Longsor Pasirlangu Cisarua: 60 Jenazah Dievakuasi, 44 Korban Teridentifikasi, 20 Orang Masih Dicari Tim SAR
Tim Search and Rescue (SAR) memutuskan untuk melanjutkan operasi pencarian korban bencana tanah longsor di Kampung Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat.
Keputusan ini diambil setelah dilakukan evaluasi menyeluruh pada hari ketujuh operasi pencarian, dengan mempertimbangkan masih adanya korban yang belum ditemukan serta kondisi cuaca yang relatif mendukung.
Hingga evaluasi hari ketujuh, tercatat masih ada 20 korban yang dilaporkan hilang. Operasi pencarian pun dipastikan akan terus berlanjut dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia, meskipun medan di lokasi longsor tergolong berat dan berisiko.
Bagaimana hasil operasi SAR pada hari ketujuh?
Kepala Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan, tim SAR berhasil mengevakuasi lima kantong jenazah pada pelaksanaan operasi hari ketujuh.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari kondisi cuaca yang relatif bersahabat sejak pagi hingga sore hari.
“Berdasarkan hasil evaluasi hari ke tujuh, masih terdapat 20 korban dilaporkan hilang dan pencarian akan terus dilanjutkan. Alhamdulillah, dari pagi hingga sore cuaca sangat membantu pelaksanaan operasi SAR dan hari ini kami berhasil mengevakuasi lima body pack (kantong jenazah),” kata Mohammad Syafii di Bandung, Jumat (30/1/2026).
Dengan tambahan temuan tersebut, total korban yang berhasil dievakuasi sejak hari pertama hingga hari ketujuh operasi pencarian mencapai 60 kantong jenazah.
Seluruh jenazah yang ditemukan langsung diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Operasi pencarian korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat pada hari ketujuh kembali menemukan lima kantong jenazah, Jumat (30/1/2026).
Berapa jenazah yang sudah berhasil diidentifikasi?
Berdasarkan data DVI Polri, sebanyak 44 jenazah telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada pihak keluarga.
Proses identifikasi dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kondisi jenazah serta kelengkapan data pembanding dari keluarga korban.
Mohammad Syafii menjelaskan bahwa proses identifikasi membutuhkan ketelitian tinggi agar tidak terjadi kekeliruan dalam penyerahan jenazah kepada keluarga.
Oleh karena itu, meskipun evakuasi terus dilakukan, proses DVI tetap berjalan dengan prinsip kehati-hatian.
Mengapa data korban terus mengalami perubahan?
Dalam kesempatan tersebut, Mohammad Syafii juga mengungkapkan bahwa data jumlah korban terdampak dan hilang mengalami dinamika seiring berjalannya proses pencarian dan asesmen lapangan.
Pembaruan data dilakukan oleh Search Management Cell (SMC), Incident Commander (IC), serta tim DVI Polri berdasarkan temuan terkini di lapangan.
“Laporan awal menyebutkan sebanyak 113 orang terdampak dari 34 kepala keluarga. Namun perkembangan terakhir menunjukkan terdapat 158 warga yang dilaporkan hilang dari 35 kepala keluarga. Dinamika data ini menjadi bagian dari proses operasi di lapangan,” ujarnya.
Perubahan data tersebut, menurutnya, merupakan hal yang wajar dalam penanganan bencana berskala besar, terutama di wilayah permukiman padat dengan kondisi geografis yang kompleks.
Bagaimana tantangan yang dihadapi tim SAR?
Operasi SAR di Kampung Pasirlangu menghadapi sejumlah tantangan serius. Medan longsor yang curam, material tanah bercampur bebatuan, serta potensi pergerakan tanah susulan membuat proses pencarian harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Selain itu, cuaca yang tidak selalu stabil dalam sepekan terakhir turut mempengaruhi ritme pencarian.
Meski demikian, Mohammad Syafii memastikan operasi SAR tetap dilaksanakan secara maksimal. Tim SAR bekerja selama 24 jam dengan sistem pembagian waktu dan area pencarian yang terukur. Sejumlah unsur turut terlibat, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, relawan, hingga instansi terkait lainnya.
Sebagai upaya tambahan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga melakukan modifikasi cuaca untuk meminimalkan potensi hujan di lokasi pencarian. Langkah ini dinilai cukup membantu memperpanjang waktu aman bagi tim SAR untuk melakukan evakuasi.
Mohammad Syafii menegaskan bahwa status tanggap darurat bencana telah ditetapkan selama 14 hari. Selama periode tersebut, operasi pencarian akan terus dilakukan dengan harapan seluruh korban dapat ditemukan sebelum masa tanggap darurat berakhir.
“Kondisi medan dan cuaca memang belum sepenuhnya ideal, namun tanggap darurat telah ditetapkan selama 14 hari dan kami berharap sebelum masa tersebut berakhir seluruh korban dapat ditemukan,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mendoakan kelancaran proses pencarian, serta keselamatan seluruh personel yang bertugas di lapangan.
“Operasi SAR akan terus kami lanjutkan selama masih ada harapan menemukan korban. Kami mohon doa agar seluruh proses berjalan aman dan lancar,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang