PVMBG Beberkan Penyebab Longsor Besar Cisarua: Lereng Curam hingga Batuan Lapuk
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan peristiwa longsor yang terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, merupakan bencana pergerakan tanah yang dipicu oleh curah hujan tinggi dengan intensitas ekstrem.
Fenomena tersebut terjadi dalam kondisi morfologi dan geologi yang memang rentan, sehingga hujan lebat menjadi pemicu utama terjadinya kegagalan lereng.
Plh Kepala PVMBG, Edi Slameto, menjelaskan bahwa berdasarkan resume tim tanggap darurat, terdapat sejumlah faktor pengontrol utama yang berperan dalam pergerakan tanah di lokasi tersebut.
Faktor-faktor itu meliputi kondisi morfologi lereng yang curam, geologi berupa batuan gunung api tua yang telah mengalami pelapukan lanjut, kondisi hidrologi atau keairan, penggunaan lahan, serta keberadaan struktur geologi berupa rekahan dan sesar.
“Faktor pemicu utama adalah curah hujan tinggi,” ujar Edi saat jumpa pers di Kantor PVMBG, Jumat (30/1/2026).
Apa yang Terjadi Saat Hujan Ekstrem Melanda?
Menurut Edi, hujan dengan intensitas ekstrem yang mencapai lebih dari 220 milimeter per hari menyebabkan peningkatan tekanan air pori di dalam tanah.
Kondisi ini berdampak pada penurunan kuat geser tanah hingga akhirnya memicu kegagalan lereng.
“Terjadi peningkatan tekanan air pori, penurunan kuat geser tanah, dan kegagalan lereng akibat hujan dengan intensitas ekstrem,” katanya.
Ia menjelaskan, gerakan tanah berkembang ketika material longsoran bercampur dengan air, lalu membentuk aliran bahan rombakan atau debris.
Aliran ini bergerak mengikuti lembah dan kemudian menyebar pada area landai di bagian bawah lereng.
Pada kondisi jenuh karena berada di area lembah, residu tanah hasil pelapukan tebal dari endapan piroklastik tua Gunung Burangrang kehilangan kekuatan gesernya. Akibatnya, material tersebut berubah menjadi massa yang mudah mengalir.
“Tingkat pelapukan yang tinggi menyebabkan penurunan kuat geser tanah dan batuan, sehingga lereng menjadi rentan terhadap kegagalan,” ucap Edi.
LONGSOR CISARUA: Foto udara kondisi lahan pertanian dan rumah warga yang terdampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (26/1/2026). Berdasarkan data tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat hingga Senin (26/1) pukul 16.57 WIB, jumlah korban bencana tanah longsor yang berhasil ditemukan sebanyak 34 jenazah dan 20 diantaranya telah berhasil diidentifikasi.
Mengapa Longsor Disebut Terjadi karena Faktor Multifaktor?
Selain hujan, Edi menegaskan bahwa longsor di Cisarua tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal.
Ia menyebutkan bahwa peristiwa ini merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor yang saling berkaitan.
“Penyebab longsor Cisarua ini multifaktor, tidak ada faktor tunggal di sini. Batuan yang sudah lapuk, lereng curam, curah hujan tinggi, dan tata guna lahan, itu yang menyebabkan semua ini terjadi,” ujarnya.
Menurut Edi, jika salah satu dari faktor tersebut tidak terpenuhi, maka potensi terjadinya longsor akan jauh berkurang.
“Misal batuan lapuk, lereng curam, tata guna lahan tidak tepat, tapi tidak ada hujan terus menerus, tidak terjadi longsor. Kalaupun longsor, ya sedikit-sedikit,” katanya.
Seperti Apa Kondisi Morfologi dan Geologi Lokasi Bencana?
Berdasarkan catatan PVMBG, lokasi bencana berada di kawasan pegunungan vulkanik tua. Kondisi morfologi lereng bagian atas atau mahkota tergolong sangat curam dengan kemiringan mencapai 35 hingga 55 derajat.
Sementara itu, bagian tengah dan bawah lereng memiliki kemiringan yang lebih landai, yakni sekitar 8 hingga 16 derajat.
Edi mengungkapkan bahwa longsor pertama terjadi di tebing mahkota Gunung Burangrang pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Longsoran tersebut memiliki tinggi sekitar 80 meter dengan lebar kurang lebih 40 meter.
“Pada bagian hulu terlihat jejak tebing sangat curam yang terbentuk karena terjadinya longsoran akibat ketidakstabilan lereng, setelah batuan dan tanah di bawahnya tergerus kuat aliran air sehingga meninggalkan lembah berundak yang berbentuk V,” katanya.
Panjang Longsoran Capai 3,7 Kilometer
Akibat penyempitan lembah, aliran material longsoran menjadi tertahan dan membentuk energi aliran yang sangat kuat. Dampaknya, panjang longsoran yang teridentifikasi mencapai sekitar 3,7 kilometer.
“Panjang aliran bagian atas lereng mencapai 1,7 kilometer dan teridentifikasi beberapa zona hutan yang tergerus oleh aliran debris. Bagian bawah sekitar 2 kilometer yang sebagian besar merupakan lahan pertanian dan permukiman,” ujar Edi.
Apakah Masih Ada Potensi Longsor Susulan?
PVMBG mencatat bahwa potensi longsor susulan masih ada. Hal ini tercantum dalam peta zona kerentanan gerakan tanah (ZKGT) yang menunjukkan Kecamatan Cisarua berada pada tingkat kerentanan menengah hingga tinggi.
“Masih berpotensi terjadi pergerakan tanah susulan, masih berpotensi artinya belum pasti. Tapi tanda-tandanya semuanya ada, komponennya ada, parameter-parameter untuk terjadinya longsor susulan semuanya ada,” ujar Edi.
Selain gerakan tanah, banjir bandang juga berpotensi terjadi di wilayah tersebut, terutama jika curah hujan kembali turun di atas normal.
“Kita khawatir. Tugas kami memberikan peringatan,” katanya.
Edi menegaskan bahwa kondisi morfologi dan geologi di wilayah tersebut membuat potensi gerakan tanah dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Bukan hanya Pasirlangu, lembah-lembah lain dengan karakteristik morfologi dan geologi serupa memiliki potensi kejadian yang sama,” katanya.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul PVMBG Ingatkan Soal Potensi Longsor Susulan di Pasirlangu Cisarua.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang