Cara Ringgo Agus Ajarkan Anak Puasa Ramadan
Mengajarkan anak berpuasa sering menjadi tantangan bagi sebagian orangtua. Namun, aktor Ringgo Agus Rahman dan istrinya, Sabai Dieter Morscheck, memilih mengenalkan puasa kepada anak secara bertahap dan dengan cara yang menyenangkan.
Ringgo mengatakan bahwa setiap keluarga memiliki cara masing-masing dalam mengenalkan puasa kepada anak. Bagi dirinya dan Sabai, pengalaman Ramadan justru dibuat menarik agar anak merasa antusias.
“Semua keluarga pasti punya cara masing-masing. Kebetulan kalau kami mengenalkan sesuatu dengan fun,” ujar Ringgo dalam acara media gathering #MainBarengBangunSilaturahmi di Bintaro Jaya Xchange Mall 1, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, salah satu pengalaman yang menarik bagi anak adalah momen sahur. Bagi anak-anak, bangun di waktu sahur bisa menjadi pengalaman baru karena suasananya terasa seperti malam meskipun sebenarnya sudah mendekati pagi.
“Misalnya sahur itu pertama kalinya kamu melihat suasana seperti malam, padahal bukan malam karena kita bisa melihat sunrise,” katanya.
Selain itu, suasana sahur juga dibuat menyenangkan dengan menyiapkan berbagai makanan di meja makan sehingga anak merasa lebih semangat untuk ikut bangun.
Mulai dari puasa setengah hari
Sabai mengatakan bahwa anak pertama mereka, Bjorka (10), juga mulai belajar puasa secara bertahap.
Pada awalnya, Bjorka hanya diminta mencoba puasa setengah hari terlebih dahulu sambil ikut bangun sahur bersama keluarga.
“Awalnya Bjorka itu dulu memang setengah hari dulu, ikut bangun sahur dulu,” kata Sabai.
Ia bahkan mengingat momen lucu ketika Bjorka pertama kali mencoba bangun sahur. Menurut Sabai, saat itu Bjorka masih sangat mengantuk hingga makan sambil memejamkan mata.
“Dulu awal-awal ikut bangun sahur itu ngunyahnya sambil merem,” ujarnya.
Meski begitu, Ringgo dan Sabai tidak memaksa anak untuk langsung berpuasa penuh. Mereka membiarkan anak mencoba puasa sesuai dengan kemampuan dan kekuatannya terlebih dahulu.
Anak merasa bangga saat bisa puasa penuh
Seiring waktu, Bjorka mulai terbiasa menjalani puasa dan akhirnya mampu berpuasa hingga seharian penuh.
Sabai mengatakan bahwa momen ketika anak berhasil menyelesaikan puasa penuh menjadi pengalaman yang membanggakan bagi keluarga.
“Tahu-tahu dia kuat full satu hari, kita langsung tepuk tangan,” ujarnya.
Ringgo menambahkan bahwa rasa bangga tersebut biasanya muncul ketika anak mulai beranjak ke usia sekolah dasar.
Pada usia tersebut, anak biasanya mulai merasa senang ketika berhasil menyelesaikan puasa hingga waktu berbuka.
“Awalnya dari setengah hari sekuatnya dulu, lama-lama punya kebanggaan waktu mulai SD kalau bisa full,” kata Ringgo.
Dukungan lingkungan juga penting
Selain peran keluarga, Ringgo juga menilai dukungan lingkungan turut membantu anak dalam belajar berpuasa.
Menurut pria berusia 43 tahun ini, lingkungan seperti sekolah dan teman sebaya juga dapat memengaruhi semangat anak menjalani puasa.
“Support system juga penting, misalnya sekolah dan teman-temannya juga punya budaya buka puasa atau sama-sama menahan puasa bareng,” jelasnya.
Ia juga mengatakan bahwa suasana Ramadan di lingkungan sekitar, seperti melihat penjual takjil di sore hari, turut menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi anak.
“Sore-sore jalan-jalan lihat takjil,” ujarnya.
Dengan suasana Ramadan yang menyenangkan dan dukungan lingkungan sekitar, anak dapat lebih mudah beradaptasi dalam menjalani puasa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang