Dikritik Ikut Angkat Korban Longsor Cisarua, Dedi Mulyadi Beri Penjelasan

Dikritik Ikut Angkat Korban Longsor Cisarua, Dedi Mulyadi Beri Penjelasan

 Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi kritik publik terkait kehadirannya di lokasi bencana longsor Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Kritik tersebut muncul setelah Dedi ikut terjun langsung membantu proses evakuasi korban longsor beberapa waktu lalu.

Dedi menilai kritik tersebut sebagai bentuk kontrol publik yang wajar dalam kehidupan demokrasi.

Ia bahkan menyampaikan apresiasi kepada pihak yang menyampaikan kritik secara terbuka, khususnya kalangan anak muda.

Bagaimana Dedi Mulyadi merespons kritik publik?

Menanggapi kritik tersebut, Dedi menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pihak yang mengingatkan peran seorang gubernur di lapangan.

Menurutnya, kritik itu sah dan menjadi pengingat bahwa setiap pihak memiliki tugas dan kewenangan masing-masing dalam penanganan bencana.

"Saya mengucapkan terima kasih pada anak muda yang mengkritik saya. Bahwa gubernur enggak usah ikut narik atau ngangkat korban longsor di Cisarua, Bandung Barat. Karena itu bukan tugas gubernur, itu tugas relawan atau BPBD," kata Dedi dikutip dari akun Instagram pribadinya dan telah dikonfirmasi ulang Kompas.com, Minggu (1/2/2026).

Meski demikian, Dedi menegaskan bahwa kehadiran seorang pemimpin di lokasi bencana memiliki makna yang tidak bisa diukur hanya dari aspek teknis pekerjaan.

Apa makna kehadiran pemimpin di lokasi bencana?

Menurut Dedi, kehadiran pemimpin di tengah situasi darurat dapat memberikan dorongan moral bagi para relawan, petugas, maupun warga terdampak. I

a menyebut, kehadiran tersebut kerap menghadirkan semangat tambahan bagi mereka yang bekerja di lapangan.

"Saya sampaikan, kadang kehadiran pemimpin di tengah mereka itu membawa spirit bagi mereka. Mereka cukup bahagia ketika saya hadir di sampingnya," katanya.

Dedi menilai, dalam kondisi bencana, aspek psikologis tidak kalah penting dibandingkan aspek teknis.

Dukungan moral dari pimpinan daerah diyakini dapat meningkatkan solidaritas dan semangat gotong royong.

Bagaimana proses evakuasi longsor di Cisarua berlangsung?

Seperti diketahui, proses evakuasi korban longsor di Desa Pasirlangu telah berlangsung hampir dua pekan sejak peristiwa terjadi pada Sabtu (24/1/2026).

Sejak hari pertama, pencarian dan evakuasi korban dilakukan oleh Tim SAR gabungan yang melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, serta relawan.

Pemerintah daerah juga ikut terlibat dalam upaya penanganan bencana tersebut. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut hadir langsung di lokasi untuk memantau sekaligus membantu proses evakuasi.

Pria yang akrab disapa KDM itu bahkan ikut membantu petugas di lapangan. Dalam beberapa kesempatan, Dedi terlihat berteriak meminta linggis untuk membantu mengevakuasi korban yang terjepit batu dan batang pohon.

Dengan bantuan petugas lainnya, korban yang terjepit tersebut akhirnya berhasil ditarik dan dibawa menggunakan ambulans untuk proses identifikasi lebih lanjut.

Aksi Dedi Mulyadi yang ikut terjun langsung mengevakuasi korban longsor tersebut kemudian menjadi sorotan publik.

Sejumlah pemuda menyampaikan kritik karena menilai keterlibatan gubernur secara langsung dalam evakuasi tidak diperlukan.

Menurut mereka, proses evakuasi sudah menjadi tugas Tim SAR, BPBD, serta relawan yang memiliki kompetensi dan keahlian khusus di bidang penanganan bencana. Keterlibatan pejabat dinilai berpotensi mengganggu alur kerja di lapangan.

Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dan Kompas.com dengan judul "Jawab Kritik soal Evakuasi Longsor, Dedi Mulyadi: Kehadiran Pemimpin Itu Spirit".

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang