Kisah Hadiansyah, Pemilik Rumah yang Tetap Tegak Berdiri di Tengah Hamparan Longsor Cisarua

longsor, Kisah Hadiansyah, Pemilik Rumah yang Tetap Tegak Berdiri di Tengah Hamparan Longsor Cisarua, Detik-detik Mencekam di Tengah Gemuruh, Nasib Kebun Bunga Aster yang Siap Panen, Kesaksian Korban Selamat: Getaran Seperti Gempa, Ketidakpastian di Balik Rumah yang Bertahan

Pemandangan kontras terlihat di Kampung Pasir Kuda dan Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Di tengah hamparan lumpur dan puing bangunan yang rata dengan tanah akibat longsor Gunung Burangrang, satu unit rumah milik Hadiansyah (30) masih berdiri kokoh.

Bencana yang terjadi pada Jumat (23/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026) dini hari tersebut mengubah kawasan perkebunan bunga yang asri menjadi hamparan tanah cokelat layaknya sungai kering.

Detik-detik Mencekam di Tengah Gemuruh

Hadiansyah menceritakan, peristiwa mengerikan itu bermula saat ia tengah beristirahat pada Jumat sore sekitar pukul 15.00 WIB. Ia terbangun lantaran mendengar suara gemuruh hebat dan teriakan histeris sang istri.

"Ada gempa, ada gempa kata istri saya. Saya mendengar suara gemuruh yang sangat kuat, saya lihat ke luar rumah," ujar Hadiansyah saat ditemui di lokasi, Sabtu (24/1/2026).

Saat membuka pintu, ia mendapati lumpur sudah merayap tinggi hingga tepat di depan rumahnya. Menurutnya, longsor di Desa Pasirlangu ini terjadi dalam tiga gelombang besar.

"Ada tiga kali longsoran, durasi dari longsoran pertama hingga ketiga ya setengah jam hingga satu jam," ucapnya.

Seketika, ia langsung mengevakuasi istri dan anaknya yang berusia 6 tahun ke tempat aman, sebelum kembali lagi untuk menyelamatkan orangtua serta kakaknya. Lebih dari 15 anggota keluarga Hadiansyah tinggal bertetangga di area tersebut.

Namun nahas, 13 rumah tetangga dan satu bangunan musala di sekitarnya kini telah hilang tersapu material tanah.

Nasib Kebun Bunga Aster yang Siap Panen

longsor, Kisah Hadiansyah, Pemilik Rumah yang Tetap Tegak Berdiri di Tengah Hamparan Longsor Cisarua, Detik-detik Mencekam di Tengah Gemuruh, Nasib Kebun Bunga Aster yang Siap Panen, Kesaksian Korban Selamat: Getaran Seperti Gempa, Ketidakpastian di Balik Rumah yang Bertahan

Lanskap lokasi longsor dan lahan perkebunan di lereng Gunung Burangrang, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Minggu (25/1/2026).

Selain kehilangan tempat tinggal bagi kerabatnya, bencana ini juga menghancurkan sektor ekonomi warga. Di wilayah ini, hampir 80 persen penduduk menggantungkan hidup sebagai petani bunga, termasuk keluarga Hadiansyah yang mayoritas menanam Bunga Aster.

Ironisnya, musibah ini terjadi sesaat sebelum masa panen tiba.

"Kebun kembang saya panen dua minggu lagi, tapi kalau kembang milik orangtua saya, seharusnya saat ini masa panennya," kata Hadiansyah dengan nada getir.

Biasanya, setiap tiga bulan sekali, para bandar bunga akan mendatangi kebun mereka untuk mengambil hasil panen. Kini, dua petak saung milik Hadi dan kebun milik keluarganya terkubur material longsor KBB.

Kesaksian Korban Selamat: Getaran Seperti Gempa

Kengerian juga dirasakan oleh Neng Evi (40), warga yang berhasil selamat. Ia menuturkan bahwa cuaca ekstrem berupa hujan angin kencang telah melanda wilayah tersebut selama tiga hari berturut-turut. Namun, pada Jumat malam, kondisi terasa jauh lebih mencekam.

"Jam 9 malam itu hujan angin. Setelah gemuruh kayak gempa gitu, kaca lemari sampai getar," tutur Evi di posko pengungsian, Minggu (25/1/2026).

Evi baru menyadari skala kehancuran pada pagi harinya. Mahkota longsor di Gunung Burangrang terlihat jelas membelah hijaunya hutan menjadi jalur tanah cokelat yang mengerikan.

"Pagi terlihat di atas ada tanah. Rumah saya nyaris kena sudah dekat lumpur," tambahnya.

Nasib pilu dialami Ella Rohmatika (34). Meski ia selamat, tujuh anggota keluarganya hingga kini dinyatakan hilang.

"Bibi, paman, anak, cucu, dan menantunya belum ditemukan. Posisi rumah mereka pas di lokasi yang rata itu," kata Ella.

Ketidakpastian di Balik Rumah yang Bertahan

Meski rumah permanen yang dibangun tujuh tahun lalu itu masih berdiri, Hadiansyah mengaku belum bisa menentukan masa depannya. Pada malam setelah kejadian, ia dan anak istrinya bahkan sempat tidur di dalam rumah tersebut di tengah bayang-bayang trauma.

"Saya masih belum bisa memastikan apakah rumah yang masih berdiri tersebut akan dihuni atau tidak," pungkasnya.

Hingga saat ini, proses pencarian korban hilang masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan di area longsor Kecamatan Cisarua, sementara bantuan logistik dilaporkan mulai mengalir bagi para pengungsi.

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Kisah Pilu di Balik Rumah Hadiansyah yang Berdiri Utuh di Cisarua, Kebun Aster Siap Panen Lenyap

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang