Cerita Warga Korban Longsor Cisarua Bandung Barat: Longsor Terjadi 2 Kali Saat Dini Hari
Bencana tanah longsor yang melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, menyisakan duka mendalam bagi para warga yang terdampak.
Longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari tersebut tidak hanya merusak permukiman, tetapi juga memaksa ratusan warga meninggalkan rumah dan kehilangan anggota keluarga.
Salah satu pengungsi, Wawa (40), warga Kampung Pasir Kuda RW 10, mengungkapkan kesedihannya atas peristiwa yang dialaminya.
Rumah Wawa berada di bagian atas area longsor yang mengalami dampak paling parah. Ia menyebutkan, hingga kini jumlah pengungsi diperkirakan telah melebihi 100 orang.
Menurut Wawa, bantuan kebutuhan makan yang diterima pengungsi masih sangat terbatas. Hingga saat ini, bantuan makanan berat baru diterima satu kali, ditambah makanan ringan yang dibagikan pada siang hari. Kondisi tersebut membuat para pengungsi harus berhemat sambil menunggu bantuan lanjutan.
Bagaimana kronologi longsor terjadi?
Wawa menuturkan bahwa longsor terjadi sebanyak dua kali dalam waktu yang berdekatan. Longsor kedua disebut sebagai yang paling besar dan paling merusak.
“Longsornya terjadi dua kali. Yang paling besar itu di kejadian kedua, sekitar pukul 02.30 WIB,” ujar Wawa saat ditemui di lokasi pengungsian dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan, kawasan di atas tempat tinggalnya mengalami kerusakan paling parah. Banyak rumah warga hilang dan rata dengan tanah akibat tertimbun material longsor. Beberapa di antaranya merupakan rumah yang dihuni oleh keluarga jauhnya.
“Anggota keluarga saya yang hilang ada lebih dari 10 orang. Sampai sekarang belum diketahui keberadaannya,” katanya dengan suara bergetar.
Di bagian bawah lokasi longsor, sejumlah rumah juga mengalami kerusakan cukup serius. Suasana mencekam dirasakan warga saat longsor kedua terjadi pada dini hari.
“Waktu dengar gemuruh yang kedua, banyak yang menjerit. Saya langsung kabur menyelamatkan diri,” ungkapnya.
Ia bersama warga lainnya akhirnya berhasil mengungsi ke desa sekitar pada pukul 05.00 WIB untuk mencari lokasi yang lebih aman dari potensi longsor susulan.
Apa kebutuhan mendesak para pengungsi?
Selain kehilangan tempat tinggal dan anggota keluarga, para pengungsi kini dihadapkan pada keterbatasan kebutuhan dasar.
Wawa menyebutkan bahwa perlengkapan bayi menjadi kebutuhan yang paling mendesak saat ini.
Kebutuhan tersebut meliputi pakaian bayi, popok sekali pakai, serta perlengkapan dasar lainnya yang sangat krusial bagi bayi dan balita di lokasi pengungsian.
“Kalau untuk orang dewasa, kebutuhan utamanya alat mandi, makanan, dan penghangat badan seperti selimut, matras, serta jaket,” jelasnya.
Para pengungsi berharap adanya perhatian lebih dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun lembaga kemanusiaan, agar kebutuhan dasar dapat segera terpenuhi. Selain itu, mereka juga berharap proses pencarian korban hilang dapat dilakukan secara maksimal dan cepat.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Barat, Bambang Imanudin, menyampaikan bahwa pihaknya akan berupaya memenuhi kebutuhan paling mendesak bagi warga terdampak longsor.
“Kami akan memenuhi bantuan yang paling dibutuhkan warga saat ini, seperti matras, selimut, dan sembako karena mereka masih berada di lokasi pengungsian,” jelas Bambang.
Ia juga berharap seluruh kebutuhan logistik pengungsi dapat tercukupi dengan baik, termasuk bantuan yang mulai berdatangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan berbagai pihak lainnya.
Sementara itu, hingga saat ini Tim Gabungan masih terus melakukan upaya pencarian terhadap korban yang dilaporkan hilang.
Berdasarkan data sementara, jumlah korban hilang diperkirakan mencapai 82 jiwa. Proses pencarian terus dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan petugas di tengah kondisi cuaca dan medan yang masih rawan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang