Epidemiolog Ungkap Risiko Penyakit yang Mengintai Pasca Banjir
Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Sumatera pada akhir November lalu bukan hanya menimbulkan kerusakan. Banjir dan tanah longsor juga bisa meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit.
Disebut oleh Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman biasanya penyakit pasca banjir akan muncul 3 hingga 14 hari pertama, atau bahkan bisa lebih cepat.
”Banjir bukan hanya membawa air tapi juga ada kotoran manusia, kotoran hewan, ada limbah rumah tangga, ada bangkai hewan, ada lumpur yang tercemar, ada bakteri, virus, parasit. Dan secara medis artinya itu semua akan berpengaruh dan penyakit pasca banjir. Paling sering muncul dalam 3 sampai 14 hari pertama. Bahkan bisa lebih cepat,” kata dia saat dihubungi VIVA.co.id, Selasa 9 Desember 2025.
Beberapa penyakit yang membayang-bayangi korban banjir Sumatera antara lain adalah penyakit saluran cerna akibat air dan makanan yang tercemar. Disebutnya penyakit ini paling sering dialami bahkan memiliki risiko kefatalan berupa kematian jika terlambat ditangani.
”Penyakit saluran cerna atau pencenaan akibat air dan makanan yang tercemar. Itu bisa dalam bentuk penyakit diare akut ya, bahkan typhoid ya. Meskipun sudah jarang kolera juga masih bisa dimungkinkan muncul termasuk hepatitis,” kata dia.
Selain itu, juga yang patut diwaspadai adalah dehidrasi berat di tengah keterbatasan cairan, misalnya intaravena. Disebutnya masalah ini bisa menyebabkan fatalitas terutama pada kelompok bayi dan lansia.
Kedua, penyakit yang juga membayang-bayangi korban banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera adalah leptospirosis. Diungkap Dicky penyakit ini juga bisa mengancam para korban banjir. Hal ini terjadi karena banjir membuat paparan manusia terhadap air kencing tikus semakin luas.
”Leptospirosis ini masuknya itu adanya luka kecil di kulit, di area banjir, kemudian kena mata atau mulut. Nah ini yang bisa juga fatal ya dan terjadi gagal ginjal juga bisa terjadi,” kata dia.
Korban banjir juga dibayang-bayangi dengan penyakit kulit seperti gatal-gatal, jamuran, infeksi bernanah atau keluhan kulit lainnya. Hal ini terjadi karena kulit terus terendam banjir yang tercemar kotoran.
Tak sampai di situ, korban banjir yang mengungsi juga rentan mengalami masalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut. Hal ini terjadi karena kepadatan di area pengungsian dan minimnya sirkulasi udara di sana.
”Karena lembabnya, karena kedinginan, karena kepadatan pengungsian, ventilasi sirkulasi yang buruk,” kata dia.
Dicky juga mengingatkan pemerintah tentang risiko penyakit lainnya yang mungkin terjadi pada korban banjir. Beberapa risikonya adalah demam berdarah dan malaria yang biasanya muncul setelah banjir surut.
”Karena banyak gendangan dan ini ada sarang nyemuk. Ini yang akan juga menjadi potensi wabah,” kata dia.
Terakhir kata Dicky masalah kesehatan yang berisiko dialami oleh korban bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera adalah tetanus. Tetanus adalah infeksi bakteri serius yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani, yang memengaruhi sistem saraf pusat dan menyebabkan kejang otot yang menyakitkan (terutama otot rahang atau "lockjaw") serta kekakuan di seluruh tubuh, bahkan bisa mengganggu pernapasan.
”Terakhir ya hati-hati terhadap juga kejadian tetanus. Penyakit tetanus ini terjadi jika ada luka terbuka, terkena lumpur dan kotoran, apalagi ada misalnya dari serpihan atau potongan kayu misalnya, ataupun karat, paku berkarat dan sebagainya ini yang harus dihindari, luka harus dibersihkan, dan sutik vaksin anti tetanus,” kata dia.