Hujan Ekstrem Picu Longsor Cisarua, BMKG Ungkap Curah Hujan Tembus 215 Milimeter

BMKG Bandung, Hujan Ekstrem Picu Longsor Cisarua, BMKG Ungkap Curah Hujan Tembus 215 Milimeter, Seberapa Ekstrem Curah Hujan di Bandung Barat?, Mengapa Hujan Lebat Memicu Longsor?, Apa Indikator Cuaca yang Perlu Diwaspadai?, Bagaimana Perkiraan Musim Hujan ke Depan?

 Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Jawa Barat dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama terjadinya bencana tanah longsor di kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa kondisi cuaca saat ini masih sangat berpotensi memicu kejadian serupa, khususnya di wilayah dengan topografi perbukitan dan kondisi tanah yang labil.

Bencana longsor yang terjadi di Cisarua menjadi peringatan serius bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

Selain menimbulkan kerusakan infrastruktur dan permukiman, kejadian tersebut juga memperlihatkan tingginya risiko bencana hidrometeorologi di tengah puncak musim hujan.

Seberapa Ekstrem Curah Hujan di Bandung Barat?

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Teguh Rahayu, mengungkapkan bahwa curah hujan yang terjadi di Kabupaten Bandung Barat pada 23 Januari 2026 masuk dalam kategori ekstrem.

Data pengamatan menunjukkan hujan dengan intensitas sangat tinggi mengguyur wilayah tersebut dalam waktu relatif singkat.

“Berdasarkan data BMKG, Pos Hujan Perkebunan Sukawana mencatat curah hujan sebesar 215,5 milimeter, sementara Pos Hujan Perkebunan Pangheotan mencatat 210,5 milimeter dalam satu hari. Curah hujan yang sangat tinggi ini menjadi faktor utama penyebab longsor, terutama di wilayah Kabupaten Bandung Barat yang memiliki topografi berbukit, curam, serta kondisi tanah yang relatif labil,” kata Ayu saat dihubungi, Sabtu (24/1/2026).

Curah hujan di atas 200 milimeter per hari tergolong sangat tinggi dan berpotensi besar memicu bencana, terutama di kawasan dengan daya dukung tanah yang terbatas.

Mengapa Hujan Lebat Memicu Longsor?

Menurut Teguh Rahayu, longsor memang dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kondisi geologi, kemiringan lereng, hingga penggunaan lahan.

Namun, hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang menjadi pemicu dominan terjadinya longsor di wilayah Jawa Barat.

Air hujan yang turun secara terus-menerus akan meresap ke dalam tanah. Ketika tanah sudah berada dalam kondisi jenuh, daya ikat antarpartikel tanah akan melemah sehingga tanah menjadi mudah bergerak.

“Hujan lebat hingga ekstrem yang turun dalam durasi lama membuat tanah tidak mampu lagi menahan resapan air. Kondisi inilah yang kemudian memicu terjadinya longsor,” jelasnya.

BMKG mencatat, pola hujan yang terjadi saat ini tidak hanya lebat, tetapi juga berlangsung cukup lama.

Kombinasi antara intensitas dan durasi hujan tersebut secara signifikan meningkatkan potensi terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti longsor dan banjir bandang.

Apa Indikator Cuaca yang Perlu Diwaspadai?

Lebih lanjut, Teguh Rahayu menyampaikan bahwa masyarakat sebenarnya dapat mengenali sejumlah indikator cuaca sebagai tanda awal meningkatnya potensi longsor. Salah satu indikator yang mudah dikenali adalah kemunculan awan Cumulonimbus.

Awan Cumulonimbus biasanya tumbuh menjulang tinggi dan menutupi langit hingga tampak gelap.

Awan jenis ini kerap memicu hujan lebat disertai petir dan angin kencang dalam durasi yang cukup lama.

Selain itu, perubahan cuaca yang berlangsung cepat, hujan deras yang tidak berhenti, serta meningkatnya debit air di sungai atau saluran air juga dapat menjadi sinyal meningkatnya risiko longsor.

Bagaimana Perkiraan Musim Hujan ke Depan?

BMKG memprakirakan periode Januari hingga Maret 2026 masih berada dalam puncak musim hujan di berbagai wilayah Jawa Barat.

Daerah yang diperkirakan masih akan sering diguyur hujan lebat antara lain Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi.

“Periode Januari hingga Maret 2026 diprediksi masih berada dalam puncak musim hujan di berbagai wilayah Jawa Barat. Artinya, intensitas hujan masih berpotensi tinggi,” ujar Ayu.

Dengan kondisi atmosfer yang masih dinamis, potensi hujan dengan intensitas ringan hingga ekstrem masih dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama pada siang hingga malam hari.

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan longsor, untuk meningkatkan kewaspadaan.

Masyarakat diminta lebih aktif memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG.

“Kami mengimbau masyarakat yang berada di daerah rawan longsor untuk tetap waspada, memantau kondisi cuaca, serta menjauhi lokasi-lokasi yang berpotensi terdampak longsor,” kata Ayu.

Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul BMKG Beberkan Penyebab Longsor yang Mengubur 30 Rumah di Cisarua Bandung Barat.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang