Waspada! Ini Risiko Penyakit yang Kerap Muncul saat Puasa dan Cara Mencegahnya

Ilustrasi sakit anemia
Ilustrasi sakit anemia

 Bulan Ramadhan menjadi momen istimewa bagi umat Muslim untuk meningkatkan ibadah, termasuk menjalankan puasa. Namun, perubahan pola makan dan waktu aktivitas bisa memengaruhi kondisi tubuh. Jika tidak diimbangi dengan asupan gizi dan cairan yang tepat, puasa dapat memicu beberapa risiko kesehatan.

Menurut dr. Risky Dwi Rahayu, Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dari RS Pondok Indah, ada sejumlah kondisi yang kerap terjadi saat seseorang tidak mengatur pola makan dan hidrasi dengan baik selama berpuasa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

1. Dehidrasi

Salah satu risiko kesehatan yang paling sering terjadi adalah dehidrasi. Kurangnya asupan cairan dari waktu sahur hingga berbuka membuat tubuh kekurangan cairan, terlebih jika aktivitas padat atau cuaca sedang panas. Dehidrasi sering kali tidak langsung terasa di awal puasa. Gejalanya justru muncul menjelang waktu berbuka.

“Dehidrasi ini biasanya nggak kita rasakan karena umumnya itu tubuh kita itu kan mempunyai cara untuk bertahan dalam kondisi yang kurang. Nah, umumnya dehidrasi ini dirasakan sebagai gejala lemas pada waktu akhir-akhir menjelang buka puasa,” ujar dr. Risky saat wawancara daring dengan media pada Rabu, 18 Februari 2026. 

Selain tubuh terasa lemas, kemampuan konsentrasi juga bisa menurun. Kondisi ini terjadi karena kadar gula darah ikut turun menjelang waktu berbuka, sehingga tubuh dan otak kekurangan energi.

2. Cedera saat Berolahraga

Puasa bukan alasan untuk berhenti berolahraga. Namun, waktu dan intensitas latihan harus diperhatikan. Jika olahraga dilakukan dalam kondisi dehidrasi dan tanpa perhitungan yang tepat, risiko cedera bisa meningkat.

“Kalau misalkan pada waktu puasa itu berolahraga, tapi juga waktu olahraganya itu tidak pas gitu ya dan dibarengin dengan kondisi yang tadi yang dehidrasi, ya itu menjadi akumulasi ya. Jjadi timbul nanti cedera olahraga itu bisa jadi muncul,” ujarnya lagi. 

Karena itu, olahraga sebaiknya dilakukan mendekati waktu berbuka atau setelah berbuka dengan intensitas ringan hingga sedang.

3. Penurunan Massa Otot

Risiko lain yang jarang disadari adalah berkurangnya massa otot, terutama jika asupan protein kurang dan olahraga dilakukan terlalu berat.

“Kalau misalkan olahraganya tidak pas intensitasnya, kemudian durasinya, maka tidak cuma lemak, tapi protein dari otot itu juga ikut dimetabolisme, ikut dihancurkan,” terang dr. Risky. 

Artinya, tubuh tidak hanya membakar lemak, tetapi juga protein dari otot sebagai sumber energi. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat tubuh justru kehilangan massa otot dan terasa lebih lemah.

Cara Mencegah Risiko Kesehatan saat Puasa

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Agar tetap sehat selama Ramadan, pastikan kebutuhan cairan terpenuhi sekitar dua liter per hari yang dibagi antara berbuka, setelah tarawih, dan saat sahur. Selain itu, konsumsi makanan seimbang yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta serat.

Pilih waktu olahraga yang tepat dan hindari aktivitas fisik berat saat tubuh sedang kekurangan cairan. Dengan pola makan dan gaya hidup yang teratur, puasa justru bisa menjadi momen untuk memperbaiki kesehatan, bukan sebaliknya.