Cerita Haru Turis Singapura, Selamat dari Perang AS-Israel dan Iran

Cerita Haru Turis Singapura, Selamat dari Perang AS-Israel dan Iran

Ribuan penerbangan gagal berangkat, banyak turis akhirnya terjebak di Timur Tengah selama konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran memanas pada akhir Februari 2026.

Turis dari berbagai dunia tidak punya pilihan selama berhari-hari. Seluruh maskapai penerbangan memmilih membatalkan penerbangan, tanpa tahu kapan situasi mulai kondusif.

Hampir seminggu berlalu, turis-turis asal Singapura akhirnya tiba dari Dubai usai konflik AS-Iran mereda. Mereka tiba dengan selamat menggunakan penerbangan pertama Dubai-Singapura via pesawat Emirates pada Kamis (5/3/2026).

"Saya bahkan tidak tahu penerbangan saat itu dibatalkan. Saya baru saja tiba (di bandara). Jadi agak menegangkan," kata Carl Rajoo, salah satu penumpang Emirates rute Dubai-Singapura.

Rajoo, seperti dikutip Channel News Asia pada Kamis (5/3/2026), seharusnya kembali ke Singapura pada Sabtu (28/2/2026), tepat di hari konflik antar-negara tersebut sedang memanas.

Kepulangannya setelah perjalanan bisnis di Dubai ditolak karena situasi menegangkan, mengharuskan penerbangannya ditunda.

Ekonom berusia 43 tahun itu lantas memesan kamar hotel terdekat dan segera mengabari perusahan tempatnya bekerja. Pada akhirnya, ia berhasil dicarikan penerbangan pulang untuk Rajoo setelah empat hari tertahan di Dubai.

Penerbangan Rajoo mulanya dijadwalkan ulang pada Rabu (4/3/2026) pukul 02.30 waktu Dubai, namun dibatalkan, lalu berhasil mendapatkan penerbangan berikutnya pukul 21.00 waktu Dubai.

Cerita Haru Turis Singapura, Selamat dari Perang AS-Israel dan Iran

Ilustrasi pesawat EmiratesPesawat Emirates EK314 itu mendarat di Bandara Changi Singapura sekitar pukul 08.15 waktu Singapura pada keesokan harinya, Kamis (5/3/2026).

Meski konflik berlanjut, Rajoo mengakut tidak begitu khawatir selama penerbangan. Ia percaya betul bahwa saat bandara di Dubai membuka wilayah udara, artinya situasi sekitar dinyatakan cukup aman.

"Mereka tidak akan membukanya begitu saja ketika ada rudal yang terbang di atas kepala. Satu-satunya kekhawatiran saya di awal-awal adalah ketika ada lebih banyak peringatan rudal dan lebih banyak ledakan di udara,” sambung Rajoo.

Ketibaan Rajoo membawa kelegaan bagi keluarganya, termasuk orangtua dan istri yang menunggu di Rajoo tiba di Bandara Changi.

“Kami sangat, sangat gembira, sangat bahagia. Sangat bersyukur. Kami berdoa setiap hari,” kata ibu dari Rajoo, Ooi.

Sang ibu menambahkan, dirinya sempat merasa terpukul ketika mengetahui bahwa sang anak tidak bisa menaiki pesawat sesuai jadwal keberangkatan semula.

Lin, istri Rajoo, mengungkapkan bahwa perusahaan suaminya dan Kementerian Luar Negeri Singapura sangat membantu proses kepulangan sang suami.

Namun, ia belum ingin terlalu berharap, bahkan ketika mendengar bahwa dia akan pulang dengan pesawat.

“Bahkan sampai hari in, kami tidak berani terlalu berharap,” kata Lin, karena khawatir penerbangan itu akan dibatalkan lagi.

Sejak konflik AS-Iran memanas, Kementerian Luar Negeri Singapura dan misi diplomatiknya di Timur Tengah telah meminta warga Singapura yang terjebak di wilayah tersebut untuk menyatakan suara mereka terhadap bantuan kepulangan melalui survei daring .

Kementerian tersebut juga menyarankan seluruh warga Singapura untuk menunda perjalanan ke Timur Tengah sementara waktu.

Kisah lain

Cerita mengharukan juga datang dari konsulat jenderal kehormatan Malta di Singapura, Ashok K Batura, bersama sang istri, Sarita Batura.

Mereka bertemu kembali dengan putri dan dua cucu perempuan di Singapura, yang telah menyiapkan papan ucapan selamat datang, demi menyambut kepulangan Ashok dan istri.

Sarita meneteskan air mata saat memeluk putrinya. Dia mengatakan bahwa setiap hari merasa khawatir apakah dia akan berhasil kembali ke rumah.

Pasangan itu terbang ke Malta pada akhir Februari 2026 untuk perjalanan dinas dan transit di Dubai. Mereka seharusnya tiba di Singapura pada Sabtu (28/2/2026) lalu.

Namun, mereka menerima email yang memberitahukan bahwa penerbangan tersebut dibatalkan, tetapi tiket mereka masih berlaku.

Keduanya sempat memesan ulang penerbangan ke Singapura, tapi tetap gagal mendapatkan jadwal penerbangan terdekat.

Rekannya di Singapura juga membantu Ashok dengan mendatangi kantor Emirates untuk memesan ulang penerbangan tersebut. Sayangnya, saat itu, situasi di Dubai sangat kacau.

"Tidak ada yang bisa menghubungi Emirates," kata Ashok.

Meskipun senang akhirnya bisa kembali ke rumah, pasangan itu masih merasa cemas selama penerbangan.

Sarita mengatakan dia terus melantunkan doanya dan baru merasa lega setelah pesawat terbang keluar dari wilayah Teluk.

"Saat Anda terbang keluar, hampir sebagai penerbangan pertama keluar dari zona perang, Anda tidak tahu apakah Anda akan sampai di rumah atau tidak. Apa pun bisa terjadi pada pesawat itu," ujar Ashok.

Jalan lain

Pada hari yang sama, Kamis (5/3/2026) pagi waktu Singapura, CNA juga mengabarkan situasi sejumlah penumpang yang melakukan check-in untuk penerbangan Emirates ke Dubai dengan jadwal keberangkatan pukul 10.30 pagi.

Sementara itu, dikutip dari The Straits Times, lima penerbangan lain yang dijadwalkan tiba di Bandara Changi dari Doha dan Qatar pada 5 Maret 2026 dibatalkan. Kode penerbangan tersebut adalah QR942, QR048, QR944, EK348, dan EK354.

Beberapa warga Singapura di Timur Tengah, seperti Muhammad Hafiz Noorahman (44) tahun, akhirnya kembali ke Singapura via perjalanan darat, setelah melakukan pekerjaan sukarela sejak 26 Februari 2026.

Hafiz dijadwalkan pulang ke Israel dari Tel Aviv pada 4 Maret 2026, tetapi bandara di sana masih ditutup sementara karena perang yang sedang berlangsung.

Pada 3 Maret 2026, Hafiz dan dua rekannya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Amman di Yordania melalui pos pemeriksaan darat, setelah diberi tahu oleh Kementerian Luar Negeri Singapura bahwa itu adalah pilihan teraman.

Perjalanan darat memakan waktu sekitar empat jam, dilanjutkan dengan penerbangan selama 3,5 jam ke Istanbul, Turki.

Setelah transit yang cukup lama, ia akhirnya kembali ke Singapura setelah penerbangan Turkish Airlines selama 10 jam, lalu bertemu kembali dengan istri dan putranya di Bandara Changi dengan penuh haru.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang