Deretan Mesin Perang AS Siaga di Timur Tengah, Sinyal Kuat Operasi Darat di Iran
Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah memperkuat dukungan militernya di wilayah Timur Tengah dengan mengerahkan pesawat pembom strategis dan pesawat serang jarak dekat AS ke wilayah Eropa di tengah meningkatnya ketegangan konflik dengan Iran.
Pergerakan militer terkuat di bumi ini dinilai sebagai bagian dari persiapan dukungan udara bagi kemungkinan operasi darat di wilayah Iran.
Berdasarkan pemantauan sejumlah akun intelijen sumber terbuka (OSINT) dan analisis data penerbangan, sebanyak 12 pesawat serang A-10C Thunderbolt II terlihat mendarat di Inggris pada 30 Maret. Pesawat yang dikenal dengan julukan "Warthog" itu tiba di RAF Lakenheath dalam dua gelombang terpisah.
A-10 dirancang khusus untuk dukungan udara jarak dekat bagi pasukan darat. Pesawat ini dilengkapi meriam tujuh laras GAU-8/A Avenger yang mampu menembakkan sekitar 3.900 peluru per menit dan dikenal efektif melawan kendaraan lapis baja serta target darat. Sejumlah pesawat yang terlihat membawa tanda ekor Garda Nasional Udara Michigan.
VIVA Militer: Jet tempur Angkatan Udara Amerika Serikat, A-10 Warthog
Sebelumnya, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menyatakan bahwa pesawat A-10 pernah digunakan di sekitar perairan Iran untuk menghadapi kapal serang cepat dan elemen penebar ranjau.
Selain A-10, aktivitas intensif pesawat tanker pengisian bahan bakar udara juga terpantau di Inggris dan Rumania. Enam pesawat KC-135 Stratotanker dilaporkan lepas landas dari RAF Mildenhall serta Pangkalan Angkut Udara ke-90 di Bandara Internasional Henri Coandă, Rumania, pada 31 Maret. Beberapa di antaranya terbang ke wilayah Yunani selatan sebelum kembali ke pangkalan.
Empat pesawat tanker lainnya yang berangkat dari negara bagian Maine, AS, terpantau tiba di Timur Tengah dan mendarat di Israel, menunjukkan dukungan logistik udara yang berkelanjutan di kawasan Timur Tengah.
Di saat yang sama, pesawat pembom strategis B-52 Stratofortress milik AS terlihat terbang dari Inggris dalam misi yang disebut menargetkan Iran. Pesawat tersebut dilaporkan membawa bom berpemandu Joint Direct Attack Munition (JDAM) seberat sekitar 227 kilogram.
Dalam konferensi pers sebelumnya, Dan Caine menyebut bahwa B-52 telah mulai melakukan penerbangan di atas Teluk Iran. Menurut data Angkatan Udara AS, saat ini terdapat 58 unit B-52H aktif dan 18 unit cadangan.
Pengamat militer menilai kombinasi pengerahan pesawat tanker, pembom strategis, dan pesawat dukungan udara jarak dekat mengindikasikan persiapan untuk skenario operasi yang lebih luas, termasuk kemungkinan dukungan udara bagi pasukan darat AS.
Ribuan Marinir Siaga di Timur Tengah
Pemerintahan Trump diketahui telah mengerahkan tambahan Marinir AS ke Timur Tengah seiring konflik memasuki pekan kelima. Ribuan personel dari Divisi Lintas Udara ke-82 juga direncanakan dikirim ke kawasan.
Pada Sabtu, United States Central Command (CENTCOM) menyatakan sekitar 3.500 personel tiba di Timur Tengah menggunakan kapal serbu amfibi USS Tripoli. Mereka tergabung dalam Unit Ekspedisi Marinir ke-31 dan datang bersama pesawat angkut, pesawat tempur serang, serta aset taktis amfibi.
Pejabat yang berbicara kepada Washington Post menyebut diskusi internal selama sebulan terakhir mencakup kemungkinan perebutan Pulau Kharg—pusat ekspor minyak utama Iran di Teluk—serta serangan ke wilayah pesisir dekat Selat Hormuz untuk menghancurkan sistem senjata yang berpotensi menargetkan pelayaran komersial maupun militer.
Axios dan Wall Street Journal melaporkan bahwa Pentagon juga mempertimbangkan untuk mengirimkan 10.000 pasukan tambahan ke wilayah tersebut, bersamaan dengan kampanye pengeboman yang lebih luas.
Perkiraan durasi operasi yang dibahas bervariasi, dari "minggu, bukan bulan" hingga "beberapa bulan". Pentagon dan pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak serangan gabungan Israel dan AS terhadap Iran pada 28 Februari. Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menyasar sejumlah negara di kawasan, termasuk yang menampung aset militer AS.
Dalam konflik yang masih berlangsung, dilaporkan sedikitnya 13 prajurit AS tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.