Longsor Cisarua Bandung Barat: 83 Warga Masih Hilang, Pencarian 24 Jam Nonstop

Memasuki hari kedua pascabencana, proses pencarian korban tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, terus dipacu.
Hingga Minggu (25/1/2026), dilaporkan sebanyak 83 orang warga masih dinyatakan hilang. Tim SAR gabungan kini berpacu dengan waktu dan kondisi alam yang ekstrem untuk menemukan para korban.
Kendala Medan: Area 2 Kilometer dan Lumpur Pekat
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, mengungkapkan bahwa luasnya area terdampak menjadi tantangan utama dalam operasi kemanusiaan ini. Jarak luncuran tanah dari puncak hingga titik terjauh mencapai angka yang signifikan.
"Berdasarkan perhitungan, jarak dari titik mahkota longsor hingga lidah longsoran terjauh mencapai 2.009 meter atau sekitar 2 kilometer. Ini area yang sangat luas untuk disisir," ujar Ade, Minggu.
Selain luas wilayah, material longsoran yang didominasi lumpur basah setebal beberapa meter menyulitkan pergerakan personel maupun alat berat. Faktor cuaca juga memegang peranan krusial dalam keberhasilan evakuasi.
"Kendala utama kami adalah ketergantungan pada cuaca. Lumpur yang masih basah dan labil sangat menyulitkan pekerjaan di lapangan. Kami berharap cuaca hari ini mendukung agar pencarian bisa lebih maksimal," tambahnya.
Operasi SAR 24 Jam dan Pembagian Klaster
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, saat meninjau lokasi di Kantor Desa Pasirlangu menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen penuh dalam proses evakuasi.
"Kita melakukan operasi SAR 24 jam nonstop, karena sekitar 83 warga yang masih dalam pencarian," tegas Pratikno.
Guna memastikan penanganan bencana berjalan sistematis, Pratikno membagi penanganan ke dalam lima klaster utama:
- Klaster SAR (Pencarian dan Penyelamatan)
- Klaster Kesehatan
- Klaster Logistik
- Klaster Perlindungan Sosial
- Klaster Infrastruktur
Lanskap lokasi longsor dan lahan perkebunan di lereng Gunung Burangrang, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Minggu (25/1/2026).Penyebab Longsor: Hujan Ekstrem dan Tanah Labil
Kepala Stasiun Geofisika BMKG, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa bencana ini dipicu oleh akumulasi curah hujan ekstrem yang melanda wilayah Bandung Barat sejak Jumat (23/1/2026).
Data BMKG menunjukkan curah hujan di Pos Perkebunan Sukawana mencapai 215,5 milimeter dan Pos Perkebunan Pangheotan sebesar 210,5 milimeter dalam satu hari.
“Curah hujan yang sangat tinggi ini menjadi faktor utama penyebab longsor, terutama di wilayah Kabupaten Bandung Barat yang memiliki topografi berbukit, curam, serta kondisi tanah yang relatif labil,” jelas Ayu.
Ayu menambahkan, air yang meresap terus-menerus membuat tanah menjadi jenuh dan kehilangan daya ikat. Kondisi ini diperkirakan masih akan mengancam wilayah Jawa Barat mengingat puncak musim hujan diprediksi berlangsung hingga Maret 2026.
Masyarakat diimbau untuk mewaspadai kemunculan awan Cumulonimbus yang menjulang gelap sebagai tanda potensi hujan lebat.
"Kami mengimbau masyarakat yang berada di daerah rawan longsor untuk tetap waspada dan menjauhi lokasi berpotensi terdampak," pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul SAR Sibuk Cari 83 Korban Hilang, Menko PMK Instruksikan Operasi SAR Longsor Cisarua 24 Jam Nonstop
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang