Ekonom Sepakat BI Perlu Tahan Suku Bunga Acuan di 4,75 Persen

Gedung Bank Indonesia
Gedung Bank Indonesia

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro menilai, Bank Indonesia (BI) perlu menahan BI-Rate pada level 4,75 persen, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Desember 2025 yang akan diumumkan hasilnya Rabu siang, 17 Desember 2025. Hal itu mengingat nilai tukar rupiah masih bergerak fluktuatif hingga sideways.

“Risiko capital outflow dan pelemahan rupiah masih cukup besar. BI akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar di samping juga konsisten mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Andry sebagaimana dikutip Antara, Rabu, 17 Desember 2025.

Hal senada juga diutarakan oleh Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, yang menilai bahwa bank sentral perlu terus menjaga fokusnya pada stabilisasi rupiah dan melakukan intervensi apabila diperlukan.

Ilustrasi suku bunga.

"Sehingga langkah penahanan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI-Rate dinilai tepat," kata Riefky.

Dia mencatat kombinasi dari pemotongan Fed Funds Rate (FFR) memberikan sentimen positif yang memicu terjadinya arus modal asing masuk ke Indonesia dalam beberapa minggu terakhir. Sejak 19 November 2025, Indonesia mengalami arus modal masuk sebesar US$0,37 miliar di instrumen surat berharga dan US$0,38 miliar di pasar saham domestik.

"Sehingga secara kumulatif Indonesia mengalami arus modal asing masuk mencapai 0,75 miliar dolar AS hingga 12 Desember lalu," ujar Riefky.

Berkat arus modal asing ke Indonesia, rupiah menguat sebesar 0,11 persen secara month-to-month (mtm) selama 30 hari terakhir dan berada pada level Rp16.652 per dolar AS pada 15 Desember 2025 lalu.

Namun, lanjut Riefky, rupiah masih pada zona pelemahan terhitung sejak awal tahun ini. Secara year-to-date (ytd), rupiah telah melemah sebesar 3,6 persen (ytd). Selama 2025, rupiah hanya memiliki performa yang lebih baik ketimbang rupee India, lira Turki, dan peso Argentia.

“Walaupun rupiah cenderung menguat dalam beberapa minggu belakangan, pergerakan nilai tukar masih cenderung fluktuatif dan masih adanya ruang untuk stabilisasi rupiah lebih lanjut,” ujarnya.