Dedi Mulyadi: Kawasan Rawan Longsor di Cisarua Tidak Layak Jadi Permukiman

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, Dedi Mulyadi: Kawasan Rawan Longsor di Cisarua Tidak Layak Jadi Permukiman, Mengapa Lokasi Longsor Akan Dihutankan Kembali?, Bagaimana Alih Fungsi Lahan Memicu Longsor?, Apa Langkah Pemprov Jabar terhadap Warga Terdampak?, Bagaimana Proses Pencarian Korban Berlangsung?

 Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana menghutankan kembali lokasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), yang menelan puluhan korban jiwa.

Bencana longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari itu menerjang permukiman warga dan hamparan perkebunan sayur di kaki Gunung Burangrang.

Berdasarkan data sementara, tercatat 113 jiwa dari 34 kepala keluarga terdampak dalam peristiwa tersebut.

Rinciannya, 10 orang ditemukan meninggal dunia, 23 orang selamat, dan 81 korban lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa kawasan bekas longsor tidak lagi layak untuk dijadikan permukiman maupun lahan pertanian.

Ia menyatakan opsi reboisasi atau penghutanan kembali akan dilakukan sebagai bagian dari penataan ulang tata ruang di kawasan yang dinilai sudah sangat kritis.

Mengapa Lokasi Longsor Akan Dihutankan Kembali?

Dedi Mulyadi menilai kondisi lahan di kaki Gunung Burangrang sudah sangat mengkhawatirkan.

Kontur tanah yang labil ditambah dengan aktivitas perkebunan sayur secara masif di lereng gunung dinilai menjadi pemicu utama terjadinya longsor.

“Setelah ini warga di sekitar sini segera direlokasi dan ini dihutankan kembali,” ujar Dedi saat meninjau lokasi bencana.

Menurutnya, kawasan tersebut pada dasarnya merupakan wilayah hutan dengan vegetasi lebat.

Namun, alih fungsi lahan yang berlangsung dalam waktu lama telah mengubahnya menjadi area perkebunan sayur dan permukiman warga.

“Karena potensi untuk terjadi (longsor) lagi sangat tinggi dan di sekitar sini permukimannya sudah sangat mencemaskan,” kata Dedi.

Bagaimana Alih Fungsi Lahan Memicu Longsor?

Gubernur yang akrab disapa KDM itu secara terbuka menyoroti praktik alih fungsi lahan di kawasan lereng Gunung Burangrang.

Ia menyebut area dengan tingkat kemiringan tinggi seharusnya ditanami vegetasi hutan dengan sistem perakaran kuat, bukan tanaman sayuran.

“Bisa dilihat, ini daerah kemiringan yang seharusnya ini daerah hutan rimbun berubah menjadi perkebunan sayuran dan pakai plastik,” ungkapnya.

Penggunaan plastik dalam pola pertanian dinilai memperparah kondisi lingkungan karena menghambat fungsi resapan air.

Akibatnya, saat hujan deras mengguyur, air tidak terserap dengan baik dan memicu pergerakan tanah.

“Kalau lihat ini saya sudah bisa menebak (apa penyebabnya). Tanahnya subur jadi mudah lepas,” ujarnya.

Dedi menegaskan bahwa sejak awal penataan ruang di kawasan tersebut sudah keliru. Daerah dengan tingkat kemiringan tinggi tidak layak dijadikan kebun sayur dan seharusnya berfungsi sebagai kawasan lindung.

“Kita sudah salah dari awalnya. Daerah-daerah seperti ini tidak layak menjadi kebun sayur. Layaknya jadi hutan bambu,” tuturnya.

Apa Langkah Pemprov Jabar terhadap Warga Terdampak?

Selain rencana reboisasi, Pemprov Jawa Barat juga akan melakukan relokasi terhadap warga yang tinggal di kawasan rawan longsor.

Dedi menyebut relokasi menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko bencana serupa di masa mendatang.

“Daerah di sini dihutankan saja. Warga di sini direlokasi karena potensi longsor tinggi,” kata KDM.

Untuk sementara waktu, warga yang selamat diminta mengontrak rumah selama dua bulan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyalurkan bantuan sebesar Rp 10 juta per kepala keluarga untuk biaya sewa rumah dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Sementara itu, keluarga korban meninggal dunia akan menerima santunan sebesar Rp 25 juta per kepala keluarga.

Bagaimana Proses Pencarian Korban Berlangsung?

Saat ini, fokus utama pemerintah daerah dan tim gabungan masih tertuju pada pencarian korban yang diduga masih tertimbun material longsor. Proses pencarian dilakukan secara maksimal dengan melibatkan berbagai unsur.

“Fokus saya sekarang mengangkat jenazah dan setelah itu me-recovery lingkungan ini,” tandas Dedi.

Tim pencarian terdiri dari BPBD Jawa Barat, BPBD Kabupaten Bandung Barat, TNI, Basarnas, serta relawan. Proses evakuasi dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan mengingat kondisi tanah yang masih labil.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Barat mencatat, longsor yang terjadi sekitar pukul 02.30 WIB itu menyebabkan sedikitnya 30 rumah terdampak, dengan satu rumah mengalami kerusakan berat. Selain itu, sekitar 400 warga terpaksa dievakuasi ke lokasi yang lebih aman.

Berdasarkan data BPBD Jabar, korban meninggal dunia berasal dari Kampung Pasirkuning dan Pasirkuda, Desa Pasirlangu, sebanyak delapan orang, serta dua orang lainnya dari Kampung Sukadami, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang. Hingga kini, puluhan korban lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian.

Sebagian artikel ini telah tayang di dengan judul "Tinjau Longsor Cisarua Bandung Barat, Dedi Mulyadi: Ini Dihutankan Kembali".

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang