wajahnya Jadi Sorotan

Bripda DP, Makassar, Bripda DP meninggal, Beredar Foto Bripda Pirman Duduk Jongkok di Samping Jasad Bripda DP, Raut Wajahnya Jadi Sorotan, Hasil Sinkronisasi Data dan Bukti Fisik, Motif Masalah Hirarki Senior-Junior, Laporan Palsu 'Membenturkan Kepala', Kronologi dan Kesaksian Keluarga

Sebuah foto yang memperlihatkan momen Bripda Pirman, tersangka utama kasus penganiayaan anggota Ditsamapta Polda Sulawesi Selatan (Sulsel), Bripda Dirja Pratama (DP), beredar luas di media sosial.

Dalam dokumentasi yang diterima pada Selasa (24/2/2026), tampak Bripda Pirman duduk jongkok bersandar di samping ranjang rumah sakit tempat Bripda DP terbaring tak sadarkan diri.

Raut wajah Bripda Pirman dalam foto tersebut memperlihatkan kesan penyesalan mendalam saat menemani juniornya sebelum dinyatakan meninggal dunia.

Kini, Bripda Pirman telah resmi ditetapkan sebagai tersangka tunggal dalam kasus kekerasan di lingkungan Polri tersebut.

Hasil Sinkronisasi Data dan Bukti Fisik

Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro, menegaskan bahwa penetapan tersangka didasarkan pada kesesuaian antara keterangan pelaku dengan bukti medis.

"Keterangan saudara P dihubungkan dengan hasil pemeriksaan Biddokkes menunjukkan adanya persesuaian, baik dari luka pukulan di bagian kepala maupun bagian tubuh lainnya. Ini sudah sinkron," ujar Djuhandhani di Makassar, Senin (23/2/2026).

Selain Bripda Pirman, penyidik juga tengah memeriksa enam anggota polisi lainnya yang terdiri dari tiga rekan seangkatan (letting) dan tiga senior korban guna mendalami keterlibatan pihak lain.

Motif Masalah Hirarki Senior-Junior

Berdasarkan hasil penyelidikan terbaru, aksi kekerasan tersebut dipicu oleh masalah kedisiplinan dan hirarki di asrama. Irjen Djuhandhani mengungkapkan bahwa pelaku merasa tersinggung karena korban dianggap tidak patuh pada seniornya.

"Motifnya masalah hirarki (senior-junior). Senior marah karena junior dipanggil tidak mau menghadap, dan saat salat subuh dijemput lalu dipukuli," jelas mantan Dirtipidum Bareskrim Polri tersebut saat dihubungi, Rabu (25/2/2026).

Laporan Palsu 'Membenturkan Kepala'

Sebelum terungkap sebagai kasus penganiayaan, sempat beredar laporan awal dari Bid Propam yang menyebutkan bahwa Bripda DP meninggal akibat tindakan menyakiti diri sendiri. Namun, tim penyidik tidak lantas memercayai informasi tersebut.

"Laporan awal yang kami terima yang bersangkutan meninggal karena membentur-benturkan kepala. Namun kita tidak percaya begitu saja. Apa yang disampaikan oleh anggota bahwa dia membentur-benturkan kepalanya itu tidak benar," tegas Kapolda usai melayat ke rumah duka di Pinrang.

Melalui pendekatan ilmiah (scientific crime investigation), tim kedokteran forensik menemukan bukti kekerasan tumpul yang menggugurkan klaim laporan awal tersebut.

Kronologi dan Kesaksian Keluarga

Peristiwa bermula saat Bripda Dirja Pratama, lulusan Bintara Polri tahun 2025, ditemukan tak sadarkan diri di Asrama Ditsamapta Polda Sulsel pada Minggu (22/2/2026) pagi. Korban sempat dilarikan ke RSUD Daya Makassar, namun nyawanya tidak tertolong.

Ayah korban, Aipda Muhammad Jabir, yang juga merupakan anggota kepolisian selama 20 tahun, mengaku sejak awal menaruh kecurigaan adanya kejanggalan pada jasad sang putra.

"Pemeriksaan awal ada luka memar di perut dan leher. Indikasi (kekerasan) karena masih sementara autopsi di dalam dan ada videonya luka memar di perut sebelah kanan," kata Muhammad Jabir.

Pihak keluarga mendesak Polda Sulsel untuk mengusut tuntas kasus ini secara transparan dan memberikan keadilan bagi almarhum.

"Kami akan proses minta keadilan, apabila ada penganiayaan kami serahkan ke penyidik Polda untuk mengungkap tuntas siapa pelaku penganiaya kejadian tadi pagi," tutupnya.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Fakta Baru Bripda Pirman, Temani Bripda DP di Rumah Sakit, Raut Wajahnya Jadi Perhatian

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang