Longsor Cisarua di Tengah Deretan Bencana, Ini Cerita Mereka yang Selamat
Longsor yang terjadi di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menambah daftar bencana yang melanda Indonesia selama setahun terakhir.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga 31 Desember 2025, total bencana yang terjadi di seluruh Indonesia mencapai 3.233 kejadian.
Dari angka tersebut, bencana banjir menjadi yang tertinggi dengan 1.652 kejadian, sedangkan tanah longsor tercatat sebanyak 233 kejadian.
Terbaru, longsor terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, pada Sabtu, 24 Januari 2026, akibat curah hujan yang sangat tinggi.
Dilansir dari , Selasa (27/1/2026), berdasarkan data sementara hingga Senin (26/1/2026) pukul 18.30 WIB, tim SAR gabungan telah mengevakuasi dan mengirimkan total 38 kantong jenazah ke pos DVI untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Dari jumlah tersebut, 20 kantong sudah berhasil terindentifikasi, dan sebanyak 18 kantong masih dalam proses identifikasi.
Kejadian ini menyisakan kesedihan mendalam bagi para korban, di mana tidak hanya rumah yang hancur, tetapi banyak yang kehilangan anggota keluarga dalam bencana tersebut.
Cerita dari mereka yang selamat
Wawa (40), penduduk Desa Pasirlangu, berbagi pengalamannya saat longsor terjadi.
Bersama puluhan warga lainnya, ia berusaha menyelamatkan diri di tengah kegelapan dan kepanikan.
Longsor pertama terjadi cukup cepat, dan banyak warga mulai mengungsi. Wawa dan keluarganya segera meninggalkan rumah saat mendengar suara gemuruh dari arah longsor.
"Kami sempat berada di luar rumah sekitar 30 menit sebelum longsor kedua terjadi," ujarnya.
Ia menambahkan, banyak yang berteriak mencari anggota keluarga yang terpisah.
Dalam keadaan minim penerangan, banyak warga terjatuh, namun mereka saling membantu satu sama lain.
Wawa mengaku baru bisa mengungsi ke Kantor Desa Pasirlangu sekitar pukul 05.00 WIB.
"Semua barang ditinggal, hanya pakai baju yang ada di tubuh. Alhamdulillah, keluarga saya selamat," tuturnya.
Meski demikian, Wawa masih khawatir karena beberapa anggota keluarganya yang lain belum ditemukan.
Ia berharap agar semua saudaranya, termasuk paman, bibi, dan keponakan, bisa ditemukan dengan selamat.
Ia juga menyebutkan bahwa pos pengungsian sangat membutuhkan perlengkapan bayi, seperti pakaian dan susu, untuk mendukung mereka yang berada di lokasi evakuasi.
Adria, yang juga seorang korban selamat, menunggu kabar tentang anggota keluarganya di Posko DVI Polda Jawa Barat.
Sejak hari pertama bencana, Adria bersama kerabatnya terus berupaya mendapatkan informasi tentang keberadaan sepuluh anggota keluarganya yang masih hilang.
"Kami sudah bertemu dengan tiga, tetapi sepuluh lagi belum ditemukan," tuturnya sambil berharap agar pencarian korban dapat segera membuahkan hasil.
Di tengah situasi yang sulit, Defrian, seorang anak berusia 10 tahun, harus berjuang untuk bertahan hidup.
Malam itu, ia dan orangtuanya tidak bisa tidur karena terus merasakan getaran yang mengkhawatirkan.
Saat longsor terjadi, ketakutan menjadi nyata ketika suara gemuruh menyertai jeritan warga lainnya.
"Ibu bilang bahwa bagian sebelah barat sudah rata," kenangnya.
Meskipun rumahnya masih aman, Defrian merasa takut akan kemungkinan longsor susulan. Ia pun memilih untuk tinggal di aula Kantor Desa Pasirlangu sebagai langkah keselamatan.
Desa Pasirlangu adalah salah satu dari delapan desa di Kecamatan Cisarua yang memiliki luas sekitar 1.020 hektar, terletak di antara beberapa batas wilayah yang strategis.
Bencana ini mengingatkan kita akan pentingnya kesadaran akan potensi bencana di daerah rawan longsor.
Banyak keluarga kini berada dalam situasi yang sulit, menantikan kabar tentang anggota mereka yang hilang dan berusaha membangun kembali kehidupan mereka yang hancur.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang