Bukan Hukuman, Pandji Pragiwaksono Harus Kasih Sumbangan ke Masyarakat Toraja?

Pandji Pragiwaksono
Pandji Pragiwaksono

 Komika Pandji Pragiwaksono akhirnya memberikan klarifikasi terkait isu sanksi adat yang sempat menghebohkan publik. Nama Pandji ramai diperbincangkan setelah potongan lawakannya dinilai menyinggung masyarakat Toraja. 

Beredar kabar bahwa ia dijatuhi denda fantastis berupa Rp2 miliar serta 96 ekor hewan. Menanggapi rumor tersebut, Pandji menegaskan bahwa informasi yang beredar tidak sesuai fakta dan proses penyelesaiannya masih berlangsung. Scroll lebih lanjut yuk!

Ia menyampaikan bahwa saat ini dirinya tengah menempuh jalur dialog yang dimediasi oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

"Seperti yang saya sampaikan di Instagram, permohonan maaf sudah diberikan. Saya sadar bahwa saya ignorant dalam penulisan joke, tidak bermaksud menyinggung masyarakat Toraja dan untuk itu saya meminta maaf kepada masyarakat Toraja yang tersinggung," ujar Pandji Pragiwaksono di Kawasan Wijaya, Jakarta Selatan, Kamis 13 November 2025.

Menurut Pandji, komunikasi intens telah dilakukan dengan salah satu tokoh representatif masyarakat Toraja, yakni Sekretaris Jenderal AMAN, Rukka Sombolinggi.

"Saat ini dialog sudah dilakukan dengan teman-teman di AMAN, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara. Ibu Sekjennya Bu Rukka Sombolinggi," jelasnya.

Ia menambahkan, berdasarkan penjelasan Rukka, sanksi adat tidak bisa diputuskan sepihak sebelum ada dialog bersama perwakilan dari 32 wilayah adat Toraja. Karena itu, informasi mengenai kewajiban menyerahkan 96 hewan dan uang miliaran rupiah dinilai tidak sesuai mekanisme adat.

"Menurut beliau sebenarnya kurang tepat soal diharuskan memberikan 96 satwa dan uang sebesar itu, karena dialognya harus dilakukan bersama dengan perwakilan 32 wilayah adat Toraja. Jadi kalau dialognya belum ada, sebenarnya hukumannya juga belum ada," kata Pandji.

Pandji juga mengaku mendapat pemahaman baru mengenai cara masyarakat Toraja menyelesaikan suatu persoalan. Menurutnya, tradisi adat setempat tidak selalu mengarah pada hukuman yang bersifat menghukum, melainkan mencari titik damai melalui simbolisasi niat baik.

"Kalau menurut Ibu Rukka dan banyak teman-teman Toraja, sebenarnya masyarakat Toraja itu tidak memberi hukuman. Bahwa nanti mungkin ada sumbangan yang diberikan, itu kayaknya lebih kepada inisiatif baik yang saya ingin berikan untuk simbolisasi bahwa saya ingin hubungan ini berjalan dengan baik," tuturnya.

Komunikasi dengan wilayah adat Toraja disebut sudah berjalan melalui Rukka yang menjadi penghubung utama.

"Ibu Rukka Sombolinggi itu dari masyarakat Toraja dan Ibu Rukka itu yang dialog, kontak-kontakan sama masyarakat wilayah adat di sana. Jadi, memang sudah ada komunikasinya. Ya, saya ikut sama Ibu Rukka saja," imbuhnya.

Terkait status sanksi yang ramai di media sosial, Pandji menegaskan bahwa kabar tersebut bukan hanya belum final, tetapi sepenuhnya tidak akurat.

"Bukan hanya belum final, kalau menurut Ibu Rukka Sombolinggi dan ini bisa dicek, tidak akurat. Bukan belum final, tidak akurat," pungkasnya.

Dengan proses dialog yang masih berjalan, Pandji berharap persoalan ini dapat selesai dengan cara yang baik, sekaligus menjadi pembelajaran untuk lebih sensitif dalam berkarya.